- REUTERS/Henry Romero
Piala Dunia 2026 Belum Mulai tapi 'Dukun' Joachim Klement Sudah Tahu Siapa Juaranya
Jakarta, tvOnenews.com – Pesta olahraga sepakbola terbesar, Piala Dunia 2026, dalam 36 jam lagi akan segera dimulai.
Mengutip situs resmi Fédération Internationale de Football Association (FIFA), Piala Dunia 2026 memiliki 3 tuan rumah, yakni Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko.
Total negara yang berpartisipasi mencapai 48, lebih banyak dibanding Piala Dunia 2022 yang hanya 32 negara. Ke-48 negara di Piala Dunia 2026 dibagi menjadi 12 grup yang masing-masing beranggotakan 4 negara.
Panggung Piala Dunia 2026 sedianya akan dibuka pada Jumat dini hari, 12 Juni pukul 02.00, mempertemukan Meksiko dengan Afrika Selatan.
Selang beberapa jam, giliran Korea Selatan yang diperkuat Son Heung-Min hingga Kim Min-Jae beradu taji dengan Ceko.
Meski begitu, ekonom ini sudah memprediksi tim nasional atau timnas mana yang akan mengangkat trofi Piala Dunia 2026.
Joachim Klement, matematikawan asal Jerman, menyebut Belanda akan menjadi juara turnamen sepakbola sejagat empat tahunan tersebut untuk pertama kali.
Ekonom yang bekerja di bank investasi Panmure Liberum ini merilis model statisitk kompleks yang ia kembangkan.
Jika prediksi ini terwujud, De Oranje akan mengakhiri kutukan sebagai negara sepak bola terkuat yang belum pernah mencicipi gelar juara dunia.
Joachim Klement bukanlah sosok sembarangan dalam dunia prediksi. Ia telah melampaui ketenaran Paul si Gurita pada 2010 dengan mempertahankan rekor akurasi 100 persen dalam menebak pemenang sejak Piala Dunia 2014.
Model statistiknya secara tepat memprediksi Jerman sebagai juara Piala Dunia 2014, Prancis juara Piala Dunia 2018, serta Argentina juara Piala Dunia 2022.
Belanda kini menjadi negara keempat yang masuk dalam "nubuat" statistik Klement untuk turnamen yang akan berlangsung mulai 12 Juni mendatang.
Prediksi Kunci Model Joachim Klement untuk Piala Dunia 2026:
- Juara: Belanda.
- Kejutan: Jepang mengalahkan Brasil di babak kedua.
- Nasib Inggris: Terhenti di semifinal oleh Portugal.
- Kuda Hitam: Korea Selatan menyingkirkan Skotlandia di babak kedua.
Meski modelnya sangat akurat, Klement tetap rendah hati dan cenderung skeptis terhadap pekerjaannya sendiri. Ia menyebut dirinya sebagai "guru yang enggan" (reluctant guru).
Awalnya, riset ini ia lakukan hanya untuk menunjukkan betapa absurdnya upaya para ekonom dalam meramalkan sesuatu yang sebenarnya tidak mereka kuasai.
"Ini dimulai sebagai latihan untuk menunjukkan kesombongan para ekonom. Namun sekarang, karena saya benar tiga kali berturut-turut, orang-orang berpikir model ini tidak terkalahkan," ujar Klement dalam wawancara yang dikutip dari BBC Sport.
Menurutnya, kesuksesan di Piala Dunia ditentukan oleh faktor sistemik seperti populasi nasional, kekayaan negara (PDB), iklim, dan peringkat FIFA. Namun, ia menegaskan bahwa faktor-faktor tersebut hanya mencakup 50 persen dari hasil akhir.
"Sisanya adalah keberuntungan. Setiap pertandingan sangat bergantung pada performa hari itu, keputusan wasit, atau bola yang membentur tiang gawang," tuturnya.
Belanda, yang sering dijuluki Juara Tanpa Mahkota, kini memikul ekspektasi besar dari model statistik yang belum pernah meleset dalam satu dekade terakhir.
Apakah ramalan Joachim Klement akan kembali terbukti di final Juli mendatang, atau kah faktor keberuntungan 50 persen akan berkata lain?