Karenanya, ihram tidak disyaratkan dilakukan dalam keadaan suci, hanya dianjurkan saja. Prinsipnya, bagi wanita yang haid atau nifas dibolehkan melakukan semua amalan haji, kecuali thawaf.
Jika telah tiba di miqat, lakukan persiapan ihram, dengan mandi membasahi seluruh tubuh.
Kemudian bersuci. Disunnahkan bagi jemaah laki-laki untuk memakai wewangian di tubuhnya, bukan di kain ihramnya.
Sebagaimana Aisyah radhiallahu'anha memakaikan Rasulullah wewangian sebelum ihram.
Jemaah haji wanita yang sedang haid atau nifas juga tetap disunnahkan mandi, berdasarkan perintah Rasulullah kepada Asma binti Umais yang melahirkan saat tiba di miqat untuk mandi.
Masjidil Haram
Ketika tiba di Mekah, bersiap-siaplah menunaikan thawaf dan sa'i.
Bagi orang yang melakukan haji Tamattu', thawaf dan sa'i yang dilakukan saat itu, thawafnya adalah thawaf Qudum, dan sekaligus dapat dianggap sebagai thawaf rukun umrah yang harus dilakukan bagi haji Tamattu, sedangkan sa'inya juga rukun umrah, yang juga harus dilakukan bagi haji Tamattu.
Sedangkan bagi yang hajinya Ifrad dan Qiran, maka thawafnya dianggap sebagai thawaf Qudum saja dan hukumnya sunnah yang kalau tidak dilakukan tidak apa-apa. Sedangkan sa'inya, jika dia lakukan, dapat dianggap sebagai sa'i haji, sehingga dia tidak perlu sa'i lagi nantinya. Kalau pun dia tidak sa'i saat itu, juga tidak mengapa dengan catatan dia harus menunaikan sa'i nantinya setelah melaksanakan thawaf Ifadhah.
Bagi wanita yang mengalami haid tidak boleh thawaf, sebab syarat thawaf adalah suci dari hadats.
Arafah
Setelah tiba di Arafah, bersiap-siaplah melakukan wukuf; rukun haji yang paling besar dan paling utama. Sebelumnya pastikan Anda sudah berada di area Arafah dengan melihat tanda-tanda yang ada.
Wukuf di Arafah adalah rukun haji yang paling utama, sehingga Rasulullah bersabda, "Haji adalah (wukuf) di Arafah."
Wukuf dimulai sejak tergelincirnya matahari, atau sejak masuknya waktu Zuhur. Dimulai dengan mendengarkan khutbah, lalu mengumandangkan azan, kemudian iqamah, setelah itu lakukan shalat Zuhur dua rakaat, kemudian iqamah lagi, lalu lakukan shalat Ashar dua rakaat, dengan cara qashar dan jama' pada waktu Zuhur (jama' taqdim).
Selesai shalat Zuhur dan Ashar, hadapkan diri Anda ke arah kiblat, lalu perbanyaklah membaca doa, zikir, dan tilawatul qur'an. Karena doa yang paling utama adalah doa pada hari Arafah.
Muzdalifah
Ketika matahari terbenam, atau ketika waktu Maghrib tiba, jemaah haji meninggalkan Arafah menuju Muzdalifah, dengan harapan tiba di Muzdalifah pada pertengahan malam. Lalu setibanya di sana segera lakukan shalat Maghrib dan Isya dengan cara jama' dan qashar. Lakukan azan, kemudian iqamah, lalu shalat Maghrib tiga rakaat, lalu iqamah lagi, kemudian shalat Isya dua rakaat. Setelah itu istirahat hingga masuk waktu Fajar. Adapun sekedar turun di Muzdalifah untuk mencari batu, kemudian langsung pergi meninggalkannya menuju Mina atau Mekah, itu bukan manasik yang dicontohkan Rasulullah kepada kita. Apalagi jika tidak ada uzur padanya. Secara teknis masalah keberangkatan dari Arafah ke Muzdalifah sangat tergantung dengan keadaan, arus manusia dan kendaraan yang sangat padat dan berjubel membuat kita harus ekstra sabar. Begitu pula di Muzdalifah fasilitasnya apa adanya, umumnya tidak ada tenda dan alas. Tidak ada ibadah khusus ketika mabit di Muzdalifah. Sebaiknya setelah shalat dan keperluan pribadi, segera tidur untuk istirahat dan mengembalikan stamina.
Mina
Tanggal 10 Dzulhijjah adalah hari Idul Adha, namun bagi jemaah haji, pada hari tersebut tidak melakukan shalat Id, tapi ada beberapa amalan haji yang dilakukan. Amalan bagi jemaah haji yang melakukan Ifrad adalah melontar jumrah Aqabah, menggundul kepala atau memendekkan rambut, thawaf ifadhah dan sa'i (jika belum sa'i pada thawaf Qudum lalu, kalau sudah sa'i sebelumnya, tidak perlu sa'i lagi). Sedangkan bagi yang melakukan haji Tamattu dan Qiran, selain melakukan amalan yang dilakukan jemaah haji Ifrad, ditambah dengan menyembelih seekor kambing jika mampu sebagai hadyu, atau lebih dikenal sebagai dam. Namun jika tidak mampu mendapatkannya atau membelinya, kewajiban tersebut dapat diganti dengan puasa sepuluh hari.
Hari pada saat haji, dan tujuh hari di kampung halaman. Bagi yang melaksanakan haji Tamattu, dia harus menunaikan sa'i haji setelah thawaf Ifadhah. Sedangkan bagi haji Qiran, seperti Ifrad, jika sudah menunaikan sa'i sebelumnya setelah thawaf Qudum, maka dia tidak perlu sa'i lagi. Tapi jika belum sa'i, maka dia harus menunaikan sa'i haji tersebut.
Thawaf Wada Masjidil Haram
Thawaf Wada ini hukumnya wajib bagi jemaah haji. Dilakukan apabila dia hendak meninggalkan Mekah pulang ke tempat kediamannya. Jadi, kalau dia masih lama tinggal di Mekkah sambil menunggu kepulangan, tunggu thawaf Wadanya hingga menjelang kepulangannya.
Thawaf dilakukan dengan ketentuan seperti biasa dan diakhiri dengan shalat sunnah thawaf dua rakaat. Tanpa sa'i. Akan tetapi bagi wanita yang haid atau nifas, jika tidak dapat menunggu masa suci dan dia harus segera pulang ke tempat kediamannya sebelum suci, maka tidak mengapa dia meninggalkan Mekah tanpa thawaf Wada dan tidak ada kewajiban apa-apa baginya.
Jika seorang jemaah haji belum melakukan thawaf ifadhah kecuali saat hendak meninggalkan Mekah, kemudian dia mencukupkan dengan thawaf Wada' saja, hal itu sudah cukup (sudah dianggap Ifadhah), meskipun setelah itu dia harus sa'i, sebagaimana mungkin terjadi pada haji Tamattu'. Namun jika dia thawaf lagi yang kedua khusus untuk Wada', itu lebih baik dan lebih utama. Setelah itu, selesailah ibadah haji Anda, semoga menjadi haji mabrur, yang diterima dan diridai Allah Ta'ala.