- Istockphoto
Bagaimana Cara Menjaga Ekosistem Panti Asuhan dan Tantangan Keberlanjutan Menjaga Ruang Aman bagi Anak Yatim
tvOnenews.com - Panti asuhan memiliki peran penting sebagai ruang pengasuhan alternatif bagi anak-anak yang kehilangan orang tua atau berada dalam kondisi rentan.
Namun, keberadaan panti asuhan tidak cukup hanya dilihat sebagai tempat tinggal sementara. Pengelolaan yang baik menuntut pendekatan menyeluruh, mulai dari pemenuhan hak dasar anak, perlindungan psikososial, hingga kesiapan mereka menghadapi masa depan secara mandiri.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Sosial menekankan bahwa pengasuhan anak di panti harus menjadi pilihan terakhir setelah opsi pengasuhan berbasis keluarga.
Prinsip ini tertuang dalam Peraturan Menteri Sosial Nomor 30 Tahun 2011 tentang Standar Nasional Pengasuhan Anak, yang menegaskan bahwa lembaga pengasuhan wajib menciptakan lingkungan yang aman, layak, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Regulasi ini menjadi pijakan penting dalam menjaga kualitas dan keberlanjutan panti asuhan. Selain regulasi, keberlangsungan ekosistem panti asuhan juga ditentukan oleh keterlibatan banyak pihak.
Pemerintah daerah, masyarakat, dan dunia usaha memiliki peran masing-masing dalam mendukung operasional panti, baik melalui pengawasan, pendampingan, maupun bantuan sosial yang tepat sasaran.
Pendekatan kolaboratif ini dinilai lebih efektif dibandingkan bantuan sporadis tanpa perencanaan jangka panjang.
Berdasarkan informasi di laman resmi Kementerian Sosial RI, Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) diwajibkan memenuhi sejumlah standar minimum. Standar tersebut mencakup aspek pemenuhan gizi, akses pendidikan formal dan nonformal, layanan kesehatan rutin, serta pendampingan psikologis.
Pengelola panti juga dituntut memiliki kapasitas administratif dan kompetensi pengasuhan yang memadai. Kemensos menilai bahwa kualitas pengasuhan sangat memengaruhi masa depan anak.
Panti asuhan yang tidak terkelola dengan baik berpotensi menimbulkan masalah lanjutan, seperti rendahnya capaian pendidikan, kesulitan adaptasi sosial, hingga kerentanan ekonomi saat anak keluar dari panti.
Oleh karena itu, pembinaan berkelanjutan terhadap pengelola panti menjadi bagian penting dari kebijakan kesejahteraan sosial.
Dalam praktiknya, dukungan eksternal sering kali dibutuhkan untuk menjaga operasional panti asuhan. Bantuan sosial, jika dikelola secara transparan dan berkelanjutan, dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar anak sekaligus memperbaiki sarana pendukung pengasuhan.
Di sinilah peran dunia usaha dan lembaga nonpemerintah menjadi relevan, selama selaras dengan kebutuhan panti dan regulasi yang berlaku.
Pada akhir 2025, PT Pelabuhan Indonesia (Persero) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) menyalurkan santunan kepada 150 anak yatim piatu di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Bantuan tersebut disalurkan kepada anak-anak dari empat panti asuhan, yakni Panti Asuhan Jannatul Mawa, Al Kautsar, Riskullah, dan Mulia Insani, dalam rangka refleksi akhir tahun dan menyambut 2026.
Pentingnya perhatian terhadap anak-anak sebagai generasi penerus, tanpa mengesampingkan prinsip keberlanjutan manfaat bagi masyarakat sekitar.
“Anak-anak adalah harapan masa depan bangsa. Melalui kegiatan ini, kami ingin menghadirkan kehangatan, harapan, dan semangat baru bagi mereka untuk terus bermimpi dan meraih masa depan yang lebih baik,” kata Direktur Utama Pelindo, Arif Suhartono.
Executive Director Pelindo Regional 4, Abdul Azis, menyebutkan bahwa kegiatan tersebut ditujukan untuk membantu meningkatkan kenyamanan dan kelayakan lingkungan pengasuhan. Sementara, dari sisi pengelola panti, bantuan semacam ini dinilai membantu operasional harian.
Hasni, pengurus Panti Asuhan Al Mujaadilah, menyatakan bahwa dukungan yang diberikan berdampak langsung pada kondisi panti dan anak-anak asuh. Perbaikan fasilitas dan santunan tidak hanya membantu secara material, tetapi juga memberi dorongan moral bagi anak-anak.
Ke depan, pengelolaan panti asuhan yang sehat membutuhkan lebih dari sekadar bantuan sesaat. Sinergi antara standar pemerintah, pengelolaan profesional, dan dukungan sosial yang terukur menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem pengasuhan yang aman, manusiawi, dan berorientasi pada masa depan anak.
- Ist
Pada akhirnya, keberadaan panti asuhan tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab bersama. Standar pengasuhan yang ditetapkan pemerintah perlu diiringi dengan pengelolaan yang profesional, pengawasan berkelanjutan, serta dukungan sosial yang tepat sasaran.
Bantuan dari berbagai pihak, termasuk dunia usaha dan masyarakat, akan bermakna jika selaras dengan kebutuhan anak dan mendukung tujuan jangka panjang pengasuhan.
Dengan ekosistem yang sehat dan terukur, panti asuhan dapat berfungsi bukan sekadar sebagai tempat bernaung, tetapi sebagai ruang tumbuh yang aman bagi anak-anak untuk mempersiapkan masa depan yang lebih mandiri dan bermartabat. (udn)