- PBSI
Penyegaran Struktur Kepelatihan Jelang All England 2026, Penemu Pasangan Marcus/Kevin Jabat Kepala Pelatih Ganda Putra Utama PBSI
Jakarta, tvOnenews.com - Menghadapi All England Open Badminton Championships 2026, tim bulutangkis Indonesia tak hanya mematangkan strategi di lapangan, tetapi juga melakukan langkah signifikan di luar arena yakni dengan penyegaran struktur kepelatihan.
Turnamen yang berlangsung 3–8 Maret di Utilita Arena Birmingham ini merupakan ajang level tertinggi dalam kalender Badminton World Federation World Tour Super 1000.
- Instagram.com/badminton.ina
Artinya, Indonesia tak bisa datang dengan pendekatan biasa. Setiap detail harus disiapkan, termasuk dinamika tim pelatih.
Salah satu perubahan paling mencolok terjadi di sektor ganda putra. PBSI menunjuk Chafidz Yusuf sebagai asisten pelatih di sektor ganda putra utama untuk mendampingi Antonius.
Chafidz Yusuf sendiri bukan nama baru di dunia bulutangkis Indoonesia. Dia merupakan sosok penemu salah satu ganda putra terbaik yang pernah dimiliki Tanah Air, Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo.
Sementara itu, Thomas Indratjaja dipercaya menjadi asisten pelatih ganda putra pratama bersama Andrei Adistia.
Langkah ini bukan sekadar rotasi, melainkan bagian dari upaya menjaga atmosfer latihan tetap segar dan adaptif menghadapi ketatnya persaingan elite dunia. Penyegaran diharapkan menghadirkan perspektif baru tanpa mengubah fondasi pembinaan yang sudah berjalan.
Secara keseluruhan, 24 atlet Indonesia akan berlaga di Birmingham. Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Eng Hian, memastikan seluruh persiapan dilakukan secara menyeluruh.
“Aklimatisasi menjadi faktor krusial. Tim akan menjalani program aklimatisasi pada 24–28 Februari 2026 di Milton Keynes, yang berjarak sekitar 120 kilometer di sebelah selatan Birmingham," ujar Eng Hian.
"Selanjutnya, pada 1 Maret, tim akan berpindah ke kota Birmingham agar para atlet memiliki waktu adaptasi yang optimal dengan venue pertandingan,” lanjutnya.
Pemilihan lokasi aklimatisasi mempertimbangkan fasilitas latihan hingga kenyamanan atlet selama berada di Eropa.
“Kami ingin pemain benar-benar siap saat memasuki arena, baik secara fisik, teknis, maupun mental,” tegasnya.
All England 2026 juga menjadi ajang pembuktian bagi sejumlah pemain muda Indonesia yang akan menjalani debut di level Super 1000. Kehadiran mereka menjadi bagian dari strategi regenerasi jangka panjang.
“Bertanding di level Super 1000 adalah ujian kualitas dan mental. Kami ingin mereka berani menghadapi tekanan, belajar dari sebuah pertandingan besar, dan menunjukkan permainan terbaiknya,” ujar Eng Hian.
Dengan kombinasi penyegaran pelatih, program aklimatisasi terstruktur, serta keberanian memberi panggung bagi pemain muda, Indonesia membidik target minimal satu gelar dari Birmingham.
Bagi Merah Putih, All England bukan hanya soal mengangkat trofi, tetapi memastikan sistem pembinaan terus bergerak maju dan mampu menjawab tantangan level tertinggi dunia.
(aes)