news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Tokoh muda NU, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy alias Gus Lilur.
Sumber :
  • Istimewa

Konflik Panjang di Tubuh PBNU, Warga Nahdliyin Ingatkan Harmonisasi

Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU), HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy alias Gus Lilur menyorot soal harmonisasi PBNU jelang pelaksanaan Muktamar ke-35.
Minggu, 28 Juni 2026 - 02:44 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU), HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy alias Gus Lilur menyorot soal harmonisasi PBNU jelang pelaksanaan Muktamar ke-35.

Harmonisasi yang dimaksud berupa berlangsung lamanya konflik internal yang terjadi di dalam tubuh PBNU itu sendiri.

"Semua jamaah Nahdlatul Ulama menyesalkan pertengkaran yang terus berlangsung di tubuh PBNU. Pertengkaran itu bahkan telah sampai pada titik yang oleh banyak warga NU disebut sebagai ambyar sampai 'mudyar', berantakan dan sulit dipersatukan kembali," kata Gus Lilur kepada awak media, Jakarta, Sabtu (27/6/2026).

Gus Lilur blak-blakan jika dinamika konflik tersebut setidaknya melibatkan enam tokoh utama organisasi Islam tersebut.

Ia menyesali dinamika konflik yang melibatkan enam tokoh utama PBNU yang semestinya saling menopang secara organisastor.

"Katib Aam semestinya berjalan selaras dengan Rais Aam. Ketua Umum idealnya bekerja harmonis dengan Sekjen. Demikian pula Wakil Ketua Umum dan Bendahara Umum," ungkapnya.

Gus Lilur menyebut konflik tak kunjung menyudah itu telah menjadi konsumsi publik

Hingga, kata Gus Lilur, warga NU sesungguhnya tak menghendaki konflik yang terjadi dengan melibatkan para tokoh utama. 

Terlebih, lanjutnya, setelah tercapainya Islah Lirboyo yang sempat memberikan harapan bahwa konflik internal PBNU akan berakhir. 

Ia menyebut salah satu tokoh yang terlibat di lingkungan NU yakni Miftahul Akhyar.

"Hingga hari ini, ketegangan itu masih saja terus berlangsung. Banyak orang kemudian berkesimpulan bahwa sumber persoalan hanya terletak pada perseteruan antara Ketua Umum KH Yahya Cholil Staquf dan Sekjen Saifullah Yusuf," kata Gus Lilur.

"Karier struktural KH Miftahul Akhyar di lingkungan NU dimulai ketika beliau menjabat sebagai Rais Syuriah PCNU Surabaya pada periode 2000-2005. Pada saat yang sama, Ketua Tanfidziyah PCNU Surabaya dijabat oleh KH Asep Saifuddin Chalim," sambungnya.

Ia menjelaskan terdapat berbagai narasi yang berkembang khususnya di kalangan nahdliyin Surabaya terkait hubungan yang tak harmonis antara Asep Saifudiin dengan Miftahul Akhyar.

Pada akhirnya, kata dia, untuk menjaga kondusivitas organisasi, Miftahul Akhyar didorong menempati posisi yang lebih tinggi yaitu sebagai Rais Syuriah PWNU Jawa Timur.

Di sisi lain, berbagai kalangan diinternal PBNU juga mengetahui bahwa relasi antara Ma'ruf Amin dan Miftahul Akhyar tidak selalu berjalan mulus, meskipun dinamika tersebut relatif tertutup dari ruang publik.

"Ketika KH Ma'ruf Amin terpilih menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia pada 2019, KH Miftahul Akhyar otomatis naik menjadi Pelaksana Tugas Rais Aam PBNU," kata Gus Lilur.

Gus Lilur menekankan NU membutuhkan pemimpin yang mampu menyatukan, bukan menambah fragmentasi. 

Ia menegaskan NU memerlukan figur yang teduh, sederhana, dan mampu menjadi perekat seluruh unsur jam'iyah.

"Sudah saatnya Muktamar NU ke-35 menghadirkan kepemimpinan yang tidak lagi mewariskan pertengkaran berkepanjangan, melainkan kepemimpinan yang mampu mempersatukan seluruh warga nahdliyin. Sebab NU terlalu besar untuk terus-menerus disibukkan oleh konflik elit," kata Gus Lilur.

"Tulisan ini tentu tidak dimaksudkan untuk menyebarkan fitnah. Sebaliknya, tulisan ini hendak membuka perspektif berdasarkan rekam jejak sejarah, agar warga nahdliyin dapat menilai secara jernih figur seperti apa yang dibutuhkan untuk memimpin PBNU ke depan," sambungnya.(raa)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

04:56
07:53
06:02
02:55
04:58
07:02

Viral