- Kementerian Kebudayaan
Rangkaian Kunjungan Kepala Negara Dinilai Perlihatkan Posisi Strategis Indonesia
Magelang, tvOnenews.com - Rangkaian kunjungan tiga pemimpin negara ke Indonesia dalam sepekan dinilai mencerminkan semakin kuatnya posisi Indonesia dalam percaturan geopolitik kawasan. Hal ini disampaikan Guru Besar Ilmu Politik Universitas Nasional (Unas), Prof. Dr. Yuddy Chrisnandi.
Dalam kurun waktu sepekan, Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan Presiden Belarus Aleksandr Lukashenko, Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong, dan Perdana Menteri India Narendra Modi. Ketiga kunjungan tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan kerja sama di bidang ekonomi, pertahanan, energi, hingga kebudayaan.
Menurut Yuddy, rangkaian agenda tersebut menunjukkan Indonesia kini semakin berperan sebagai titik temu kepentingan berbagai negara.
"Yang terjadi pekan ini bukan sekadar kunjungan protokoler yang berhenti pada foto bersama dan jamuan kenegaraan. Ini adalah konvergensi kepentingan strategis. Dalam hitungan hari, Indonesia didatangi mitra kunci dari Eurasia, dari ASEAN, dan dari Asia Selatan. Itu menunjukkan Jakarta sedang menjadi titik temu diplomasi, bukan sekadar tamu di forum orang lain," ujarnya.
Mantan Duta Besar RI untuk Ukraina, Georgia, dan Armenia itu menilai kunjungan Presiden Lukashenko membuka peluang penguatan hubungan Indonesia dengan kawasan Eurasia.
Menurutnya, peluncuran Peta Jalan Kerja Sama Indonesia–Belarus 2026–2030 dapat menjadi pintu masuk untuk memperluas kerja sama di sektor pangan, energi, industri, dan pupuk.
"Belarus adalah pintu Indonesia ke pasar Eurasia. Kerja sama ini bukan simbolis, karena Belarus salah satu anggota kunci Uni Ekonomi Eurasia, dan kita sudah punya perjanjian dagang dengan blok tersebut. Presiden Prabowo membaca peluang itu dengan jeli," katanya.
Sementara itu, pertemuan tahunan Leaders' Retreat Indonesia-Singapura dinilai memperkuat hubungan kedua negara melalui berbagai kesepakatan di bidang ekonomi digital, perdagangan listrik lintas batas, kredit karbon, lingkungan, hingga pengamanan Selat Malaka.
"Menjaga Selat Malaka tetap aman dan terbuka itu kepentingan vital, bukan hanya bagi Indonesia dan Singapura, tapi bagi perdagangan dunia. Ini menunjukkan Presiden Prabowo mampu merawat mitra terdekat sekaligus menjangkau mitra yang jauh," tuturnya.
Adapun kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi menghasilkan 14 nota kesepahaman dan enam inisiatif strategis yang mencakup sektor pertahanan, keamanan maritim, ekonomi digital, serta energi.