- Bajo Winarno
Festival Dadap, Perlawanan dari Pesisir
Tangerang, tvOnenews.com-Ada banyak festival di sekitar Jakarta, hanya sedikit yang bisa lepas dari jerat negara dan pasar. Sebagian besar festival nyaris bercita rasa sama, seragam. Festival Dadap sedikit festival yang berhasil keluar dari citarasa seragam festival festival seni.
Konsep acara benar benar muncul dari bawah, dari sejarah kerentanan dan perlawanan warga Pesisir Jakarta. Kurasi programnya pun jadi otentik karena menampung cara warga untuk memahami persoalan dan berupaya menjadi pengendali persoalan dan isu yang dihadapinya.
Yang baru, festival yang sudah lima kali digelar ini panggung dibangun persis di sisi tembok laut, pada bentang bentukan teknokrasi yang membuat warga harus beradaptasi sebisanya. Setelah ikan tergebah, kini di Kampung Dadap selalu ada genangan banjir abadi akibat tanggul ternyata menahan aliran air menuju laut. Dengan logika proyek, tanggul laut lalu akan disusul pembangunan rumah pompa. Itu salah satu isu yang langsung terasakan ada di Festival Dadap.
Dan yang menggembirakan, sekitar 50 an pemuda Dadap yang menjadi inisiator festival ini juga berhasil merespon tanggul dengan baik. Mural tulisan "Dadap bukan Tanah Kosong", "Pesisir Tak Akan Terusir", atau "Tiada Tuhan Selain Pemilik Kapital" menjadikan penonton seperti merasakan tekanan dan kerentanan warga. Belum lagi lansekap instan, jalan tol yang membelah laut ada di belakang panggung. Jelang malam, sejumlah tembok ditembak video maping yang membuat ruang semakin hidup.
Yang juga jadi signature Festival Dadap adalah pertunjukan musik selalu berpadu padan dengan tebaran instalasi seni. Jika pada festival tahun tahun sebelumnya ruko ruko yang mangkrak di sekitar Taman Marina yang ditinggal penghuni diubah jadi galeri seni untuk memajang karya seni warga dan seniman, kali ini instalasi yang dipresentasikan bisa lebih leluasa berada di ruang publik.
Karya Irwan Ahmett, Labirin Kerang misalnya merespon tumpukan kulit kerang yang kian hari semakin meninggi persis di sisi kiri gerbang pertunjukan. Irwan membuat jalan jalan melingkar, yang berujung pada sebuah ruang seluas 1 meterX 1 meter yang ditutup plastik transparan. Secara bergantian aktor yang tergabung dalam platform pendidikan seni pertunjukan Intertidal memperagakan aktivitas mengupas kerang yang dipasok dari warga setempat. Pertunjukan durasional selama 2x 24 jam mengisi ruang kontemplatif di Festival Dadap.
Ugi Jahari, salah satu insiator Festival Dadap menyebut festival memang ingin kontekstual pada pengalaman warga Dadap. Karena itu program diarahkan untuk memetakan lingkungan terdekat lewat serangkaian disiplin. Pada festival sebelumnya Irwan kerap mengajak sejumlah eksponen menyusuri pesisir pantai sebagai cara memahamai lingkungan, lalu memaparkan temuannya sebagai “obyek temuan” yang harus diceritakan dengan narasi. Pada festival kali ini kelompok pemantau burung misalnya mengajak warga setempat mengamati jenis jenis burung yang masih ada di pohon pohon bakau yang ada di Pantai Dadap.
Dengan pendekatan yang kontekstual itu, kurasi panggung music pun akhirnya memilih group yang terbiasa memperjuangkan ketidakadilan di ruang publik. Efek Rumah Kaca, Sukatani misalnya dipilih karena kedekatan wilayah tersebut. Saya datang saat penampil masih mencoba tata suara panggung, Al dan Novi, dua personil band Sukatani seperti bersemangat menatap lansekap yang berbeda dengan pemandangan rural agraris di Purbalingga. Setelah chek sound, keduanya segera mengelilingi kampung nelayan, melihat rumah rumah roboh dihantam penurunan muka tanah dan banjir rob, lelehan limbah kerang yang berbau bacin. Mereka juga naik ke tanggul laut menyusuri hingga melihat gedung gedung bertingkat dari perluasan kota baru PIK 1 dan 2.
Ugi menyebut pembiayaan festival semakin mandiri dengan dihidupi dari penjualan kaos setelah sebelumnya sempat dicoba dengan berbagai pola, dengan patungan maupun donatur warga. "Kami sudah menjual 500 kaos, Mas," ujar Ugi. Kini sumber sumber pendanaan lain pun dijajaki dengan syarat tak bertentangan dengan nilai nilai yang diperjuangkan warga Kampung Dadap.
Demikian, Festival Dadap membuktikan kampung nelayan di pinggir Sungai Cisadane ini sesungguhnya entitas yang hidup. Selain Festival Dadap, setiap tahun juga digelar Nadran, ritual sedekah laut yang biasanya diisi seni seni tradisi yang lekat dengan budaya pesisir, seperti wayang kulit dan ketoprak. “Kami senang bisa saling bertemu dengan kegiatan kegiatan ini,”pungkas Ugi.(bwo)