news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi penyakit vitiligo..
Sumber :
  • Freepik/Magnific.

Mengenal Vitiligo, Penyakit Kulit yang Tak Menular tetapi Berdampak pada Mental

Vitiligo merupakan kelainan kulit yang menyebabkan hilangnya pigmen melanin sehingga muncul bercak-bercak putih pada berbagai bagian tubuh.
Sabtu, 25 Juli 2026 - 23:12 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Kesadaran masyarakat terhadap vitiligo di Indonesia terus menunjukkan perkembangan dalam beberapa tahun terakhir. Meski bukan penyakit menular dan tidak mengancam jiwa, vitiligo masih kerap memunculkan stigma yang berdampak pada kesehatan mental serta rasa percaya diri para penyandangnya.

Vitiligo merupakan kelainan kulit yang menyebabkan hilangnya pigmen melanin sehingga muncul bercak-bercak putih pada berbagai bagian tubuh. Kondisi ini dapat dialami siapa saja dan hingga kini penyebab pastinya belum sepenuhnya dipahami, meskipun banyak penelitian mengaitkannya dengan faktor autoimun, genetik, maupun lingkungan.

Vitiligo terjadi ketika sel penghasil pigmen kulit (melanosit) mengalami kerusakan atau berhenti berfungsi sehingga kulit kehilangan warna alaminya. Akibatnya, muncul bercak-bercak putih dengan ukuran dan bentuk yang bervariasi di berbagai bagian tubuh, seperti wajah, tangan, lengan, kaki, hingga area sekitar mulut dan mata.

Pada sebagian orang, perubahan warna juga dapat terjadi pada rambut, alis, bulu mata, maupun janggut. Meski tidak menimbulkan rasa sakit dan bukan penyakit menular, vitiligo merupakan kondisi kronis yang dapat berkembang secara perlahan atau menyebar lebih luas seiring waktu.

Hingga kini belum ada obat yang dapat menyembuhkan vitiligo sepenuhnya. Namun, berbagai pilihan terapi dapat membantu memperlambat perkembangan penyakit atau mengembalikan sebagian warna kulit, seperti penggunaan obat oles, terapi cahaya (fototerapi), hingga tindakan medis tertentu sesuai kondisi pasien.

Selain penanganan medis, para ahli menekankan pentingnya dukungan psikologis karena perubahan penampilan akibat vitiligo sering kali berdampak pada kesehatan mental, memicu rasa minder, kecemasan, hingga menurunkan kepercayaan diri. Oleh karena itu, edukasi masyarakat dan penerimaan sosial menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas hidup penyandang vitiligo.

Selain penanganan medis, dukungan psikososial dinilai menjadi aspek penting dalam membantu penyandang vitiligo menjalani kehidupan sehari-hari. Edukasi kepada masyarakat juga diperlukan agar stigma terhadap kondisi tersebut dapat berkurang.

President Direktur PT Regenesis Indonesia, Ir Emmy Noviawati, mengatakan komunitas penyandang vitiligo di Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat mengenai kondisi tersebut.

"Di Indonesia, komunitas penyandang vitiligo terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kondisi ini. Saat ini, komunitas digital vitiligo yang dibangun Regenesis di Digital site di Indonesia telah menjangkau lebih dari 3.000 follower, menunjukkan besarnya kebutuhan akan ruang edukasi, dukungan emosional, dan penerimaan sosial," ujar Emmy dalam keterangannya, dikutip Sabtu (25/7/2026).

Peringatan Hari Vitiligo Sedunia.
Sumber :
  • Regenesis.

Menurutnya, selain akses terhadap informasi, penyandang vitiligo juga membutuhkan lingkungan yang mampu memberikan penerimaan sosial sehingga mereka dapat menjalani kehidupan dengan lebih percaya diri.

Melalui berbagai kegiatan edukasi yang digelar bertepatan dengan peringatan Hari Vitiligo Sedunia, Regenesis Indonesia menghadirkan forum diskusi bersama penyandang vitiligo untuk berbagi pengalaman mengenai tantangan yang dihadapi, mulai dari rasa minder hingga proses menerima kondisi diri.

Corporate Brand Manager Regenesis Indonesia, Apt. Gita Yohanna Thomdean, S.Farm, menjelaskan salah satu kegiatan tahun ini berupa pertemuan dalam suasana yang lebih personal antara penyandang vitiligo dan berbagai pihak yang selama ini terlibat dalam gerakan edukasi.

Dalam kegiatan tersebut, sepuluh penyandang vitiligo dipilih sebagai Selflove Warriors Regenesis 2026. Mereka dinilai mampu menginspirasi melalui kisah perjuangan menerima kondisi kulit yang dimiliki dan tetap menjalani aktivitas secara produktif.

Kisah-kisah tersebut diharapkan dapat menjadi motivasi bagi penyandang vitiligo lainnya yang masih menghadapi tantangan dalam membangun rasa percaya diri.

Emmy Noviawati menilai penerimaan diri menjadi salah satu fondasi penting dalam mendampingi penyandang vitiligo.

"Kami percaya bahwa kecantikan bukanlah tentang kesempurnaan, tetapi tentang keberanian untuk menerima diri sendiri. Melalui Selflove Warriors, kami ingin menghadirkan harapan bahwa setiap cerita mampu menjadi cahaya bagi orang lain. Di tahun mendatang kami berharap akan menjangkau banyak vitiligan di Indonesia dalam Selflove Movement Regenesis yang telah di gagas dari tahun 2023,” ujar Emmy Noviawati.

Selain aspek psikologis, edukasi mengenai vitiligo juga terus dikembangkan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak di bidang dermatologi. Salah satunya bersama ISISPHARMA.

Head Marketing Skincare Regenesis Indonesia, Dini Ika, menjelaskan bahwa kolaborasi tersebut tidak hanya berfokus pada penyediaan solusi dermatologi, tetapi juga mendukung berbagai kegiatan edukasi bagi komunitas penyandang vitiligo.

Pakar kesehatan kulit menilai bahwa penanganan vitiligo sebaiknya dilakukan secara menyeluruh. Selain terapi medis yang disesuaikan dengan kondisi pasien, dukungan keluarga, komunitas, serta lingkungan sosial berperan besar dalam menjaga kualitas hidup penyandang vitiligo. (cmi)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

05:05
02:59
01:29
04:17
05:51
07:09

Viral