- ANTARA
Nasirun, Kesederhanaan dan Antrean Salat Jenazah yang Tak Putus
"Di luar karyanya yang luar biasa, dia adalah orang yang sangat sederhana," kata Marzuki.
Salah satu hal yang paling dikagumi Marzuki adalah keputusan Nasirun untuk tidak bergantung pada gawai di tengah derasnya arus digitalisasi.
Menurut dia, pilihan tersebut menjadi ciri khas yang membedakan Nasirun dari banyak seniman lain yang kerap mempertimbangkan algoritma media sosial dalam proses berkarya.
"Nah Pak Nasirun ini tidak. Dia tidak mau terpenjara oleh tuntutan algoritma media sosial itu dan karyanya pun tetap kontekstual," katanya.
Pandangan serupa juga disampaikan sastrawan dan budayawan R. Gabriel Possenti Sindhunata, yang akrab disapa Romo Sindhu. Bagi dia, Nasirun adalah pribadi yang penuh tawa, bebas, dan tidak ingin terikat oleh apa pun, termasuk gawai.
"Itu menandakan bahwa ia tidak tergantung apa pun, termasuk kemajuan maupun fasilitas," ujarnya.
Romo Sindhu menilai Nasirun memiliki aura yang memancarkan kebaikan sehingga membuat siapa pun merasa dekat dengannya. Tanpa telepon genggam sekalipun, hubungan sosial Nasirun tetap terjalin erat karena ia selalu hadir dan membantu banyak orang.(ant)