- YouTube/Yusril Ihza Mahendra Official
Gaya Santai Gibran Dinilai Efektif Tarik Perhatian Gen Z, Begini Kata Pengamat
Selain penampilan, penggunaan istilah populer seperti “bro”, “santuy”, “gaskeun”, hingga “healing” juga dinilai membuat komunikasi Gibran lebih mudah diterima oleh kalangan muda. Namun, Arwin mengingatkan bahwa bahasa gaul saja tidak cukup untuk membangun kepercayaan.
“Kalau bahasa yang digunakan terlalu formal, kadang anak muda merasa sedang diajari atau digurui. Padahal mereka ingin diajak bicara. Itu yang membedakan antara sekadar menyampaikan pesan dengan membangun komunikasi,” jelasnya.
“Tidak cukup hanya memakai istilah anak muda. Kalau cuma bilang bro, santuy, atau istilah lainnya tetapi tidak ada substansi, anak muda juga bisa melihat itu sebagai pencitraan. Jadi bahasa harus sesuai dengan konteks dan harus tetap ada isinya,” ujar Arwin.
Ia menilai gaya komunikasi hanya berfungsi sebagai pembuka hubungan dengan generasi muda, sedangkan kepercayaan ditentukan oleh tindakan nyata.
“Ketika anak muda merasa pemimpinnya dekat, mereka akan lebih terbuka untuk mendengarkan. Tetapi setelah perhatian itu didapat, yang mereka lihat berikutnya adalah apa yang dilakukan dan apa yang diperjuangkan,” kata Arwin.
“Gaya casual bisa menarik perhatian, tetapi kepercayaan tidak dibangun hanya dengan gaya. Kepercayaan dibangun dari konsistensi antara apa yang disampaikan dengan apa yang dilakukan,” lanjutnya.
Di sisi lain, pendekatan santai juga tidak lepas dari kritik. Sebagian pihak menilai penampilan yang terlalu kasual dalam situasi tertentu dapat mengurangi wibawa seorang pejabat, sementara yang lain menganggap penggunaan bahasa gaul hanya sebagai strategi pencitraan.
Menanggapi hal itu, Arwin menilai kritik merupakan konsekuensi dari pilihan gaya komunikasi yang berbeda.
“Wajar kalau ada yang menilai gaya seperti itu positif dan ada juga yang mengkritik. Setiap orang punya standar sendiri soal bagaimana seorang pejabat seharusnya tampil,” ucapnya.
Menurut Arwin, yang paling penting adalah kemampuan menempatkan diri sesuai konteks.
“Yang penting tahu tempat dan konteks. Di acara resmi tentu ada aturan dan etika yang harus dijaga. Tetapi di ruang publik atau media sosial, pendekatan yang lebih santai menurut saya bisa menjadi cara untuk berkomunikasi dengan kelompok yang memang menjadi target audiensnya,” katanya.