news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi wajah yang berjerawat.
Sumber :
  • Freepik

Studi Klinis di Indonesia Temukan Potensi Probiotik sebagai Terapi Pendamping Jerawat

Pendekatan baru dalam penanganan jerawat mulai mendapat perhatian seiring berkembangnya penelitian mengenai hubungan antara kesehatan usus dan kesehatan kulit.
Kamis, 13 Agustus 2026 - 19:56 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Pendekatan baru dalam penanganan jerawat mulai mendapat perhatian seiring berkembangnya penelitian mengenai hubungan antara kesehatan usus dan kesehatan kulit.

Sebuah studi klinis yang dipaparkan dalam Pekan Ilmiah Tahunan Ikatan Apoteker Indonesia (PIT IAI) 2026 di Medan menunjukkan bahwa probiotik berpotensi menjadi terapi pendamping (adjuvant therapy) bagi pasien jerawat ringan hingga sedang.

Penelitian tersebut dipresentasikan dalam forum ilmiah yang berlangsung pada 6–8 Agustus 2026 dan mengeksplorasi pendekatan berbasis mikrobioma melalui penggunaan probiotik oral, secretome topikal, serta kombinasi keduanya sebagai pelengkap terapi standar jerawat.

Konsep yang diteliti berangkat dari semakin banyaknya bukti ilmiah mengenai gut–skin axis, yakni keterkaitan antara kondisi mikrobiota usus dengan kesehatan kulit. Pendekatan ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan terapi jerawat yang sudah ada, melainkan untuk melihat kemungkinan manfaat tambahan yang dapat mendukung hasil pengobatan.

Guru Besar Farmakologi dan Farmasi Klinis Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran sekaligus Supervisor Research, Prof. Dr. apt. Keri Lestari, M.Si., mengatakan, penelitian ini berangkat dari perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin menunjukkan adanya hubungan antara kesehatan usus dan kesehatan kulit melalui gut–skin axis.

"Kami ingin mengeksplorasi lebih jauh bagaimana pendekatan berbasis mikrobioma, termasuk penggunaan probiotik, berpotensi mendukung terapi jerawat yang telah ada," ujar Prof Keri dalam keterangannya, dikutip Kamis (13/8/2026).

Uji Klinis 8 Minggu pada 64 Pasien

Studi bertajuk “Terapi Adjuvan Berbasis Mikrobioma menggunakan Probiotik dan Secretome pada Pasien Acne Vulgaris” dilakukan dengan metode double-blind randomized controlled trial terhadap 64 pasien berusia 13–45 tahun yang mengalami jerawat ringan hingga sedang.

Penelitian berlangsung selama delapan minggu di Departemen Dermatologi dan Venereologi Rumah Sakit Umum Bali Mandara. Seluruh peserta menerima terapi standar jerawat, kemudian dibagi secara acak ke dalam empat kelompok, yaitu kelompok plasebo, kelompok probiotik oral, kelompok secretome topikal, dan kelompok kombinasi probiotik oral serta secretome topikal.

Kondisi jerawat dievaluasi menggunakan Michaelsson Acne Score, yang mengukur tingkat keparahan berdasarkan jumlah dan jenis lesi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok yang menerima probiotik, secretome, maupun kombinasi keduanya mengalami penurunan skor lesi inflamasi yang signifikan dibandingkan kelompok yang hanya menerima terapi standar dengan plasebo. Penurunan skor inflamasi terbesar ditemukan pada kelompok kombinasi, sedangkan penurunan skor total jerawat terbesar tercatat pada kelompok probiotik.

Meski hasil awal tersebut dinilai menjanjikan, para peneliti menekankan bahwa temuan ini masih merupakan bagian dari proses pengembangan bukti ilmiah dan memerlukan penelitian lanjutan.

“Uji klinis ini memberikan landasan saintifikasi penggunaan probiotik sebagai terapi pendamping (adjuvant terapi) pada jerawat. Tentunya hasil penelitian ini perlu dilihat sebagai bagian dari proses pengembangan bukti ilmiah yang masih terus berkembang dan tetap membutuhkan penelitian lanjutan untuk memperkuat pemahaman mengenai mekanisme maupun manfaat klinisnya," tambah Prof. Keri Lestari.

Potensi Mikrobioma dalam Penelitian Kesehatan

Penelitian tersebut menjadi salah satu contoh meningkatnya perhatian terhadap ilmu mikrobioma dalam dunia kesehatan. Para peneliti melihat bahwa pemahaman mengenai komunitas mikroorganisme di dalam tubuh manusia dapat membuka peluang pendekatan yang lebih komprehensif terhadap berbagai penyakit, termasuk gangguan kulit.

Prof. Dean Lee Heng Yee, Director of Bcrobes Group, mengatakan bahwa perkembangan ilmu mikrobioma membuka peluang yang semakin luas untuk memahami kesehatan manusia secara lebih komprehensif.

“Bcrobes percaya bahwa inovasi kesehatan harus berjalan bersama dengan penelitian dan bukti ilmiah. Karena itu, komitmen kami tidak berhenti pada pengembangan produk, tetapi juga mencakup dukungan terhadap penelitian, publikasi ilmiah, serta edukasi yang dapat membantu tenaga kesehatan dan masyarakat memperoleh informasi yang kredibel,” ujar Prof. Dean Lee Heng Yee.

Pandangan serupa disampaikan Dr. Kaley Oon Seok Fang, Medical Affairs Director Bcrobes, yang menilai hasil studi tersebut sebagai langkah awal untuk mengeksplorasi lebih jauh peran probiotik dalam mendukung terapi jerawat.

“Hasil ini membuka ruang untuk memahami lebih jauh hubungan antara mikrobiota usus dan kesehatan kulit. Ke depan, kami akan terus mendorong riset dan kolaborasi dengan akademisi serta tenaga kesehatan agar potensi ini dapat dikaji lebih luas dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Dr. Kaley.

Pentingnya Riset Berbasis Bukti

Dalam rangkaian kegiatan yang sama, juga diperkenalkan buku Transformasi Paradigma Probiotik: Generasi Baru Kesehatan Berbasis Mikrobioma yang membahas kesehatan usus, keseimbangan mikrobiota, dan pemanfaatan probiotik berdasarkan literatur ilmiah.

Apt. Noffendri Roestam, S.Si., Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia periode 2022-2026, mengapresiasi semakin berkembangnya kontribusi apoteker dalam penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.

“Penelitian berbasis bukti ilmiah merupakan fondasi penting dalam meningkatkan kualitas praktik kefarmasian dan pelayanan kesehatan. Kami berharap semakin banyak apoteker Indonesia yang turut berkontribusi melalui penelitian, inovasi, dan kolaborasi sehingga perkembangan ilmu pengetahuan dapat diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi kesehatan masyarakat,” ujar Noffendri.

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:34
01:25
01:32
01:54
05:21
00:53

Viral