- Istimewa
Era Media Sosial, Masyarakat Diimbau Jangan Sembarang Sebar Informasi
Jakarta, tvOnenews.com - Perkembangan teknologi yang mendorong kecepatan informasi diantaranya melalui media sosial perlu didasari etika dari masyarakat.
Masyarakat tidak cukup hanya memastikan sebuah informasi benar, tetapi juga perlu mempertimbangkan apakah informasi tersebut layak disebarkan dan berpotensi merugikan pihak lain.
Hal tersebut disampaikan Pengamat Digital Universitas Budi Luhur, Julaiha Probo Anggraini, dalam kegiatan Sosialisasi Merajut Nusantara bertema 'Etis Bermedia Digital'.
Julaiha mengatakan kebenaran bukan satu-satunya ukuran dalam menentukan apakah sebuah informasi pantas disebarluaskan.
Pengguna media digital juga perlu mempertimbangkan kebutuhan publik, cara penyampaian, serta dampak yang mungkin timbul bagi pihak yang dibicarakan.
“Kebenaran bukan satu-satunya ukuran dari etika. Sebelum menyebarkan informasi yang benar, kita harus bertanya, apakah informasi ini perlu disebarkan kepada orang lain?,” kata Julaiha, Jakarta, Jumat (21/8/2025).
Ia menekankan pentingnya mempertimbangkan manfaat dan risiko sebelum membagikan suatu informasi.
Menurutnya jika informasi memang perlu disampaikan masyarakat juga perlu memikirkan cara yang lebih aman agar tidak menimbulkan kerugian lebih besar.
“Kita juga harus menilai, ketika informasi itu disebarkan, apakah manfaatnya lebih besar atau justru kerugiannya yang lebih besar terhadap orang tersebut. Itu yang harus dipertimbangkan,” ujarnya.
Di tengah tingginya aktivitas masyarakat di media sosial, informasi yang benar sekalipun dapat menimbulkan persoalan apabila disebarkan tanpa mempertimbangkan privasi, konteks, kepentingan publik, serta konsekuensinya terhadap individu yang terkait.
Julaiha menilai, kemampuan bermedia digital tidak hanya berkaitan dengan kecakapan menggunakan teknologi atau membedakan informasi benar dan salah.
Etika juga menjadi bagian penting dari literasi digital karena setiap unggahan, komentar, dan informasi yang dibagikan dapat berdampak pada kehidupan orang lain.
Karena itu, masyarakat perlu membangun kebiasaan untuk berpikir sebelum membagikan informasi.
"Penguatan etika digital dinilai penting untuk menciptakan ruang digital yang lebih sehat, aman, dan bertanggung jawab. Literasi digital pada akhirnya bukan hanya soal kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan menggunakannya dengan tetap menghormati privasi, martabat, dan hak orang lain," katanya.(raa)