- Nordberg Medical.
Tren Estetika Makin Ramai, Dokter Ingatkan Jangan Pilih Perawatan Hanya karena Viral di Sosmed atau Rekomendasi Influencer
Jakarta, tvOnenews.com — Maraknya klinik kecantikan, produk estetika, hingga promosi melalui media sosial membuat masyarakat kini semakin mudah mendapatkan informasi mengenai berbagai prosedur perawatan wajah dan kulit.
Di sisi lain, derasnya informasi tersebut dinilai turut mengubah pola pengambilan keputusan pasien. Perawatan yang semestinya berangkat dari pertimbangan medis dan rekomendasi dokter berpotensi bergeser menjadi consumer driven model, ketika tren dan preferensi pasar ikut menentukan tindakan estetika yang dipilih.
Kondisi itu menjadi perhatian dalam perkembangan industri estetika di Indonesia. Pertumbuhan bisnis memang membuka peluang ekonomi, tetapi dari perspektif medis muncul sejumlah persoalan, mulai dari estetika yang diperlakukan sebagai komoditas, konflik kepentingan, layanan yang tidak berbasis evidence-based medicine, hingga munculnya penyedia layanan yang tidak memiliki kompetensi sebagai dokter.
Dokter kulit, kelamin, dan estetika sekaligus founder BMDERMA Clinic, dr. Deasy Lius Sp.DVE, mengingatkan pasien agar tidak menjadikan tren atau rekomendasi influencer sebagai dasar utama dalam menentukan prosedur medis.
"Evidence-based medicine merupakan suatu dasar pemilihan terapi atau prosedur estetika dengan memerhatikan bukti ilmiah dari penelitian, keahlian dokter dan preferensi serta kebutuhan pasien. Informasi dari influencer maupun brand ambassador dapat menjadi bagian dari pengalaman pribadi, namun bukan pengganti pertimbangan medis," ujar dr Deasy saat konferensi pers di Jakarta, Sabtu (22/8/2026).
"Pemilihan perawatan medis tentunya bukan didasarkan oleh tren semata atau berdasarkan klaim pemasaran tanpa bukti jurnal. Pasien tetap harus bisa memilah trend estetika yang ditawarkan oleh klinik maupun social media, mana yang perlu dan tidak perlu diikuti. Klaim berlebihan dari suatu produk, teknik suntik yang tidak teruji, dan penggunaan produk tanpa dasar ilmiah yang tidak teruji tidak akan memberikan hasil perawatan yang mumpuni dan risiko dari perawatan berada di tangan pasien. Sejatinya, estetika medis tetaplah ranah medis yang membutuhkan penanganan dokter resmi dengan keilmuan secara bertanggung jawab dan dapat dipertanggung jawabkan," sambungnya.
Pasien Didorong Lebih Kritis
Menurut Deasy, perkembangan media sosial membuat pasien berhadapan dengan semakin banyak pilihan prosedur. Persoalannya, tidak semua informasi yang beredar memiliki bobot ilmiah yang sama.