news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi Tak Punya Programmer Bukan Lagi Hambatan, Begini Teknologi Kecerdasan Buatan Mengubah Cara Membuat Software.
Sumber :
  • Gambar ilustrasi AI / Gemini

Tak Punya Programmer Bukan Lagi Hambatan, Begini Teknologi Kecerdasan Buatan Mengubah Cara Membuat Software

Perubahan tersebut membuat batas antara pengguna dan pembuat teknologi menjadi semakin tipis. Jika sebelumnya seseorang yang memiliki gagasan
Kamis, 27 Agustus 2026 - 23:32 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) berkembang jauh melampaui fungsi sebagai alat untuk menghasilkan teks, gambar, atau menjawab pertanyaan. Teknologi ini mulai masuk ke proses kerja yang sebelumnya membutuhkan keahlian teknis khusus, termasuk pengembangan perangkat lunak.

Perubahan tersebut membuat batas antara pengguna dan pembuat teknologi menjadi semakin tipis. Jika sebelumnya seseorang yang memiliki gagasan aplikasi harus bergantung pada programmer atau tim teknologi untuk mewujudkannya, kini sejumlah platform berbasis AI memungkinkan instruksi diberikan menggunakan bahasa sehari-hari. 

Sistem kemudian membantu menerjemahkan kebutuhan tersebut menjadi aplikasi atau perangkat lunak.

Fenomena itu muncul ketika Indonesia memasuki fase baru transformasi digital. Bertepatan dengan momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI, pembicaraan mengenai kemandirian tidak lagi hanya berkaitan dengan sektor ekonomi dan industri, tetapi juga kemampuan masyarakat menguasai teknologi. 

Pemerintah sendiri tengah membangun kerangka nasional untuk pengembangan dan pemanfaatan AI melalui Peta Jalan Kecerdasan Artifisial Nasional 2026–2029 serta regulasi etika AI.

Kementerian Komunikasi dan Digital menilai tantangan Indonesia bukan sekadar meningkatkan jumlah pengguna AI, melainkan memperkuat kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi tersebut secara produktif dan bertanggung jawab.

"Adopsi saja mungkin tidak cukup, memakai AI saja tidak cukup, tapi bagaimana kapabilitas dalam menggunakannya menjadi sangat penting," ujar Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria.

Dari Pengguna Software Menjadi Pembuat Solusi

Perubahan tersebut juga mulai terlihat dalam dunia usaha. Banyak pelaku bisnis selama ini menggunakan software yang sudah tersedia untuk mengelola penjualan, inventori, keuangan, hingga hubungan dengan pelanggan. Persoalannya, kebutuhan setiap bisnis tidak selalu dapat dipenuhi oleh aplikasi yang sama.

Pengembangan software khusus sebenarnya dapat menjadi solusi, tetapi membutuhkan biaya, waktu, serta sumber daya teknis. Kondisi itu membuat usaha kecil dan sebagian bisnis rintisan harus memilih antara menyesuaikan cara kerja dengan software yang tersedia atau tetap menggunakan proses manual.

AI kemudian membuka kemungkinan baru. Pengguna cukup menjelaskan masalah yang ingin diselesaikan dan kebutuhan aplikasi yang diinginkan. Teknologi AI selanjutnya dapat membantu menerjemahkan instruksi tersebut ke dalam rancangan dan fungsi perangkat lunak.

Salah satu contoh yang muncul di Indonesia adalah Building Indonesia, program yang diperkenalkan Emergent bertepatan dengan momentum kemerdekaan. Platform tersebut ditujukan kepada pemilik usaha kecil dan founder yang ingin mencoba membuat aplikasi berdasarkan kebutuhan bisnisnya.

Dalam keterangan penyelenggara, program tersebut menyediakan total hadiah Rp800 juta bagi 100 karya yang dipilih. Namun, nilai yang lebih menarik untuk dicermati bukan semata-mata kompetisinya, melainkan perubahan pola pengembangan teknologi yang ditawarkan.

“Pada momen Hari Kemerdekaan ini, kami ingin membuat proses ‘membangun’ menjadi lebih mudah diakses oleh para founder dan pemilik bisnis di seluruh Indonesia, sehingga ide mereka dapat diwujudkan meskipun tidak memiliki keahlian teknis,” ujar Co-founder & CEO Emergent.

“Setiap bisnis yang berhasil dibangun di platform kami selalu dimulai dengan cara yang sama: sebuah ide dan masalah nyata yang dijelaskan melalui kata-kata, kemudian diubah menjadi produk yang benar-benar dapat digunakan,” tambahnya.

Dengan pendekatan tersebut, pemilik bisnis tidak hanya ditempatkan sebagai konsumen software. Mereka memiliki kesempatan untuk ikut menentukan dan mengembangkan perangkat yang sesuai dengan kebutuhan operasional mereka.

Kemudahan AI Tetap Membutuhkan Literasi Digital

Meski terlihat sederhana, kemampuan membuat aplikasi menggunakan AI tidak berarti seluruh persoalan pengembangan software otomatis selesai.

Sebuah aplikasi tetap membutuhkan tujuan yang jelas, pengelolaan data yang tepat, keamanan, pengujian, serta pemahaman terhadap kebutuhan penggunanya. Kesalahan dalam memberikan instruksi kepada AI juga dapat menghasilkan solusi yang tidak sesuai dengan persoalan sebenarnya.

Hal ini menjadi penting karena penggunaan AI di Indonesia terus meningkat. Kementerian Komunikasi dan Digital pada Juli 2026 menyebut tingginya adopsi AI perlu diimbangi dengan peningkatan kapabilitas agar pemanfaatannya tidak berhenti pada penggunaan dasar. ([Kementerian Komunikasi dan Digital][2])

Pemerintah juga menempatkan aspek transparansi, akuntabilitas, perlindungan data pribadi, keamanan, serta inovasi yang bertanggung jawab sebagai bagian dari arah kebijakan AI nasional. ([portal.komdigi.go.id][3])

Dengan demikian, kemampuan menggunakan AI sebaiknya tidak hanya diukur dari seberapa cepat seseorang dapat menghasilkan sebuah aplikasi. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah teknologi tersebut benar-benar menyelesaikan masalah dan memberikan manfaat yang terukur.

Dalam konteks usaha kecil, misalnya, AI dapat digunakan untuk membantu membuat sistem pencatatan stok, pengelolaan pesanan, pencatatan pelanggan, atau berbagai kebutuhan administratif. 

Namun, pengguna tetap perlu memahami bagaimana data bisnis disimpan, siapa yang dapat mengaksesnya, dan bagaimana sistem tersebut digunakan dalam kegiatan sehari-hari.

Program yang ini menjadi salah satu gambaran dari perubahan tersebut. Kompetisi itu membuka kesempatan bagi pelaku usaha untuk mencoba membangun aplikasi menggunakan pendekatan berbasis AI, dengan batas pengumpulan karya pada 25 Agustus 2026.

Per 27 Agustus 2026, batas pengumpulan tersebut telah berakhir. Karena itu, program ini lebih relevan dilihat sebagai bagian dari tren yang sedang berkembang daripada sekadar sebuah kompetisi berhadiah.

Momentum kemerdekaan pun memberikan konteks yang menarik. Di tengah perkembangan AI, makna kemandirian teknologi semakin berkaitan dengan kemampuan masyarakat memahami dan memanfaatkan teknologi, bukan sekadar menjadi pengguna.

AI mungkin membuat proses membangun software menjadi lebih mudah. Namun, kemampuan menentukan masalah, memahami kebutuhan, menjaga keamanan data, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab tetap menjadi pekerjaan manusia.

Pada akhirnya, tantangan Indonesia di era AI bukan hanya tentang siapa yang paling cepat mengadopsi teknologi, melainkan siapa yang mampu mengubah teknologi tersebut menjadi solusi yang berguna bagi masyarakat dan perekonomian. (udn)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

03:06
07:17
05:09
04:35
01:19
01:25

Viral