- Tangkapan layar YouTube Lembur Pakuan Channel
Dedi Mulyadi Imbau Kepala Sekolah Terapkan Pembelajaran Daring bagi Sekolah Terdampak Abu Vulkanik Anak Krakatau
tvOnenews.com - Sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mulai berdampak ke sejumlah wilayah di Jawa Barat.
Kondisi tersebut turut menjadi perhatian Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Sejumlah masyarakat di wilayah yang terdampak bahkan melaporkan mengalami gangguan kesehatan seperti sesak napas dan mata terasa perih akibat paparan abu vulkanik.
Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi adanya dua lapisan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau pada Minggu (6/9/2026).
Abu vulkanik tersebut bergerak ke arah tenggara hingga selatan dan menjangkau sebagian wilayah Banten, Jawa Barat, serta perairan di sekitarnya.
Sementara itu, lapisan kedua terpantau dari permukaan hingga ketinggian 50.000 kaki. Sebaran abu bergerak ke arah barat daya dan barat laut, mencakup sebagian wilayah Banten dan Lampung hingga Bengkulu, Sumatra Selatan, Sumatra Barat, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia di sebelah barat.
Meningkatnya sebaran abu vulkanik tersebut membuat Dedi Mulyadi memberikan perhatian khusus terhadap aktivitas pendidikan di wilayah Jawa Barat.
Melalui media sosial resminya, Dedi menyampaikan arahan kepada para kepala sekolah, khususnya di wilayah yang mengalami intensitas abu vulkanik cukup tinggi.
- tvOnenews
Kepala Sekolah Bisa Terapkan Pembelajaran Daring
Dedi Mulyadi mengatakan kepala sekolah di wilayah yang terdampak abu vulkanik dengan intensitas tinggi dapat mengambil keputusan untuk mengubah sistem pembelajaran menjadi daring.
Kebijakan tersebut dapat mulai diterapkan pada Senin, 7 September 2026, dengan mempertimbangkan kondisi di lapangan.
"Sehubungan dengan semakin meningkatnya sebaran abu vulkanik yang disebabkan erupsi Gunung Anak Krakatau, kami sampaikan untuk wilayah yang intensitas debunya tinggi, seperti Bogor dan Sukabumi serta daerah lain, para kepala sekolah, terhitung mulai hari Senin, 7 September 2026 bisa mengambil keputusan untuk membuat sistem pembelajaran secara daring di rumah masing-masing," ujar Dedi Mulyadi melalui media sosial resminya.
Menurut Dedi, keputusan tersebut tidak bersifat seragam untuk seluruh sekolah. Kepala sekolah diberikan ruang untuk menyesuaikan sistem pembelajaran berdasarkan kondisi lingkungan masing-masing.
Utamakan Kesehatan dan Keselamatan Siswa
Dedi kembali menegaskan bahwa kepala sekolah dapat menentukan pelaksanaan pembelajaran daring dengan melihat situasi di lapangan.
"Para kepala sekolah bisa mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan kondisi di lapangan, agar sistem pembelajaran dilakukan secara daring dari rumah masing-masing," kata Dedi.
Arahan tersebut diberikan sebagai langkah antisipasi di tengah meningkatnya sebaran abu vulkanik. Dengan pembelajaran dilakukan dari rumah, aktivitas siswa di luar ruangan dapat dikurangi apabila kondisi udara di wilayah mereka dinilai kurang aman atau tidak nyaman.
Dedi berharap seluruh pihak tetap dapat menjalankan aktivitas pendidikan dengan mempertimbangkan aspek kesehatan dan keselamatan.
"Demikian saya sampaikan untuk dijadikan pedoman, agar kita semua bisa menjalankan aktivitas sebagaimana mestinya dengan mempertimbangkan kesehatan, keselamatan dan kenyamanan kita semua," pungkasnya.
Dengan kondisi sebaran abu vulkanik yang masih dipengaruhi arah dan kecepatan angin, masyarakat di Jawa Barat diimbau terus mengikuti perkembangan informasi dari pihak berwenang dan menyesuaikan aktivitas apabila kondisi di wilayah masing-masing berubah. (gwn)