- Facebook Animal Friends Jogja
Setahun yang Lalu Sebelum Pergi, Fajar Sahrudin Tinggalkan Surat Kecil untuk Meong dan Guguk: Aku Bawakan Kalian Makanan
tvOnenews.com - Ada pesan yang baru terasa begitu dalam setelah seseorang tidak lagi bisa menjawabnya. Di media sosial, unggahan bertuliskan Rest In Peace biasanya menjadi penanda duka. Namun dalam kasus Fajar Sahrudin, sebuah pesan perpisahan yang muncul secara otomatis justru membuka kembali berbagai jejak kehidupan yang pernah ia tinggalkan.
Di tengah ramainya pembicaraan tentang kabar kematiannya, publik tidak hanya menemukan tulisan tentang perpisahan, tetapi juga cerita mengenai kepedulian Fajar kepada orang-orang dan makhluk hidup di sekitarnya.
Salah satu kisah yang kemudian mencuat datang dari Animal Friends Jogja (AFJ). Komunitas tersebut mengenang Fajar bukan semata melalui kabar duka, melainkan melalui sebuah kebaikan yang pernah ia kirimkan hampir setahun sebelumnya.
Pada akhir September 2025, Fajar mengirim makanan untuk satwa terlantar yang dirawat AFJ sekaligus memberikan dukungan dana. Namun, dari semua bantuan tersebut, justru sebuah surat kecil yang kemudian paling lama tinggal dalam ingatan mereka.
“Ada pertemuan yang ternyata tidak pernah diberi waktu untuk terjadi.” Begitulah Animal Friends Jogja membuka ungkapan belasungkawanya.
Surat yang pernah dikirim Fajar berisi perhatian sederhana kepada para “meong dan guguk”, termasuk harapan agar mereka dapat makan dengan baik, tumbuh sehat, tidak lagi mencari makanan dari tempat sampah, serta suatu hari menemukan rumah dan keluarga yang benar-benar menyayangi mereka.
Undangan AFJ kepada Fajar untuk datang dan bertemu dengan satwa-satwa tersebut ternyata tidak pernah sempat terwujud.
- instagram stewiecopp
Pesan RIP Fajar Sahrudin Kembali Mengungkap Jejak Kebaikannya
Nama Fajar Sahrudin mendadak menjadi perhatian luas setelah unggahan terjadwal di media sosial muncul pada 5 September 2026.
Fajar dikenal melalui sejumlah akun dengan nama Stewie dan Steve. Unggahan tersebut berisi pesan perpisahan, dokumentasi donasi, serta tautan menuju autobiografi digital yang ia susun sendiri.
Pesan tersebut kemudian ramai diperbincangkan setelah Fajar dilaporkan ditemukan meninggal dunia di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta.
Kepolisian telah mengonfirmasi penemuan seorang pria berinisial FS di sekitar Pintu 10 GBK dan menyatakan bahwa pemeriksaan awal telah dilakukan bersama tim identifikasi serta Dokkes.
Polisi juga menyebut tidak menemukan tanda-tanda kekerasan atau penganiayaan pada pemeriksaan luar tubuh.
Meski informasi mengenai dugaan penyebab kematian telah beredar luas di media sosial, kepolisian masih melakukan penyelidikan. Karena itu, publik sebaiknya tidak terburu-buru menyimpulkan seluruh rangkaian peristiwa hanya berdasarkan unggahan media sosial.
Di tengah perhatian tersebut, pesan terakhir Fajar menjadi salah satu bagian yang paling banyak dibicarakan. Salah satu kalimat yang beredar berbunyi, “**Please forgive me for all my fault and mistake and I wish you all the best.**”
Pesan itu kemudian dibaca ulang oleh banyak orang dalam konteks yang berbeda setelah kabar kematiannya diketahui publik.
Surat Kecil untuk Meong dan Guguk yang Tak Pernah Terlupakan
Animal Friends Jogja memberikan sudut pandang lain tentang sosok Fajar. Dalam unggahan belasungkawanya, organisasi tersebut menceritakan kembali bagaimana kebaikan Fajar tiba di rumah singgah mereka pada akhir September 2025.
Bukan hanya makanan dan bantuan dana yang membuat AFJ mengingatnya. Ada surat kecil yang disertakan bersama bantuan tersebut. Fajar menitipkan pesan agar satwa-satwa yang dirawat AFJ mendapatkan makanan yang cukup, memiliki tubuh dan bulu yang sehat, serta tidak perlu lagi mengais sampah untuk bertahan hidup.
Ia juga menitipkan harapan agar para satwa tersebut suatu hari mendapatkan #ForeverHome dan #ForeverFamily.
“Dulu kami membaca surat kecil itu dengan mata yang basah. Undangan kami untukmu saat itu tidak pernah sempat menjadi sebuah pertemuan. Dan hari ini, kami membacanya lagi dengan hati yang jauh lebih berat.?”
AFJ juga menyampaikan bahwa satwa-satwa yang pernah menerima bantuan tersebut tentu tidak mengetahui siapa sosok yang berada di balik perhatian itu.
Mereka tidak mengenal nama Fajar maupun perjalanan hidupnya. Namun, bagi pengelola rumah singgah, bantuan tersebut tetap menjadi bentuk kepedulian yang nyata.
“Terima kasih kak Fajar, untuk pernah ada dan akan selalu ada. Di antara segala hal yang pernah kamu hadapi, kamu menyisakan begitu banyak kasih untuk makhluk lain yang sering kali diabaikan.”
Kisah tersebut kemudian membuat perhatian publik terhadap Fajar tidak berhenti pada unggahan terakhirnya. Ada sisi lain dari kehidupannya yang justru dikenang melalui tindakan sederhana: membantu makhluk yang tidak dapat membalas kebaikan manusia.
Pada akhirnya, kisah Fajar Sahrudin bukan hanya tentang sebuah unggahan Rest In Peace yang mendadak viral. Ada surat kecil, makanan untuk satwa terlantar, bantuan dana, dan niat baik yang pernah ia tinggalkan jauh sebelum namanya ramai dibicarakan.
Animal Friends Jogja menutup kenangannya dengan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga dan orang-orang yang mencintai Fajar. Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa seseorang sering kali meninggalkan jejak melalui hal-hal sederhana yang mungkin tidak pernah ia bayangkan akan dikenang.
Bagi siapa pun yang sedang menghadapi tekanan berat atau memiliki pikiran untuk menyakiti diri, mencari bantuan profesional merupakan langkah penting.
Psikolog, psikiater, layanan kesehatan mental, keluarga, atau orang yang dipercaya dapat menjadi tempat pertama untuk mencari pertolongan. Dalam situasi darurat, segera hubungi layanan kegawatdaruratan atau fasilitas kesehatan terdekat. (udn)
TRIGGER WARNING: Informasi berikut ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bila Anda merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan Anda ke pihak-pihak profesional seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.