- Gambar ilustrasi AI / Gemini
Internet of Things (IoT) Makin Mengubah Dunia, Kenali Peran Programmer hingga Insinyur IoT yang Dibutuhkan di Masa Depan
tvOnenews.com - Internet of Things (IoT) perlahan mengubah cara manusia berinteraksi dengan teknologi. Bukan hanya ponsel atau komputer yang terhubung ke internet, tetapi juga kendaraan, mesin industri, perangkat kesehatan, sistem pertanian, hingga berbagai infrastruktur perkotaan.
Perangkat-perangkat tersebut dapat mengumpulkan data melalui sensor, mengirimkannya melalui jaringan, kemudian menghasilkan informasi yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan.
Perkembangan itu berlangsung dalam skala yang semakin besar. IoT Analytics memperkirakan jumlah perangkat IoT yang terhubung secara global mencapai 21,1 miliar pada 2025, meningkat 14 persen dibandingkan 2024.
Jumlah tersebut diproyeksikan mencapai 39 miliar perangkat pada 2030 dan lebih dari 50 miliar pada 2035. Pertumbuhan tersebut juga dipengaruhi oleh perkembangan kecerdasan buatan yang semakin membutuhkan data dari perangkat dan lingkungan fisik.
Besarnya ekosistem tersebut membuat IoT tidak lagi sekadar persoalan perangkat yang bisa terhubung ke internet. Di baliknya terdapat kebutuhan terhadap programmer, software engineer, embedded engineer, Product Development Engineer, network engineer, hingga Insinyur IoT.
Mereka bekerja pada bagian berbeda tetapi saling terhubung, mulai dari menulis kode, merancang sistem, menghubungkan sensor, mengolah data, sampai memastikan sebuah produk dapat bekerja secara aman dan sesuai kebutuhan.
IoT Menjadi Bagian dari Infrastruktur Teknologi Masa Depan
Secara sederhana, Internet of Things adalah konsep yang memungkinkan perangkat fisik memiliki kemampuan untuk mengumpulkan, bertukar, dan memproses data melalui jaringan.
Sensor menjadi salah satu komponen penting. Sensor dapat digunakan untuk membaca suhu, kelembapan, lokasi, tekanan, pergerakan, konsumsi energi, maupun kondisi sebuah mesin. Data yang dikumpulkan kemudian dapat diproses menggunakan perangkat komputasi, jaringan, cloud, atau edge computing.
Namun, nilai IoT tidak berhenti pada pengumpulan data. Data tersebut dapat digunakan untuk memantau kondisi secara real time, menemukan pola, melakukan otomatisasi, hingga membantu manusia mengambil keputusan.
Karena itu, perkembangan IoT semakin beririsan dengan teknologi lain seperti artificial intelligence (AI), cloud computing, big data dan cybersecurity.
Kombinasi tersebut bahkan melahirkan istilah AIoT atau Artificial Intelligence of Things, ketika perangkat yang terhubung tidak hanya mengirimkan data tetapi juga menggunakan kecerdasan buatan untuk menganalisis kondisi tertentu.
Penerapannya sudah terlihat di sejumlah negara maju. Singapura, misalnya, menggunakan kombinasi data, sensor, dan otomatisasi dalam berbagai solusi Smart City.
Smart Nation Sensor Platform di negara tersebut menghubungkan jaringan sensor untuk mengumpulkan dan menganalisis data yang dapat mendukung perencanaan kota dan pelayanan kepada masyarakat.
Di Jerman, konsep serupa berkembang melalui Industry 4.0. Pemerintah Jerman menggambarkan masa depan industri sebagai ekosistem ketika manusia, mesin, dan proses produksi saling terhubung secara digital. Teknologi Industrial Internet of Things juga digunakan untuk memanfaatkan data dari proses produksi, termasuk untuk pemantauan mesin, pemeliharaan, dan pengelolaan rantai pasok.
Programmer hingga Product Development Engineer Punya Peran Berbeda
Semakin kompleks sistem IoT, semakin beragam pula kemampuan yang dibutuhkan. Programmer menjadi salah satu fondasi karena perangkat dan sistem membutuhkan kode untuk menjalankan fungsi tertentu.
Dalam proyek IoT, kemampuan tersebut dapat mencakup pengembangan aplikasi, backend, API, hingga software yang berjalan pada perangkat edge.
Di sisi lain, seorang Systems Engineer atau Insinyur IoT perlu memahami bagaimana berbagai komponen tersebut bekerja sebagai sebuah sistem.
Pemerintah Singapura, misalnya, mencantumkan pekerjaan seperti merancang arsitektur sistem IoT, mengembangkan perangkat edge, membuat API dan layanan backend, serta bekerja bersama product manager dan engineer untuk memahami kebutuhan pengguna.
Sementara itu, Product Development Engineer berada pada tahap pengembangan produk. Perannya dapat mencakup perancangan, pengujian, integrasi komponen, pemecahan masalah teknis, hingga memastikan sebuah produk dapat berfungsi dalam kondisi nyata.
Artinya, profesi di bidang IoT membutuhkan kombinasi kemampuan yang semakin luas. Penguasaan bahasa pemrograman saja belum tentu cukup.
Seorang profesional juga perlu memahami jaringan, perangkat keras, komunikasi data, sistem operasi, keamanan, pengolahan data, dan karakteristik pengguna.
Perubahan tersebut juga menunjukkan bahwa teknologi masa depan tidak hanya membutuhkan orang yang mampu membuat perangkat, tetapi mereka yang mampu menghubungkan perangkat dengan kebutuhan manusia dan proses bisnis.
Tantangan Indonesia Menyiapkan Talenta IoT
Perkembangan global tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia. Pertumbuhan penggunaan IoT akan membutuhkan talenta yang tidak hanya memahami teknologi secara teoritis, tetapi juga mampu mengembangkan solusi untuk persoalan nyata.
Salah satu contoh perjalanan talenta Indonesia di bidang ini dapat dilihat dari Firmansyah Helmi Kurniawan atau Firman Kurniawan. Ia menempuh pendidikan D4 Teknik Multimedia dan Jaringan sebelum mengembangkan karier di bidang telekomunikasi dan IoT.
Pengalamannya mencakup kompetisi teknologi, riset akademik, hingga pengembangan produk. Firman tercatat sebagai co-author pada dua publikasi internasional yang diindeks IEEE dan Google Scholar, masing-masing mengenai sistem GPS Tracking untuk perkebunan sawit dalam ICICoS 2025 dan pemodelan sinyal detak jantung Indonesia pada ICOCIE 2024. Ia juga menulis buku referensi IoT yang diterbitkan PNJ Press mengenai monitoring tandon air hidroponik.
Di dunia industri, Firman bekerja sebagai Product Development Engineer di PT Mitra Akses Globalindo (MAGNET). Bersama timnya, ia terlibat dalam pengembangan Prismax, platform komunikasi data untuk wilayah rural yang mengintegrasikan protokol IP dan non-IP. Produk tersebut pernah dipamerkan dalam CommunicAsia Singapore dengan fasilitasi Kementerian Perindustrian RI.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan di bidang IoT dapat berada di persimpangan antara pemrograman, jaringan, perangkat keras, riset, dan pengembangan produk. Jalurnya pun tidak selalu bermula dari satu profesi tertentu. Kemampuan dapat berkembang mengikuti kebutuhan teknologi dan pengalaman yang dibangun.
- ist
Pada akhirnya, pertumbuhan IoT bukan sekadar tentang berapa banyak perangkat yang terkoneksi. Perubahan yang lebih besar terjadi ketika data dari perangkat tersebut mulai menjadi bagian dari cara manusia mengelola kota, industri, transportasi, pertanian, kesehatan, dan berbagai layanan lainnya.
Dengan proyeksi jumlah perangkat IoT yang terus meningkat hingga puluhan miliar dalam satu dekade mendatang, kebutuhan terhadap talenta yang mampu membangun dan mengelola ekosistem tersebut juga akan semakin penting.
Tantangan Indonesia ke depan bukan hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi memastikan semakin banyak tenaga profesional yang mampu menciptakan, mengembangkan, dan mengadaptasi teknologi untuk kebutuhan di dalam negeri. (udn)