- tim tvOne - Sri Cahyani Putri
14 Tahun UUK DIY, Memetri Kaistimewan Dorong Keistimewaan Semakin Dekat dengan Masyarakat
Pembukaan Memetri Kaistimewan berlangsung di Lapangan Paseban, Bantul, pada 15 Agustus 2026. Kegiatan tersebut menghadirkan Jathilan dan Toneel Kaistimewan yang mengangkat keberagaman kabupaten dan kota di DIY. Suasana kebersamaan juga dibangun melalui senam bersama lansia.
Selain pertunjukan budaya, masyarakat diperkenalkan dengan VR Tata Ruang yang menghadirkan pengalaman interaktif untuk mempertemukan pengetahuan tata ruang dengan nilai keistimewaan. Rangkaian tersebut juga dilengkapi layanan kependudukan, literasi, kesehatan, dan UMKM. Pelibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah diharapkan tidak sekadar menjadi pelengkap kegiatan, tetapi turut menggerakkan perekonomian masyarakat di sekitar lokasi.
Puncak Memetri Kaistimewan 14 Tahun UUK DIY selanjutnya digelar di Balai Budaya Tamanmartani, Sleman, pada 31 Agustus 2026 lalu. Momentum tersebut menjadi ruang refleksi atas perjalanan keistimewaan selama 14 tahun sekaligus menegaskan tanggung jawab untuk terus menjaganya.
Salah satu bagian utama dalam puncak kegiatan adalah Kenduri Kaistimewan yang diisi Kirab Budaya, Tari Ritual Memetri Kaistimewan, Umbul Donga, potong tumpeng, hingga Kembul Bujana Memetri Kaistimewan. Rangkaian tersebut mempertemukan masyarakat dengan praktik budaya yang masih hidup sekaligus memperkuat kebersamaan.
Memetri Kaistimewan akan ditutup secara resmi di Teras Malioboro Beskalan pada 12 September 2026. Penutupan menghadirkan workshop Mewiru Jarik, Wayang Suket, dan Membuat Dluwang yang membuka ruang pembelajaran budaya secara partisipatif bagi masyarakat.
Selain workshop, Swaraning Kaistimewan menjadi ruang ekspresi musik dan kreativitas masyarakat dari berbagai kabupaten dan kota di DIY. Beragam genre ditampilkan, mulai dari pop, keroncong, reggae, band religi hingga musik disabilitas.
Kegiatan tersebut melibatkan peserta lintas usia, termasuk anak-anak dan penyandang disabilitas. Keterlibatan berbagai kelompok itu memperlihatkan bahwa keistimewaan dapat menjadi ruang yang inklusif bagi masyarakat untuk berpartisipasi, berkarya, dan mengekspresikan kreativitas.
Penutupan rangkaian secara simbolis dilakukan melalui pembunyian otok-otok secara bersama-sama. Bunyi tersebut menjadi penanda berakhirnya rangkaian kegiatan sekaligus pengingat bahwa proses memetri tidak berhenti setelah acara selesai.
“Penutupan ini bukan berarti proses memetri juga selesai. Justru setelah rangkaian peringatan berakhir, semangat untuk merawat keistimewaan perlu terus dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari,” ucap Kurniawan.