news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Paniradya Pati Kaistimewan menyampaikan rangkaian agenda Memetri Kaistimewan kepada media..
Sumber :
  • tim tvOne - Sri Cahyani Putri

14 Tahun UUK DIY, Memetri Kaistimewan Dorong Keistimewaan Semakin Dekat dengan Masyarakat

Empat belas tahun perjalanan UU Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY menjadi momentum untuk memaknai keistimewaan sebagai bagian kehidupan masyarakat
Jumat, 11 September 2026 - 23:05 WIB
Reporter:
Editor :

Yogyakarta, tvOnenews.com - Empat belas tahun perjalanan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (UUK DIY) menjadi momentum untuk kembali memaknai keistimewaan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Keistimewaan dinilai tidak hanya berkaitan dengan kebijakan dan kewenangan pemerintah, tetapi juga mencakup nilai, budaya, pengetahuan, serta berbagai praktik kehidupan yang terus berkembang dari generasi ke generasi.

Paniradya Pati Kaistimewan DIY, Kurniawan, mengatakan bahwa semangat tersebut menjadi landasan pelaksanaan rangkaian Memetri Kaistimewan 14 Tahun UUK DIY. Menurutnya, istilah memetri memiliki makna merawat, menjaga, sekaligus menghidupkan kembali sesuatu yang dipandang bernilai.

“Memetri Kaistimewan kami tempatkan bukan sekadar sebagai kegiatan peringatan, tetapi sebagai ajakan untuk bersama-sama merawat nilai, pengetahuan, budaya, serta kehidupan yang menjadi bagian dari keistimewaan Yogyakarta,” jelas Kurniawan dalam Media Gathering Memetri Kaistimewan di Omah Dhuwur Kotagede, Jumat (11/9/2026).

Ia menegaskan, keistimewaan tidak semestinya hanya dipahami melalui sejarah maupun regulasi. Nilai tersebut perlu diwujudkan dalam perilaku masyarakat, karya, pembangunan, pelayanan, serta berbagai aktivitas yang memberikan manfaat secara nyata.

Karena itu, pelaksanaan keistimewaan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah memiliki tanggung jawab menghadirkan kebijakan, pelayanan, dan program sesuai kewenangan keistimewaan. Pada saat yang sama, masyarakat, komunitas, pelaku budaya, pelaku usaha, akademisi, generasi muda, serta unsur lainnya turut memiliki peran dalam menjaga agar keistimewaan tetap hidup dan relevan.

Keterlibatan masyarakat menjadi penting karena nilai dan praktik keistimewaan pada dasarnya tumbuh dari kehidupan masyarakat Yogyakarta. Pemerintah tidak dapat menjalankan upaya tersebut seorang diri.

Kepala Bidang Perencanaan Pengendalian Urusan Keistimewaan, Andreas Bayu Nugroho mengatakan bahwa tema “Mulyaning Manah, Mukti ing Bumi, Wibawaning Jagad” yang diusung tahun ini menjadi pengingat bahwa keistimewaan harus bermuara pada peningkatan kualitas kehidupan masyarakat.

"Nilai itu perlu diterjemahkan melalui perilaku, karya, pembangunan yang memberikan manfaat, serta kontribusi bersama untuk Yogyakarta," ujarnya.

Rangkaian Memetri Kaistimewan tahun ini pun dirancang tidak sebatas seremoni. Berbagai kegiatan disiapkan agar masyarakat dapat mengenal, mempelajari, sekaligus mengalami secara langsung berbagai aspek keistimewaan yang berkaitan dengan seni, budaya, teknologi, pembelajaran, pelayanan publik, hingga aktivitas ekonomi.

Pembukaan Memetri Kaistimewan berlangsung di Lapangan Paseban, Bantul, pada 15 Agustus 2026. Kegiatan tersebut menghadirkan Jathilan dan Toneel Kaistimewan yang mengangkat keberagaman kabupaten dan kota di DIY. Suasana kebersamaan juga dibangun melalui senam bersama lansia.

Selain pertunjukan budaya, masyarakat diperkenalkan dengan VR Tata Ruang yang menghadirkan pengalaman interaktif untuk mempertemukan pengetahuan tata ruang dengan nilai keistimewaan. Rangkaian tersebut juga dilengkapi layanan kependudukan, literasi, kesehatan, dan UMKM. Pelibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah diharapkan tidak sekadar menjadi pelengkap kegiatan, tetapi turut menggerakkan perekonomian masyarakat di sekitar lokasi.

Puncak Memetri Kaistimewan 14 Tahun UUK DIY selanjutnya digelar di Balai Budaya Tamanmartani, Sleman, pada 31 Agustus 2026 lalu. Momentum tersebut menjadi ruang refleksi atas perjalanan keistimewaan selama 14 tahun sekaligus menegaskan tanggung jawab untuk terus menjaganya.

Salah satu bagian utama dalam puncak kegiatan adalah Kenduri Kaistimewan yang diisi Kirab Budaya, Tari Ritual Memetri Kaistimewan, Umbul Donga, potong tumpeng, hingga Kembul Bujana Memetri Kaistimewan. Rangkaian tersebut mempertemukan masyarakat dengan praktik budaya yang masih hidup sekaligus memperkuat kebersamaan.

Memetri Kaistimewan akan ditutup secara resmi di Teras Malioboro Beskalan pada 12 September 2026. Penutupan menghadirkan workshop Mewiru Jarik, Wayang Suket, dan Membuat Dluwang yang membuka ruang pembelajaran budaya secara partisipatif bagi masyarakat.

Selain workshop, Swaraning Kaistimewan menjadi ruang ekspresi musik dan kreativitas masyarakat dari berbagai kabupaten dan kota di DIY. Beragam genre ditampilkan, mulai dari pop, keroncong, reggae, band religi hingga musik disabilitas.

Kegiatan tersebut melibatkan peserta lintas usia, termasuk anak-anak dan penyandang disabilitas. Keterlibatan berbagai kelompok itu memperlihatkan bahwa keistimewaan dapat menjadi ruang yang inklusif bagi masyarakat untuk berpartisipasi, berkarya, dan mengekspresikan kreativitas.

Penutupan rangkaian secara simbolis dilakukan melalui pembunyian otok-otok secara bersama-sama. Bunyi tersebut menjadi penanda berakhirnya rangkaian kegiatan sekaligus pengingat bahwa proses memetri tidak berhenti setelah acara selesai.

“Penutupan ini bukan berarti proses memetri juga selesai. Justru setelah rangkaian peringatan berakhir, semangat untuk merawat keistimewaan perlu terus dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari,” ucap Kurniawan.

Ke depan, pelaksanaan keistimewaan diharapkan semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat. Kebudayaan perlu berjalan beriringan dengan pengembangan pengetahuan, penguatan ekonomi masyarakat, pelayanan publik, pertanahan, tata ruang, serta bidang lain yang menjadi bagian dari kewenangan keistimewaan.

Kurniawan mengatakan momentum 14 tahun UUK DIY juga menjadi kesempatan untuk mengevaluasi berbagai hal yang telah dilakukan sekaligus melihat aspek yang masih perlu diperbaiki. Dengan demikian, keistimewaan tidak hanya menjadi warisan sejarah, tetapi terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat Yogyakarta dalam menghadapi tantangan masa depan. (Scp/Ard)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:13
01:04
02:14
01:59
04:13
03:53

Viral