- Tangkapan layar instagram
Rekam Jejak Phra Wachirayan, Biksu Thailand yang Kini Terseret Kasus Penggelapan Uang dan Skandal Video Seksual
tvOnenews.com - Nama Phra Wachirayan Wi mendadak menjadi sorotan publik Thailand setelah biksu senior berusia 66 tahun itu ditangkap polisi pada 10 September 2026. Ia ditangkap dalam penyelidikan dugaan penggelapan dan pencucian uang yang nilainya disebut mencapai lebih dari 92 juta baht atau sekitar Rp49 miliar.
Namun, sebelum kasus tersebut mencuat, Phra Wachirayan bukan sosok yang asing di lingkungan keagamaan Thailand. Ia dikenal sebagai Luang Pho Atichot Thammawaro dan pernah memimpin Wat Phutthaisawan, salah satu kuil penting di Ayutthaya.
Namanya juga dikenal di kalangan penggemar benda-benda spiritual Thailand karena dikaitkan dengan pembuatan “เหรียญเหนือดวง” atau “Koin Nuea Duang”.
Perjalanan hidupnya di lingkungan Sangha Thailand bahkan menunjukkan kenaikan posisi yang cukup panjang. Ia mulai menjadi biksu pada 1997, kemudian menduduki jabatan sebagai pembantu kepala biara, menjadi pelaksana tugas kepala biara, hingga akhirnya dipercaya sebagai kepala Wat Phutthaisawan pada 2022. Dua tahun kemudian, ia menerima gelar kebiarawan tingkat nasional sebagai Phra Wachirayan.
Mulai Menjadi Biksu pada 1997
Phra Wachirayan Wi memiliki nama Dharma Atichot Thammawaro. Sejumlah media Thailand mencatat ia lahir pada 21 November 1959 dan menjalani pentahbisan sebagai biksu pada 22 Januari 1997 di Wat Phutthaisawan, Ayutthaya.
Sebelum dikenal luas sebagai kepala biara, ia menjalani pendidikan keagamaan dan disebut berhasil menyelesaikan tingkat Nak Tham Ek, salah satu jenjang pendidikan Dhamma dalam sistem pendidikan Buddhis Thailand.
Setelah bertahun-tahun menjalankan tugas keagamaan, kariernya dalam struktur administrasi Sangha mulai terlihat pada 2016 ketika ia ditunjuk sebagai pembantu kepala biara Wat Phutthaisawan.
Wat Phutthaisawan sendiri memiliki posisi penting dalam sejarah Ayutthaya. Kuil tersebut didirikan pada abad ke-14 dan berkaitan dengan Raja U Thong, pendiri Kerajaan Ayutthaya. Pada 23 Juni 2006, Wat Phutthaisawan resmi diangkat menjadiพระอารามหลวง atau kuil kerajaan tingkat tiga.
- Tangkapan layar threads
Dengan demikian, posisi kepala biara di tempat tersebut bukan sekadar jabatan internal sebuah kuil. Ia juga berada dalam lingkungan keagamaan yang memiliki nilai sejarah dan status khusus di Thailand.
Dari Pembantu Kepala Biara hingga Mendapat Gelar Phra Wachirayan
Karier Phra Wachirayan kemudian terus berkembang. Pada 2021, ia dipercaya menjadi pelaksana tugas kepala biara Wat Phutthaisawan. Setahun kemudian, pada 2022, ia resmi menjadi kepala biara kuil tersebut.
Jenjang status keagamaannya juga meningkat. Pada 28 Juli 2019, ia menerima gelar sebagai Phra Khru Phawanaphattharakhun, dengan posisi sebagai pembantu kepala kuil kerajaan tingkat pertama pada bidang Vipassana.
Kemudian pada 28 Juni 2024, ia memperoleh gelar Phra Wachirayan sebagai พระราชาคณะชั้นสามัญ atau salah satu tingkatan gelar kebiarawanan resmi dalam struktur Sangha Thailand.
Kenaikan tersebut membuat namanya semakin dikenal di luar lingkungan Wat Phutthaisawan. Ia tidak hanya berperan sebagai pemimpin sebuah kuil, tetapi juga memiliki status formal dalam struktur keagamaan Thailand.
Sebelum kasus hukum muncul, sosoknya juga erat dengan dunia benda-benda spiritual atau amulet Thailand. Salah satu yang paling dikenal adalah “เหรียญเหนือดวง” atau “Koin Nuea Duang”, yang juga disebut sebagai “เหรียญยกฐานะ”.
Benda tersebut dibuat pada 2006 untuk memperingati pengangkatan Wat Phutthaisawan menjadi kuil kerajaan.
Sumber-sumber Thailand mencatat bahwa Phra Wachirayan, yang saat itu lebih dikenal sebagai Luang Pho Atichot, terlibat dalam pembuatan dan ritual benda tersebut. Prosesi ritualnya dilakukan pada Agustus 2006 dan melibatkan sejumlah biksu senior.
Dari Tokoh Keagamaan ke Kasus Dana Kuil
Rekam jejak tersebut membuat penangkapan Phra Wachirayan menjadi semakin mencolok. Sosok yang sebelumnya memiliki posisi tinggi dalam struktur Sangha dan dikenal di kalangan pengikutnya kini harus menghadapi penyelidikan pidana.
Polisi Thailand mulai menyelidiki kasus tersebut pada pertengahan Juli 2026 setelah menerima laporan anonim mengenai dugaan penyalahgunaan dana. Dalam penyelidikan, aparat menemukan dua aliran dana yang disebut tidak masuk ke rekening resmi kuil.
Aliran pertama berkaitan dengan donasi sekitar 89 juta baht untuk renovasi kuil. Aliran kedua mencapai sekitar 2,8 juta baht dan berkaitan dengan pembayaran benda-benda spiritual atau benda keagamaan. Totalnya lebih dari 92 juta baht.
“Uang dari kedua aliran dana tersebut tidak masuk ke rekening kuil -- tidak satu Baht pun,” kata penyidik utama Pattanasak Bupphasuwan, seperti dilaporkan media yang mengutip penyelidikan polisi.
Dalam penggeledahan, polisi juga menyita aset yang nilainya disebut mencapai sekitar 215 juta baht, termasuk emas batangan dan perhiasan serta sejumlah sertifikat tanah. Aparat masih menyelidiki mana aset yang merupakan milik pribadi dan mana yang berkaitan dengan kuil.
Kasus tersebut kemudian berkembang setelah polisi juga menemukan rekaman CCTV yang diduga memperlihatkan Phra Wachirayan bersama seorang perempuan berusia 47 tahun. Perempuan tersebut turut ditangkap karena diduga membantu mengalihkan atau menyembunyikan dana.
Setelah penangkapan, Phra Wachirayan tidak lagi menjalankan statusnya sebagai biksu. Namun, seluruh tuduhan terkait penggelapan dan pencucian uang masih berada dalam proses penyidikan dan belum menjadi putusan pengadilan.
Perjalanan Phra Wachirayan pun kini memasuki babak yang sangat berbeda. Selama hampir tiga dekade sejak ditahbiskan pada 1997, ia membangun posisi dari lingkungan Wat Phutthaisawan hingga menjadi kepala kuil dan menerima gelar Phra Wachirayan pada 2024.
Kini, rekam jejak tersebut menjadi bagian penting untuk memahami bagaimana seorang tokoh keagamaan yang sebelumnya dikenal luas dapat berakhir dalam salah satu kasus yang tengah mengguncang institusi Buddhis Thailand. (udn)