- Gambar ilustrasi AI / Gemini
Bukan Cuma Panel Surya, Ini 5 Tantangan Besar Transisi Energi di Asia Tenggara
Tantangan kelistrikan di kawasan Asia Tenggara memiliki kesamaan, mulai dari penyesuaian regulasi, perizinan, hingga struktur kontrak proyek. Salah satu contohnya adalah proyek baterai Collie di Australia Barat, yang memiliki kapasitas 560 megawatt (MW) dan beroperasi secara bertahap sejak Oktober 2024 hingga Juli 2025.
“Inklusi sosial dan ketahanan energi adalah semangat dari target 100GWp, termasuk menghadirkan energi melalui program elektrifikasi desa. Sebagian besar desa tersebar di daerah terpencil dan bergantung pada sektor pertanian dan perikanan lokal, sehingga penggunaan PLTS untuk kegiatan produktif merupakan solusi yang tepat,” ujar Ketua Umum AESI, Mada Ayu Habsari.
Pemerataan Listrik Membutuhkan Regulasi dan Pendanaan yang Tepat
Pembangunan pembangkit tidak cukup hanya mengandalkan kesiapan teknologi. Proyek energi terbarukan juga memerlukan dukungan pemerintah, ekosistem lokal, dan skema bisnis yang sesuai dengan karakteristik setiap daerah.
Direktur Eksekutif Earth Sherpa, Hirotaka Koike, mengingatkan bahwa persoalan operasional di lapangan sering luput dari pembahasan kebijakan tingkat makro.
“Tantangan operasional di lapangan seringkali luput dari diskusi kebijakan makro. Kunci keberhasilan proyek skala komunitas terletak pada pembangunan ekosistem lokal yang mendukung, serta sinyal politik nasional yang kuat untuk mewujudkan visi sistem energi tersebut,” tegasnya.
Sementara itu, Deputy Program Director New Energy Nexus, Zhou Yu, menilai elektrifikasi berbasis komunitas dapat membantu menggabungkan proyek PLTS atap berskala kecil menjadi portofolio yang menarik bagi investor.
Model ini juga berpotensi menyediakan listrik bersih yang andal dan terjangkau di daerah terpencil serta kepulauan yang kurang ekonomis dijangkau jaringan konvensional.
“Aset energi terbarukan terdistribusi sering kali berskala kecil dengan biaya pengembangan yang cukup tinggi. Oleh karena itu, modal konsesional harus ditargetkan spesifik untuk memitigasi risiko awal dan merangkum aset-aset kecil ini menjadi satu portofolio terpadu,” ujar Senior Manager Climate Policy Initiative (CPI) Indonesia, Luthfyana Kartika Larasati.
Agregasi proyek dapat menciptakan skala investasi yang lebih memadai sehingga membuka peluang keterlibatan pemodal institusional.
Contoh lain datang dari Jerman. Badan regulator jaringan energi Jerman, Bundesnetzagentur, mencatat kapasitas terpasang surya negara itu mencapai 99,3 GW pada akhir 2024. Pengembangan surya juga berjalan bersama penggunaan baterai, termasuk pembangkit surya skala kecil yang dipasang di balkon rumah. Pengalaman tersebut menunjukkan besarnya peran pembangkit terdistribusi, meski pengembangannya tetap membutuhkan jaringan dan mekanisme integrasi yang memadai.