- Gambar ilustrasi AI / Gemini
Viral QRIS Diduga Terhubung Judi Online, Polda Metro Jaya Ingatkan Warga Jangan Asal Masukkan PIN
tvOnenews.com - Pembayaran menggunakan QRIS kini menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat, mulai dari membeli makanan di warung hingga berbelanja di toko.
Prosesnya praktis: konsumen cukup memindai kode, memeriksa nominal, lalu memasukkan PIN untuk menyelesaikan transaksi. Namun, kemudahan ini tetap membutuhkan ketelitian, terutama saat memastikan siapa pihak yang menerima uang.
Kekhawatiran itu mencuat setelah unggahan seorang pengguna media sosial mengenai kode QRIS yang dianggap mencurigakan di sebuah warung menjadi perbincangan.
Pengguna tersebut mengaku menemukan nama merchant yang tidak sesuai dengan tempat ia hendak melakukan pembayaran. Dugaan kemudian berkembang di kalangan warganet, termasuk kemungkinan kode tersebut berkaitan dengan layanan pengisian saldo judi online.
Temuan yang ramai dibicarakan itu memunculkan pertanyaan tentang keamanan transaksi digital: apakah kode pembayaran yang terpasang di suatu tempat selalu terhubung dengan pemilik usaha tersebut?
Ketidaksesuaian nama penerima memang patut diperiksa, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan adanya transaksi judi online atau tindak pidana. Karena itu, Polda Metro Jaya mengingatkan masyarakat agar memeriksa identitas penerima dan tidak melanjutkan pembayaran jika informasi yang muncul mencurigakan.
QRIS Mencurigakan Viral, Nama Merchant Jadi Sorotan
Perbincangan mengenai QRIS yang diduga terhubung dengan judi online bermula dari pengalaman seorang pengguna media sosial yang mengaku menemukan kejanggalan saat hendak membayar di sebuah warung.
Pengalaman itu dibagikan melalui akun Threads pada Rabu (14/10/2026), setelah kejadian yang disebut berlangsung pada Selasa (13/10) malam. Saat kode QR dipindai, nama merchant yang muncul di layar ponsel disebut tidak sesuai dengan tempat konsumen melakukan transaksi.
Unggahan tersebut kemudian menarik perhatian warganet lain. Sejumlah pengguna mengaku pernah menjumpai situasi serupa, sementara sebagian lainnya mencurigai nama penerima pembayaran berkaitan dengan layanan pengisian saldo judi online.
Meski begitu, dugaan yang muncul di media sosial perlu dibedakan dari fakta yang telah terverifikasi. Nama merchant yang berbeda dapat menjadi alasan untuk menunda pembayaran dan meminta penjelasan, tetapi tidak otomatis membuktikan bahwa kode tersebut digunakan untuk menampung uang dari aktivitas ilegal.
Untuk mengetahui apakah terdapat penyalahgunaan, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap identitas merchant, penerima dana, serta bank atau Penyedia Jasa Pembayaran (PJP) yang memproses transaksi.
Bagi konsumen, langkah paling penting bukan menebak tujuan penggunaan kode tersebut, melainkan memastikan informasi penerima cocok dengan pihak yang seharusnya menerima pembayaran.
Polda Metro Jaya Minta Warga Cek Nama Merchant Sebelum Memasukkan PIN
Menanggapi keresahan tersebut, Polda Metro Jaya mengimbau masyarakat untuk memeriksa nama merchant dan Penyedia Jasa Pembayaran sebelum memasukkan PIN ketika menggunakan QRIS.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto menegaskan bahwa identitas penerima perlu dipastikan terlebih dahulu agar dana tidak terkirim kepada pihak yang keliru.
“Pastikan identitas penerima sesuai dengan toko atau pihak yang menjadi tujuan pembayaran. Apabila terdapat ketidaksesuaian atau identitas merchant mencurigakan, jangan melanjutkan transaksi,” ujar Budi, Kamis (15/10/2026).
Artinya, memindai kode QR saja tidak cukup untuk memastikan transaksi aman. Konsumen perlu membaca informasi yang tampil pada layar konfirmasi, termasuk nama penerima dan nominal pembayaran, sebelum menyetujui transaksi.
Jika nama yang muncul berbeda dari nama toko atau pihak yang dituju, sebaiknya hentikan proses pembayaran sementara. Tanyakan kepada penjual apakah kode tersebut benar milik usahanya dan pastikan penjelasan yang diberikan masuk akal.
Jangan memasukkan PIN hanya karena penjual menyediakan kode QR atau karena antrean sedang ramai. Kebiasaan memeriksa informasi sebelum menyetujui transaksi merupakan langkah sederhana untuk mengurangi risiko salah bayar.
Hal ini juga membantu konsumen mengenali kejanggalan lebih awal, sebelum uang berpindah ke rekening atau akun penerima.
Penting pula untuk tidak langsung menyebarkan tuduhan terhadap toko atau pihak tertentu hanya berdasarkan nama merchant yang dianggap aneh. Jika ada indikasi penyalahgunaan, penelusuran sebaiknya diserahkan kepada penyedia jasa pembayaran dan otoritas terkait.
Telanjur Membayar QRIS Mencurigakan? Simpan Bukti dan Segera Melapor
Polda Metro Jaya juga meminta masyarakat melaporkan kode QRIS yang tidak sesuai atau diduga digunakan untuk menampung dana ilegal. Pengaduan dapat disampaikan kepada bank atau penyedia jasa pembayaran terkait, Bank Indonesia, maupun Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sesuai dengan jenis permasalahan yang ditemukan.
Jika pembayaran telanjur dilakukan, konsumen disarankan segera menyimpan seluruh informasi transaksi. Bukti yang perlu disiapkan meliputi tangkapan layar, nomor referensi, waktu transaksi, nominal pembayaran, dan identitas merchant yang muncul di aplikasi.
Budi mengingatkan agar masyarakat tidak menunda pelaporan apabila menemukan transaksi yang mencurigakan.
“Segera hubungi layanan resmi bank atau Penyedia Jasa Pembayaran untuk melaporkan dugaan transaksi mencurigakan dan simpan nomor tiket pengaduan sebagai bukti pelaporan serta keperluan tindak lanjut,” kata Budi.
Nomor tiket pengaduan penting untuk membantu konsumen memantau perkembangan laporan. Gunakan saluran resmi yang tercantum pada aplikasi atau situs penyedia layanan, dan jangan memberikan PIN, kata sandi, maupun kode OTP kepada pihak yang mengaku membantu proses pengaduan.
Perlu dipahami bahwa pelaporan tidak otomatis menjamin dana dapat dikembalikan. Penanganannya bergantung pada hasil pemeriksaan, kondisi transaksi, serta prosedur penyedia jasa pembayaran. Karena itu, melapor sesegera mungkin dapat membantu proses penelusuran.
Kasus QRIS yang ramai diperbincangkan ini menjadi pengingat bahwa keamanan pembayaran digital bukan hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kebiasaan pengguna memeriksa informasi. Masyarakat perlu memastikan nama penerima sesuai, berhenti ketika menemukan kejanggalan, dan menyimpan bukti apabila terjadi masalah.
Pada akhirnya, QRIS yang diduga terkait judi online belum dapat dipastikan hanya dari unggahan viral atau ketidaksesuaian nama merchant. Namun, satu langkah pencegahan berlaku untuk setiap transaksi: periksa identitas penerima sebelum memasukkan PIN. Jika tidak cocok atau mencurigakan, jangan lanjutkan pembayaran sampai ada konfirmasi yang dapat dipercaya. (udn)