- Antara
Trump Batalkan Gelombang Serangan Kedua ke Venezuela, Sebut Kerja Sama AS–Caracas Berjalan Baik
Trump bahkan mengklaim bahwa perusahaan-perusahaan minyak raksasa Amerika akan menggelontorkan investasi dalam jumlah masif.
“Setidaknya 100 miliar dolar AS akan diinvestasikan oleh perusahaan minyak besar,” klaimnya.
Namun, klaim tersebut menuai keraguan dari industri minyak. Sejumlah pelaku industri menilai pemulihan infrastruktur energi Venezuela membutuhkan waktu panjang, biaya besar, dan kepastian politik, sesuatu yang belum sepenuhnya terjamin.
Rencana yang digagas pejabat senior pemerintahan Trump, termasuk Menteri Energi Chris Wright dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dinilai sebagai upaya pengendalian yang belum pernah terjadi sebelumnya atas sumber daya energi negara lain.
Wright mengakui bahwa pemerintah AS masih menyusun skema teknis, termasuk mekanisme penjualan minyak dan penempatan hasil pendapatannya.
AS Belum Tutup Pintu Keterlibatan Militer Jangka Panjang
Meski membatalkan serangan kedua, Trump belum sepenuhnya menutup kemungkinan keterlibatan militer jangka panjang di Venezuela. Ia sebelumnya menyebut AS berpotensi “mengelola” Venezuela dalam waktu yang cukup lama.
Ketika ditanya media AS soal durasi kendali Amerika, Trump menjawab singkat, “Saya kira akan jauh lebih lama.”
Selain itu, Trump juga mengisyaratkan langkah lanjutan untuk menargetkan kartel narkoba di darat, setelah beberapa bulan terakhir AS melakukan serangan terhadap kapal-kapal yang diduga terkait perdagangan narkoba di kawasan Karibia dan Pasifik Timur.
Posisi Oposisi dan Kritik Trump
Pekan depan, pemimpin oposisi Venezuela María Corina Machado dijadwalkan mengunjungi Washington DC. Trump menyatakan dirinya menantikan pertemuan tersebut, meski sebelumnya ia melontarkan keraguan soal kapasitas Machado sebagai pemimpin Venezuela.
“Dia perempuan yang sangat baik, tapi dia tidak punya dukungan dan rasa hormat yang cukup untuk menjadi pemimpin,” ujar Trump.
Pernyataan itu menambah kompleksitas dinamika politik Venezuela pasca tumbangnya Maduro, di tengah ketidakpastian arah masa depan negara kaya minyak tersebut. (nsp)