- Istimewa
Megatsunami Greenland Guncang Dunia: Gelombang 200 Meter Picu Getaran Global Selama 9 Hari
Jakarta, tvOnenews.com - Fenomena megatsunami mengejutkan dunia setelah gelombang raksasa setinggi sekitar 200 meter menghantam wilayah Greenland Timur dan memicu getaran seismik global selama sembilan hari berturut-turut. Peristiwa ini bukan sekadar tsunami biasa, melainkan megatsunami langka yang menurut para ilmuwan menjadi bukti nyata bahwa dampak pemanasan global kini mulai mengubah stabilitas geologi Bumi.
Megatsunami tersebut terjadi di kawasan Dickson Fjord, wilayah terpencil di Greenland Timur, namun dampaknya terekam oleh sensor gempa di berbagai belahan dunia, dari Kutub Utara hingga Antartika. Para peneliti menyebut kejadian ini sebagai salah satu fenomena megatsunami terbesar dalam sejarah modern yang pernah tercatat secara ilmiah.
Kronologi Longsor Raksasa Pemicu Megatsunami
Peristiwa megatsunami Greenland ini bermula pada September 2023, namun penyebab detailnya baru terungkap lewat laporan ilmiah internasional yang dipublikasikan akhir 2024. Pemicunya adalah runtuhnya puncak gunung setinggi sekitar 1,2 kilometer ke dalam perairan sempit Dickson Fjord.
Material yang jatuh diperkirakan mencapai 25 juta meter kubik batu dan es, setara dengan sekitar 10.000 kolam renang Olimpiade. Ketika massa raksasa tersebut menghantam air, tercipta lonjakan air ekstrem setinggi 200 meter, yang langsung dikategorikan sebagai megatsunami, jauh melampaui skala tsunami konvensional yang biasanya dipicu gempa bumi.
Berbeda dengan tsunami tektonik yang menyebar ke laut terbuka, megatsunami ini terperangkap di dalam fjord sempit, sehingga energinya memantul berulang kali dan menghasilkan dampak yang jauh lebih panjang.
Fenomena Seiche: Saat Megatsunami Membuat Bumi “Berdering”
Yang membuat ilmuwan global awalnya kebingungan bukan hanya tinggi gelombang megatsunami, melainkan sinyal seismik aneh yang terekam hampir di seluruh dunia. Sensor gempa mencatat getaran monoton dengan interval sekitar 90 detik, berlangsung tanpa henti selama sembilan hari.
Setelah dianalisis, getaran tersebut disebabkan oleh fenomena seiche, yakni gelombang berdiri yang terjadi ketika air dalam cekungan sempit berosilasi bolak-balik. Dalam kasus ini, megatsunami Greenland terjebak di Dickson Fjord, menciptakan getaran stabil yang cukup kuat untuk membuat permukaan Bumi seolah “berdering” seperti lonceng raksasa.
Para peneliti menyebut ini sebagai salah satu contoh pertama di mana megatsunami dapat memicu sinyal seismik global yang bertahan begitu lama tanpa dipicu aktivitas tektonik.
Hubungan Langsung Megatsunami dengan Pemanasan Global
Tim peneliti yang melibatkan 68 ilmuwan dari 15 negara menyimpulkan bahwa penyebab utama megatsunami Greenland ini adalah perubahan iklim. Selama beberapa dekade terakhir, gletser di kaki gunung di kawasan tersebut terus menipis akibat kenaikan suhu global.
Gletser yang sebelumnya berfungsi sebagai “penopang alami” lereng gunung kehilangan kekuatannya. Akibatnya, struktur batuan menjadi tidak stabil dan akhirnya runtuh, memicu longsor raksasa yang melahirkan megatsunami.
Dengan kata lain, megatsunami ini bukan sekadar bencana alam biasa, melainkan sinyal nyata bahwa pemanasan global mulai memengaruhi keseimbangan geologi di wilayah kutub.
Dampak Nyata Meski Terjadi di Wilayah Terpencil
Meski terjadi di kawasan yang tidak berpenghuni, dampak megatsunami Greenland tetap signifikan. Sebuah pangkalan militer di Pulau Ella, yang terletak puluhan kilometer dari pusat longsor, dilaporkan hancur total diterjang gelombang.
Beruntung, tidak ada personel yang berada di lokasi saat peristiwa terjadi, sehingga tidak menimbulkan korban jiwa. Namun, para ilmuwan menilai kejadian ini menunjukkan betapa destruktifnya megatsunami, bahkan ketika terjadi jauh dari pemukiman manusia.
Alarm Global bagi Wilayah Pesisir Dunia
Peristiwa megatsunami di Greenland menjadi peringatan serius bahwa wilayah Arktik tengah mengalami perubahan drastis. Stabilitas geologis yang selama ini dianggap permanen kini mulai goyah seiring mencairnya es kutub akibat krisis iklim.
Jika tren pemanasan global terus berlanjut, para ahli memperkirakan kejadian megatsunami serupa dapat menjadi lebih sering, terutama di kawasan fjord sempit dan wilayah pesisir dengan lereng curam. Ancaman ini tidak hanya membahayakan ekosistem, tetapi juga jalur pelayaran internasional dan permukiman di pesisir utara dunia.
Fenomena ini menegaskan bahwa krisis iklim tidak selalu datang dalam bentuk bencana tunggal yang instan, melainkan rangkaian peristiwa ekstrem seperti megatsunami, longsor raksasa, dan perubahan geologi mendadak yang secara perlahan mengubah wajah Bumi. (nsp)