- Istimewa
Siapa “Pemilik” Selat Hormuz? Jalur Minyak Dunia yang Kini Jadi Arena Latihan Iran, Rusia, dan Tiongkok
Jakarta, tvOnenews.com - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran menggelar latihan militer laut di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi urat nadi distribusi energi global. Latihan bertajuk Smart Control of the Hormuz Strait itu tidak hanya melibatkan Iran, tetapi juga diikuti Rusia dan Tiongkok, menambah sorotan dunia terhadap kawasan yang setiap hari dilalui jutaan barel minyak.
Latihan yang digelar oleh Islamic Revolutionary Guard Corps berlangsung di tengah tekanan Amerika Serikat dan dinamika perundingan tidak langsung antara Teheran dan Washington. Aktivitas militer tersebut bahkan sempat diiringi uji coba rudal serta peringatan kepada pelaut tentang adanya latihan tembakan langsung di wilayah perairan tersebut.
Situasi ini memunculkan pertanyaan besar di tingkat global: siapa sebenarnya “memiliki” Selat Hormuz?
Bukan Milik Satu Negara
Secara geografis, Selat Hormuz berada di antara Iran di sisi utara dan Oman di sisi selatan. Kedua negara memiliki garis pantai yang langsung berbatasan dengan selat sempit tersebut, yang pada titik tersempitnya hanya memiliki lebar sekitar 33 kilometer.
Dalam hukum laut internasional, negara pantai berhak atas wilayah laut teritorial hingga 12 mil laut dari garis pantainya. Karena jarak selat yang relatif sempit, wilayah laut Iran dan Oman saling bertemu dan tumpang tindih, sehingga yurisdiksi hukum atas kawasan itu secara teknis berada di bawah keduanya.
Artinya, secara geografis Iran dan Oman memiliki kendali langsung atas wilayah pesisir Selat Hormuz. Namun, kendali ini bukan berarti kepemilikan eksklusif.
Jalur Internasional yang Dilindungi Hukum Laut
Selat Hormuz dikategorikan sebagai international strait atau selat internasional berdasarkan Konvensi Hukum Laut Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNCLOS). Status ini menjadikan selat tersebut sebagai jalur pelayaran global yang harus tetap terbuka bagi semua negara.
Dalam aturan UNCLOS, kapal komersial maupun militer memiliki hak “transit passage” atau hak lintas transit. Hak ini memungkinkan kapal melintas tanpa gangguan selama tidak mengancam keamanan negara pantai.
Dengan ketentuan tersebut, Iran maupun Oman tidak dapat secara sepihak menutup Selat Hormuz bagi pelayaran internasional. Penutupan total akan dianggap melanggar hukum internasional dan berpotensi memicu krisis global.
Inilah yang membuat Selat Hormuz berbeda dari perairan nasional biasa. Ia bukan milik satu negara, melainkan jalur strategis dunia yang penggunaannya dilindungi oleh hukum maritim internasional.
Jalur Vital 20 Persen Pasokan Energi Dunia
Selat Hormuz memiliki arti ekonomi yang luar biasa. Sekitar 20 persen konsumsi minyak global—setara kurang lebih 20 juta barel per hari—melewati koridor sempit ini. Selain itu, lebih dari seperempat perdagangan gas alam cair (LNG) dunia juga melintasi jalur yang sama.
Minyak dan gas tersebut berasal dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Kuwait, Irak, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Iran, sebelum dikirim ke pasar Asia, Eropa, hingga Amerika.
Karena sebagian besar ekspor energi kawasan tidak memiliki jalur alternatif, stabilitas Selat Hormuz menjadi faktor kunci bagi harga energi dunia. Gangguan sekecil apa pun di wilayah ini dapat langsung memicu lonjakan harga minyak global.
Iran Punya Posisi Geografis Paling Dominan
Meski tidak “memiliki” selat secara penuh, Iran memegang posisi strategis yang sangat kuat. Negara itu menguasai seluruh garis pantai utara Selat Hormuz serta sejumlah pulau penting yang berada dekat jalur pelayaran utama.
Keunggulan geografis ini memberi Teheran kemampuan pengawasan militer yang signifikan terhadap lalu lintas kapal. Dalam kondisi konflik, Iran secara teori dapat memantau, memperingatkan, bahkan mengganggu navigasi di kawasan tersebut—meski tindakan ekstrem berisiko melanggar hukum internasional.
Faktor inilah yang membuat setiap aktivitas militer Iran di Selat Hormuz selalu mendapat perhatian besar dari dunia.
Latihan Gabungan Iran, Rusia, dan Tiongkok
Latihan militer terbaru juga melibatkan Rusia dan Tiongkok sebagai bagian dari kerja sama keamanan maritim yang telah berlangsung rutin sejak 2019. Kapal perang Rusia dilaporkan tiba di Pelabuhan Bandar Abbas untuk berpartisipasi dalam latihan gabungan.
Selama latihan, pasukan melakukan simulasi manuver laut, navigasi bersama, komunikasi militer, hingga pengamanan jalur pelayaran sipil. Komando pasukan dilakukan secara bergantian antara Iran dan Rusia.
Kehadiran tiga kekuatan besar ini mempertegas dimensi geopolitik Selat Hormuz, yang tidak hanya penting secara ekonomi, tetapi juga menjadi titik strategis dalam rivalitas global.
Jalur Dagang yang Sudah Penting Sejak Zaman Kuno
Sejak berabad-abad lalu, Selat Hormuz telah menjadi jalur perdagangan utama yang menghubungkan Asia dengan Timur Tengah. Pada masa lampau, komoditas seperti sutra, keramik, gading, dan tekstil dari Tiongkok melewati kawasan ini sebelum mencapai pasar Barat.
Di era modern, peran historis itu bertransformasi menjadi jalur distribusi energi terbesar di dunia, menjadikannya salah satu choke point maritim paling vital bagi ekonomi global.
Bukan Sekadar Selat, Tapi Titik Keseimbangan Dunia
Selat Hormuz bukan hanya jalur air sempit di peta. Ia adalah titik temu antara hukum internasional, kepentingan energi, dan kekuatan militer global.
Iran dan Oman memang memiliki kendali geografis, tetapi status internasional selat tersebut menjadikannya milik bersama komunitas dunia. Setiap aktivitas di sana—baik latihan militer maupun ketegangan politik—selalu berdampak jauh melampaui kawasan Teluk.
Karena itulah, setiap kali Selat Hormuz memanas, dunia ikut menahan napas. (nsp)