- ANTARA
Ali Khamenei, Sang Simbol Perlawanan Iran: Dari Presiden Perang hingga Penguasa Bayangan Timur Tengah
Penindakan keras terhadap protes pemilu 2009 dan gelombang demonstrasi 2022 terkait hak perempuan menegaskan gaya kepemimpinan Khamenei yang memandang oposisi domestik sebagai ancaman keamanan nasional. Stabilitas negara, dalam pandangannya, harus dijaga dengan segala cara.
Dari Pragmatis ke Konfrontatif
Meski dikenal keras, Khamenei bukan tanpa pragmatisme. Ia memberi restu pada perjanjian nuklir 2015 atau JCPOA demi meredakan tekanan ekonomi. Namun keputusan AS di era Trump untuk menarik diri dari kesepakatan itu mengubah segalanya. Sejak saat itu, Khamenei menutup pintu dialog dengan Washington dan kembali ke garis konfrontasi.
Ia mendorong strategi “bukan damai, bukan perang”, sembari memperkuat jaringan sekutu regional yang dikenal sebagai “poros perlawanan”—mulai dari Hizbullah di Lebanon, Hamas di Palestina, hingga Houthi di Yaman. Strategi ini menjadikan Iran aktor kunci di Timur Tengah, sekaligus target utama Israel.
Ketegangan mencapai puncaknya setelah perang Israel-Hamas dan serangkaian serangan Israel terhadap target Iran. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahkan secara terbuka melontarkan ancaman langsung terhadap Khamenei—sebuah eskalasi yang sebelumnya nyaris tabu.
Simbol Perlawanan, Figur Kontroversial
Bagi pendukungnya, Ali Khamenei adalah simbol keteguhan—pemimpin yang menolak tunduk pada Amerika Serikat dan Israel, serta menjaga martabat Iran di panggung global. Bagi para pengkritiknya, ia adalah simbol stagnasi: pemimpin yang kian terputus dari aspirasi generasi muda yang mendambakan reformasi, kebebasan, dan perbaikan ekonomi.
Warisan Khamenei bukanlah hitam-putih. Ia berhasil menjaga kelangsungan Republik Islam selama lebih dari 30 tahun di tengah tekanan eksternal yang luar biasa. Namun, harga yang dibayar rakyat Iran juga tak kecil—dari isolasi internasional hingga represi domestik.
Meninggalnya Ali Khamenei berpotensi menjadi titik balik terbesar Republik Islam Iran sejak 1979. Sosok “Simbol Perlawanan” itu telah tiada, tetapi pengaruhnya masih membekas dalam struktur negara, militer, dan arah politik Iran. Dunia kini menanti: apakah warisan perlawanan itu akan dilanjutkan, atau justru membuka babak baru bagi Iran dan Timur Tengah. (nsp)