news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Fakta-fakta Mengerikan Kapal Tanker Bermuatan Minyak Dibajak di Somalia, 4 WNI Kena Sandera.
Sumber :
  • istimewa

Kronologi Pembajakan Kapal Tanker di Somalia, 4 WNI Masih Disandera dan Menunggu Proses Penyelamatan

Kronologi pembajakan kapal tanker Honour 25 di Somalia, 4 WNI masih disandera, pemerintah terus upayakan penyelamatan.
Senin, 27 April 2026 - 20:58 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com — Kasus pembajakan kapal tanker di perairan Somalia kembali menjadi perhatian publik. Kapal tanker Honour 25 dilaporkan dibajak saat berlayar di wilayah rawan tersebut, dengan total 17 awak kapal di dalamnya, termasuk empat Warga Negara Indonesia (WNI) yang hingga kini masih berada dalam penyanderaan.

Peristiwa ini menyoroti kembali ancaman keamanan di jalur pelayaran internasional, khususnya di kawasan perairan Somalia yang dikenal rawan aksi perompakan.

Kronologi Awal: Sinyal Ancaman dari Kapten Kapal

Pembajakan kapal tanker Honour 25 bermula dari komunikasi terakhir antara kapten kapal, Ashari Samadikun, dengan istrinya, Santi Sanaya.

Pada Selasa, 20 April 2026 sekitar pukul 19.30 WITA, Ashari sempat melakukan panggilan video dan mengirim pesan suara yang mengabarkan adanya potensi serangan bajak laut.

Dalam pesan tersebut, ia menyebut kapal yang dinahkodainya berada dalam ancaman serius.

Tak lama setelah itu, komunikasi mulai terganggu. Ponsel Ashari sempat aktif, namun tidak memberikan respons saat dihubungi kembali oleh keluarga.

Kapal Dibajak di Perairan Somalia

Sehari setelah komunikasi tersebut, tepatnya pada 21 April 2026, kapal tanker Honour 25 resmi dibajak oleh perompak di perairan Somalia.

Kapal berbendera Oman itu diketahui sedang dalam perjalanan dari Oman menuju wilayah Somalia saat insiden terjadi.

Total terdapat 17 awak kapal di dalamnya, dengan komposisi:

  • 4 WNI

  • 10 warga Pakistan

  • 1 warga India

  • 1 warga Myanmar

Empat WNI tersebut berasal dari Sulawesi Selatan, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.

Komunikasi Terputus dan Kabar Mencekam

Beberapa jam setelah pesan suara terakhir, komunikasi antara Ashari dan keluarganya terputus total. Situasi ini membuat keluarga diliputi kecemasan.

Baru pada Jumat malam, 24 April 2026, komunikasi kembali terjalin melalui panggilan video. Dalam percakapan tersebut, Ashari terlihat berada di bawah pengawasan para perompak bersenjata.

Meski tidak dalam kondisi disekap secara fisik, suasana di kapal tampak tegang. Para awak kapal berada di tengah tekanan psikologis akibat situasi yang tidak menentu.

Permintaan Tebusan dan Ancaman

Dalam komunikasi tersebut, diketahui bahwa para perompak meminta tebusan kepada pihak kapal. Bahkan, terdapat ancaman serius jika permintaan tersebut tidak dipenuhi.

Kondisi ini semakin menambah kekhawatiran keluarga, terutama karena belum ada kepastian terkait proses negosiasi yang sedang berlangsung.

Harapan Keluarga kepada Pemerintah

Keluarga korban, termasuk ibu kandung Ashari, Sitti Aminah, berharap pemerintah Indonesia segera mengambil langkah konkret untuk menyelamatkan para awak kapal.

Permintaan bantuan juga disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto agar memberikan perhatian khusus terhadap kasus ini.

Di sisi lain, pihak keluarga terus berharap agar para korban dapat kembali dengan selamat ke Indonesia.

Upaya Pemerintah dan Koordinasi Internasional

Kementerian Luar Negeri RI menyatakan telah melakukan langkah-langkah koordinasi untuk menangani kasus ini.

Melalui KBRI Nairobi, pemerintah Indonesia menjalin komunikasi intensif dengan berbagai pihak di Somalia, termasuk otoritas setempat dan pemangku kepentingan terkait.

Upaya ini difokuskan pada keselamatan para awak kapal, termasuk empat WNI yang saat ini masih berada dalam kendali perompak.

Kondisi Terkini Masih Menunggu Perkembangan

Meski komunikasi sempat terjalin, situasi di atas kapal disebut masih berubah-ubah dan penuh ketidakpastian. Para awak kapal menghadapi tekanan mental akibat kondisi penyanderaan.

Hingga saat ini, belum ada informasi resmi terkait pembebasan para korban. Proses penyelamatan dan negosiasi masih terus diupayakan oleh pemerintah dan pihak terkait dengan mengedepankan keselamatan seluruh awak kapal.

Kasus ini menjadi pengingat serius akan pentingnya perlindungan bagi pelaut Indonesia yang bekerja di jalur pelayaran internasional berisiko tinggi. (nsp)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

14:29
09:58
23:28
07:28
04:36
01:10

Viral