- Freepik/rorozoa
Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius Bikin Dunia Waspada, Ini Cara Penyebaran dan Negara yang Kini Memburu Penumpang
Jakarta, tvOnenews.com - Wabah hantavirus di kapal pesiar MV Hondius kini memicu kewaspadaan internasional setelah sejumlah negara mulai melacak penumpang dan awak kapal yang diduga terpapar virus mematikan tersebut.
Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization mengonfirmasi sedikitnya enam kasus hantavirus telah ditemukan terkait wabah di kapal pesiar itu. Dari jumlah tersebut, satu orang dipastikan meninggal dunia, sementara dua kematian lain masih menunggu konfirmasi resmi apakah berkaitan dengan hantavirus.
Kasus ini menjadi perhatian global karena melibatkan kapal ekspedisi internasional dengan ratusan penumpang dan awak dari puluhan negara.
Berdasarkan data operator kapal Oceanwide Expeditions, terdapat 178 penumpang dan kru dari 28 negara berada di atas MV Hondius selama pelayaran berlangsung.
Penumpang dan Awak dari 28 Negara Ikut Dipantau
Data pada grafik yang diunggah menunjukkan mayoritas awak kapal berasal dari Filipina dengan total 38 orang. Sementara penumpang terbanyak berasal dari Inggris sebanyak 31 orang dan Amerika Serikat 23 orang.
Selain itu, terdapat penumpang dan kru dari Belanda, Spanyol, Jerman, Kanada, Prancis, Swiss, Singapura hingga India.
WHO menyebut saat ini sedikitnya 12 negara tengah melakukan pelacakan terhadap warga mereka yang sempat berada di kapal atau melakukan kontak dengan penumpang setelah turun dari kapal.
Negara-negara tersebut meliputi:
-
Amerika Serikat
-
Inggris
-
Jerman
-
Belanda
-
Spanyol
-
Swiss
-
Denmark
-
Singapura
-
Swedia
-
Turki
-
Kanada
-
Afrika Selatan
Peta pemantauan global yang diunggah memperlihatkan penyebaran pelacakan kasus dari Amerika Utara hingga Asia.
Apa Itu Hantavirus?
Hantavirus merupakan kelompok virus yang umumnya ditularkan hewan pengerat kepada manusia.
Virus ini dikenal dapat menyebabkan penyakit serius seperti gangguan paru-paru hingga gagal ginjal.
Dalam kasus MV Hondius, WHO menyebut wabah diduga melibatkan galur Andes hantavirus, jenis yang langka karena bisa menular antarmanusia melalui kontak dekat dan intens.
Meski demikian, WHO menegaskan wabah ini tidak seperti pandemi Covid-19 karena penyebarannya jauh lebih sulit terjadi.
Bagaimana Hantavirus Menyebar?
Berdasarkan infografik yang diunggah, hantavirus umumnya berasal dari urin, kotoran, atau air liur hewan pengerat yang mengandung partikel virus.
Manusia bisa tertular ketika menghirup udara yang telah terkontaminasi partikel virus tersebut.
Selain lewat udara, penularan juga dapat terjadi melalui:
-
Luka terbuka
-
Mata
-
Gigitan hewan pengerat
-
Kontak dekat dengan penderita galur Andes hantavirus
Infografik tersebut juga menjelaskan dua dampak utama hantavirus terhadap tubuh manusia:
Dampak Hantavirus
-
Kerusakan paru-paru dan gangguan pernapasan
-
Pendarahan internal serta gagal ginjal
WHO menyebut masa inkubasi hantavirus dapat mencapai enam minggu. Karena itu, masih ada kemungkinan jumlah kasus akan terus bertambah dalam beberapa pekan ke depan.
Kronologi Wabah di Kapal MV Hondius
Kapal MV Hondius memulai perjalanan dari Ushuaia, Argentina pada 1 April 2026.
Dari peta perjalanan yang diunggah, kapal sempat singgah di Tristan da Cunha dan Pulau St Helena sebelum bergerak menuju Kepulauan Canary, Spanyol.
Beberapa peristiwa penting dalam wabah ini antara lain:
-
11 April: Penumpang pertama meninggal
-
24 April: Sejumlah penumpang turun di St Helena
-
26 April: Seorang perempuan meninggal di Johannesburg
-
27 April: Penumpang lain jatuh sakit dan diterbangkan ke rumah sakit
-
3 Mei: Kapal tiba di Tanjung Verde
-
8 Mei: WHO mulai meningkatkan pemantauan internasional
WHO juga menyebut ini merupakan kasus pertama penularan hantavirus yang diketahui terjadi di dalam kapal pesiar.
Negara-negara Mulai Lakukan Karantina dan Pelacakan
Sejumlah negara kini bergerak cepat melakukan isolasi dan pelacakan kontak.
Di Inggris, beberapa warga telah melakukan isolasi mandiri setelah diduga terpapar virus.
Di Amerika Serikat, otoritas kesehatan di lima negara bagian memantau penumpang yang sempat berada di kapal, meski belum ditemukan gejala serius.
Sementara di Spanyol, kedatangan MV Hondius di Tenerife sempat memicu penolakan dari pemerintah Kepulauan Canary karena kekhawatiran penyebaran virus.
Belanda, Swiss, Prancis hingga Afrika Selatan juga melaporkan pemantauan terhadap penumpang maupun kru yang sempat melakukan kontak dengan pasien positif.
Risiko untuk Publik Dinilai Masih Rendah
Meski kasus ini memicu perhatian internasional, WHO menegaskan risiko penyebaran luas kepada masyarakat umum masih rendah.
Hal itu karena galur Andes hantavirus tidak menyebar semudah virus pernapasan lain seperti Covid-19.
Namun para ahli tetap meminta masyarakat waspada, terutama jika memiliki riwayat kontak dengan hewan pengerat atau berada di lingkungan dengan sanitasi buruk.
Kasus di MV Hondius kini menjadi salah satu wabah hantavirus internasional terbesar yang pernah mendapat perhatian dunia dalam beberapa tahun terakhir. (nsp)