- KJRI Cape Town
KJRI Cape Town Semarakkan HUT Ke-81 RI: Merawat Persatuan hingga Menghidupkan Jejak Sejarah Bangsa di Afrika Selatan
Peringatan kemerdekaan Indonesia di Cape Town juga memiliki dimensi sejarah yang kuat. Afrika Selatan merupakan rumah bagi komunitas Cape Malay, yaitu komunitas Muslim yang sebagian leluhurnya berasal dari wilayah Indonesia dan tiba di Afrika Selatan sejak ratusan tahun lalu. Populasi komunitas tersebut kini diperkirakan telah melampaui 330.000 orang.
Kedekatan sejarah itu masih terlihat dalam berbagai unsur bahasa dan tradisi Cape Malay. Sejumlah kata bahasa Indonesia, seperti *puasa*, *buka puasa*, *lebaran*, dan *terima kasih*, masih dikenal di kalangan masyarakat Cape Malay. Tradisi *ratieb*, yang memiliki kemiripan dengan tradisi debus di Indonesia, juga menjadi salah satu warisan budaya yang menunjukkan hubungan historis kedua masyarakat.
Hubungan tersebut berawal pada masa Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), ketika Tanjung Harapan dijadikan pos perdagangan dan tempat perbekalan bagi kapal-kapal yang melintasi rute antara Eropa dan Hindia Belanda. Wilayah itu juga digunakan sebagai tempat pengasingan tokoh politik dan agama dari berbagai wilayah koloni, termasuk Indonesia.
Salah satu tokoh terpenting adalah Syekh Yusuf Al-Makassari dari Gowa, yang diasingkan ke Cape Town karena perjuangannya melawan penjajahan Belanda. Selain dikenal sebagai salah satu tokoh yang berperan penting dalam perkembangan Islam di Afrika Selatan, perjuangannya juga menjadi inspirasi bagi perlawanan terhadap apartheid. Syekh Yusuf dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia pada 1995 dan penghargaan sebagai pahlawan nasional oleh Pemerintah Afrika Selatan pada 2005.
Tokoh lainnya, Abdullah bin Qadhi Abdussalam asal Tidore yang dikenal sebagai Tuan Guru, membangun Masjid Auwal pada 1794. Masjid pertama di Afrika Selatan tersebut hingga kini masih digunakan oleh masyarakat di kawasan Bo-Kaap, Cape Town, yang menjadi salah satu pusat komunitas Cape Malay.
Sebagai pengakuan atas pentingnya jejak sejarah tersebut, pada 2021 Pemerintah Afrika Selatan menetapkan sejumlah situs makam ulama asal Nusantara di Cape Town dan sekitarnya sebagai bagian dari warisan nasional. Situs-situs itu berkaitan dengan Syekh Yusuf Al-Makassari di Macassar; Tuan Dea Koasa dan Tuan Ismail Dea Malela asal Sumbawa di Simon’s Town; Syekh Mohamed Hassen Ghailbie Shah dan Tuan Kaape-ti-low asal Jawa di Signal Hill; serta Abdurahman Matebe Shah dan Sayed Mahmud asal Sumatra Barat di Constantia.