- Reuters
Benarkah Kim Jong-un Meninggal Dunia Akibat Pendarahan Otak? Korea Utara Langsung Ungkap Fakta Sebenarnya
Lee juga menilai tidak terdapat kejanggalan dalam pemberitaan media pemerintah maupun aktivitas kepemimpinan Korea Utara yang mengindikasikan bahwa Kim Jong-un tidak lagi mampu menjalankan tugasnya.
"Sejauh ini, rumor tersebut hanyalah desas-desus," katanya.
Peneliti senior tersebut mengimbau masyarakat dan pengamat internasional agar tidak terburu-buru menarik kesimpulan hanya karena seorang pemimpin tidak terlihat di hadapan publik.
Terlebih, pemerintah Korea Utara dikenal tertutup dalam menyampaikan informasi mengenai kondisi kesehatan pemimpinnya. Situasi tersebut membuat berbagai spekulasi mengenai keadaan Kim Jong-un mudah berkembang.
Penolakan terhadap rumor tersebut juga datang dari Korea Selatan (Korsel). Seorang pejabat di bidang diplomatik dan keamanan yang identitasnya tidak diungkapkan mengatakan kepada kantor berita Yonhap bahwa pihaknya tidak memperoleh informasi yang mendukung kabar kematian Kim Jong-un.
Rumor Kim Jong-un Meninggal Dunia Pernah Mencuat Enam Tahun Lalu
Spekulasi mengenai kondisi kesehatan Kim Jong-un bukan kali pertama terjadi. Pada 2020, pemimpin Korea Utara itu sempat tidak muncul dalam pemberitaan publik selama beberapa pekan.
Ketidakhadirannya memicu dugaan bahwa ia tengah mengalami masalah kesehatan serius. Bahkan, muncul rumor bahwa Kim Jong-un meninggal dunia setelah menjalani operasi kardiovaskular. Saat itu, seorang pembelot terkenal asal Korea Utara disebut meyakini rumor tersebut dengan tingkat keyakinan 99 persen.
Namun, Kim Jong-un kemudian kembali muncul dalam sebuah kegiatan publik. Kemunculan tersebut meredakan berbagai spekulasi mengenai kondisi kesehatannya yang berkembang saat itu.
Kondisi kesehatan Kim Jong-un terus menjadi perhatian dunia karena ia memimpin Korea Utara, negara yang memiliki persenjataan nuklir dan memegang peran strategis dalam dinamika keamanan Asia Timur.
Kim mengambil alih kekuasaan setelah ayahnya, Kim Jong-il, meninggal dunia pada 2011. Hingga kini, mekanisme pergantian kepemimpinan apabila Kim Jong-un tiba-tiba tidak lagi berkuasa masih menjadi salah satu pertanyaan yang menjadi perhatian pengamat internasional.
Perubahan kekuasaan di Pyongyang berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan, hubungan diplomatik dengan negara-negara tetangga, hingga keamanan persenjataan nuklir Korea Utara.