- Kolase tim tvOnenews.com
Alumni Ponpes Al Zaytun Ungkap Sudah Lelah Jadi Tumbal NII Hingga Diberi Cap Buruk: Tolong Dong, Kami Capek
Jakarta, tvOnenews.com - Nama Panji Gumilang yang merupakan pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Zaytun kini masih jadi perbincangan karena ajarannya yang dinilai menyimpang.
Bahkan Panji Gumilang telah melalui proses penyidikan oleh pihak kepolisian karena terlibat dalam kasus dugaan penistaan agama.
Kini sejumlah dari mantan orang yang dipercaya oleh Panji Gumilang sendiri mulai satu per satu membongkar rahasia milik imam negara Islam tersebut.
Selain itu, banyaknya ajaran Panji Gumilang yang videonya telah viral di media sosial dinilai sebagai ajaran yang menyimpang untuk diberikan kepada santri Ponpes Al Zaytun.
Namun, salah satu Alumni Ponpes Al Zaytun kini telah angkat bicara. Muhammad Ikhsan sebagai alumni merasa lelah dengan semua stigma buruk yang diberikan masyarakat terhadap santri dan alumni Ponpes di Indramayu tersebut.
Pada akhirnya ia memberikan sebuah klarifikasi perbedaan antara Negara Islam Indonesia (NII) dengan Ponpes Al Zaytun itu sendiri.
Seperti apa penjelasan dari Muhammad Ikhsan, simak informasinya berikut ini.
Alumni Ponpes Al Zaytun Lelah di Olok Masyarakat
Alumni Ponpes Al Zaytun, Muhammad Ikhsan. (tvOne)
Alumni Ponpes Al Zaytun, Muhammad Ikhsan mengungkapkan sebuah analogi yang menunjukkan pembentukan NII juga Ponpes Al Zaytun itu sangat berbeda.
Melalui program acara Catatan Demokrasi, tvOne, Ia menjelaskan adanya sebuah doktrin yang akan disebarkan kepada masyarakat layaknya obat terlarang yang dapat mempengaruhi siapapun bila sudah terkena.
Kemudian, Ponpes Al Zaytun merupakan sebuah sekolah legal dengan ajaran yang sesuai dari Kementerian Agama.
Sementara itu Ponpes Al Zaytun serta para santrinya justru menjadi tumbal atas perbuatan anggota NII.
“Ada kelompok orang yang kerjaannya mengedarkan obat terlarang (doktrin). Sudah dikonfirmasikan oleh Pak Mahfud MD bahwa ini adalah bentukan negara (NII),” ungkap Muhammad Ikhsan dalam acara Catatan Demokrasi, tvOne.
“Jadi oleh negara, kelompok ini dibikinkan apotek (Ponpes Al Zaytun) oleh pemerintah. Di dalam apotek itu menjual obat yang sesuai dari BPOM (Kementerian Agama), legal semuanya. Obat-obat itu (ajaran dalam bentuk kurikulum) yang dikonsumsi oleh kami para santri Al Zaytun,” sambungnya.