- istimewa
Kisah Pelarian DN Aidit usai G30S PKI Tumbang, Kabur ke Yogyakarta Hingga Akhirnya Ditembak Mati di Boyolali
Cara Aidit melaksanakan operasi di Jakarta mendapat kecaman bertubi-tubi dari anggota-anggota yang radikal yang menuntut perjuangan bersenjata dengan segera, dan ketika diadakan pemungutan suara, Aidit kalah suara, oleh kombinasi suara Suwarno, Suwardi dan Utomo Ramelan, Wali Kota Solo.
Pertemuan kemudian menyetujui sebuah kebijakan baru, yang diusulkan oleh Utomo Ramelan, bahwa PKI mendukung sepenuhnya operasi Gerakan 30 September dan tujuan-tujuannya, dan bahwa perjuangan bersenjata harus dilancarkan untuk mendukung gerakan itu, merebut kekuasaan pemerintah setempat, dan membela partai.
Nama Presiden Soekarno, dan soal penjagaan keselamatannya, tidak pernah disebut-sebut. Karena kebijakan yang disepakati di Solo dan garis umum partai yang disepakati di Semarang, jelas bertentangan satu sama lain, partai itu kemudian terbagi ke dalam sayap radikal dan sayap moderat beberapa jam kemudian.
Foto: DN Aidit (Dok.Kemdikbud)
Masing-masing sayap mengambil jalan sendiri-sendiri, dengan akibat bahwa konflik mereka itu menjerumuskan seluruh kegiatan partai di seluruh Jawa ke dalam kekacauan luar biasa.
"Kita memiliki sebuah penilaian yang dapat dipercaya tentang perkembangan keadaan di Jawa, pada saat itu, oleh sekelompok pemimpin yang kelak menjadi sayap pro-Moskow PKI.
Dalam waktu 24 jam pimpinan partai di provinsi-prvinsi dan kabupaten-kabupaten ditangkap oleh pihak berwenang secara besar-besaran dan boleh dikatakan tanpa perlawanan." ungkap Victor.
Akhir Kisah Pelarian Dipa Nusantara Aidit
Aminuddin Kasdi dalam buku "Malam Bencana 1965 dalam Belitan Krisis Nasional, Bagian I Rekonstruksi dalam Perdebatan, Diterbitkan pertama kali oleh Yayasan Pustaka Obor Indonesia" menulis,
Pada 3 Oktober 1965 Aidit tiba di Solo, karena Utomo Ramelan (adik dari Ny. Surya Darma-Gerwani) adalah Wali Kota Solo sebagai pilot project PKI.
"Aidit menuju Solo, Karena massa komunis di Solo sangat kuat, menjadikannya basis perlawanan terhadap kekuatan kontra G30S." tulis Aminuddin Kasdi.
Pada 4 Oktober 1965 Aidit berusaha mendapatkan fasilitas pesawat untuk kembali ke Jakarta, memenuhi undangan Presiden Sukarno yang akan menyelenggarakan Sidang Pleno Kabinet Dwikora.
Namun Komodor Suyoto di Panasan tidak bersedia memenuhi permintaan Aidit dengan alasan pesawat terbang rusak. Dan tanggal 5 Oktober 1965 pagi Aidit kembali ke Suyoto untuk meminta pesawat terbang guna ke Bali.