- Istimewa
'Duh Bun, Aku Kesasar ke Gunung Slamet', Pesan Terakhir Syafiq Ali Sebelum Ditemukan Meninggal Dunia, Ayah Pilih Ikhlas
Bagi Dani, peristiwa ini menjadi pelajaran penting bagi semua pihak, khususnya para pendaki pemula.
“Ini jadi pembelajaran buat kita semua. Mendaki itu harus betul-betul dengan izin dan restu orang tua. Jangan sampai terulang,” ujarnya.
Ia berharap Syafiq Ali menjadi anak terakhir yang harus kehilangan nyawa dalam kondisi serupa.
Selama proses pencarian, Dani dan keluarga terus berikhtiar. Doa tak pernah putus, sementara upaya pencarian dilakukan dari satu basecamp ke basecamp lainnya.
“Segala macam cara kami lakukan. Tapi mungkin Allah saat itu belum menunjukkan kekuasaan-Nya. Alhamdulillah Allah menunjukkan jalan sehingga Syafiq bisa ketemu,” katanya.
Di balik duka mendalam, Dani menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh tim SAR gabungan, relawan, dan warga Desa Clekatakan yang tanpa pamrih membantu proses pencarian.
“Mereka luar biasa. Naik turun gunung siang malam, hujan badai, tanpa pandang bulu. Semua ikhlas membantu mencari anak kami,” ungkapnya.
Keluarga juga memutuskan untuk tidak melakukan otopsi terhadap jenazah Syafiq Ali. Dani menegaskan, anaknya meninggal karena musibah dan kecelakaan murni.
“Kami hanya ingin tahu perkiraan waktu meninggalnya anak kami, supaya bisa menentukan hari tahlil. Itu saja,” jelasnya.
Terkait isu yang sempat beredar mengenai keterangan Himawan, sahabat Syafiq sejak SMP yang juga ikut mendaki, Dani memilih untuk tidak berprasangka.
“Saya sudah ikhlas. Saya tidak mengaitkan ini dengan siapa pun. Himawan sahabat Ali, saya anggap juga anak saya sendiri,” tegasnya. (nba)