- Kolase tvOnenews.com/ Istimewa
Pendaki Meninggal di Gunung Slamet Diduga Hipotermia, Ini Penjelasan Lengkap tentang Bahaya Hipotermia
Jakarta, tvOnenews.com – Kasus hipotermia kembali menjadi perhatian publik setelah seorang pendaki bernama Syafiq Ali Razan (18) ditemukan meninggal dunia di Gunung Slamet, Jawa Tengah. Korban sebelumnya dilaporkan hilang selama lebih dari 17 hari sebelum akhirnya ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa. Tim SAR menduga kuat penyebab kematian korban adalah hipotermia, kondisi medis darurat akibat turunnya suhu tubuh secara drastis.
Ketua Operasi SAR Wanadri, Arie Affandi, mengungkapkan bahwa korban diduga meninggal beberapa hari sebelum ditemukan. Tanda-tanda khas hipotermia juga ditemukan di sekitar lokasi, seperti pakaian yang dilepas korban, sepatu dan kaus kaki yang tercecer, serta kondisi tubuh yang menunjukkan paparan dingin ekstrem.
“Korban mengalami hipotermia. Ia sempat melepaskan celana hingga sebatas dengkul, serta sepatu dan kaus kaki. Perlengkapan itu ditemukan di sekitar lokasi,” ujar Arie dalam rekaman video yang diterima media.
Kasus pendaki meninggal akibat hipotermia ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat, khususnya para pendaki gunung dan pecinta alam, tentang bahaya serius dari kondisi tersebut.
Apa Itu Hipotermia?
Hipotermia adalah kondisi gawat darurat ketika suhu tubuh turun di bawah 35 derajat Celsius. Padahal, suhu tubuh normal manusia berkisar antara 36,5 hingga 37,3 derajat Celsius. Ketika tubuh kehilangan panas lebih cepat dibandingkan kemampuan menghasilkan panas, maka risiko hipotermia meningkat.
Dokter emergency dari Perhimpunan Dokter Emergency Indonesia, dr Wisnu Pramudito D Pusponegoro, SpB, menjelaskan bahwa hipotermia dapat mengganggu metabolisme tubuh yang berfungsi menjaga kestabilan suhu.
“Jika suhu tubuh turun di bawah 36 derajat hingga 34 derajat Celsius, metabolisme akan terganggu. Bila sangat berat, metabolisme bisa berhenti dan menyebabkan kematian,” jelas dr Wisnu.
Mengapa Hipotermia Bisa Mematikan?
Dalam kondisi hipotermia berat, organ vital seperti jantung dan otak tidak dapat bekerja optimal. Denyut jantung melambat, pernapasan melemah, hingga berisiko menyebabkan henti jantung. Itulah sebabnya, hipotermia termasuk kondisi medis darurat yang memerlukan penanganan cepat.
Menurut dr Wisnu, lama seseorang bisa bertahan dalam kondisi hipotermia sangat bergantung pada suhu lingkungan, kondisi fisik, kecukupan cairan dan energi, serta apakah pakaian yang dikenakan dalam keadaan basah atau kering.