- pixabay/derneuemann
Mengenal GERD Lebih Dalam Usai Wafatnya Lula Lahfah, Ini Gejala, Penyebab, dan Cara Penanganannya
Jakarta, tvOnenews.com - Kabar meninggalnya selebgram Lula Lahfah di apartemennya di kawasan Jakarta Selatan pada Sabtu (24/1/2026) mengejutkan publik. Polisi menyebutkan, sebelum ditemukan tak bernyawa, Lula diketahui dalam kondisi kesehatan yang kurang baik.
Informasi tersebut diperkuat oleh unggahan Lula di media sosial yang menunjukkan dirinya tengah menjalani perawatan akibat sejumlah penyakit, salah satunya GERD atau penyakit asam lambung kronis.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto mengatakan, kondisi kesehatan Lula memang menurun sebelum peristiwa tersebut terjadi. Jenazah Lula Lahfah kemudian dievakuasi ke rumah sakit untuk proses pemeriksaan lebih lanjut. Hingga kini, pihak keluarga masih menunggu hasil resmi terkait penyebab pasti meninggalnya selebgram berusia 26 tahun tersebut.
Dalam unggahan TikTok pada awal Januari 2026, Lula Lahfah mengungkap dirinya mengalami infeksi saluran kemih, radang usus, batu ginjal, serta GERD. Kondisi tersebut membuat publik kembali menyoroti penyakit asam lambung yang kerap dianggap sepele, padahal dapat berdampak serius jika tidak ditangani dengan baik.
Apa Itu GERD?
GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) adalah kondisi kronis ketika asam lambung naik ke kerongkongan secara berulang akibat melemahnya katup antara lambung dan kerongkongan. Berbeda dengan refluks asam biasa, GERD terjadi lebih sering dan dapat memicu komplikasi jika berlangsung lama.
Menurut lembaga kesehatan internasional, GERD umumnya menimbulkan rasa terbakar di dada (heartburn), nyeri ulu hati, serta rasa asam atau pahit di mulut akibat naiknya isi lambung. Namun, tidak semua penderita mengalami gejala khas tersebut.
Gejala GERD yang Perlu Diwaspadai
Selain heartburn dan regurgitasi, penderita GERD juga dapat mengalami:
-
Nyeri dada
-
Mual dan muntah
-
Sulit menelan atau nyeri saat menelan
-
Batuk kronis
-
Suara serak
-
Gangguan tidur akibat asam lambung naik
Jika gejala tidak membaik meski sudah minum obat, atau disertai tanda bahaya seperti muntah darah, tinja hitam, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, serta nyeri dada hebat, segera periksakan diri ke dokter.
Kasus jenazah Lula Lahfah yang ditemukan di apartemennya menambah kesadaran publik bahwa gangguan kesehatan pencernaan, termasuk GERD, tidak boleh dianggap remeh, terutama bila disertai penyakit lain.
Penyebab dan Faktor Risiko GERD
Beberapa faktor yang meningkatkan risiko GERD antara lain:
-
Kelebihan berat badan atau obesitas
-
Kehamilan
-
Merokok atau paparan asap rokok
-
Konsumsi makanan berlemak, pedas, asam, dan minuman berkafein
-
Konsumsi obat tertentu, seperti obat penenang, penghambat saluran kalsium, obat asma, NSAID, dan antidepresan
Gaya hidup tidak sehat juga dapat memperburuk frekuensi refluks asam lambung.
Cara Menangani GERD
Penanganan GERD umumnya dimulai dari perubahan gaya hidup, antara lain:
-
Menurunkan berat badan bila obesitas
-
Menghindari makanan pemicu asam lambung
-
Tidak langsung berbaring setelah makan
-
Meninggikan posisi kepala saat tidur sekitar 15–20 cm
-
Berhenti merokok
Selain itu, dokter dapat merekomendasikan obat-obatan seperti antasida, penghambat asam lambung, atau obat resep lain sesuai kondisi pasien. Meski tersedia obat bebas, penggunaan jangka panjang sebaiknya tetap dikonsultasikan dengan tenaga medis karena dapat menimbulkan efek samping.
Pada kasus tertentu, terutama jika GERD tidak membaik dengan obat dan perubahan gaya hidup, tindakan pembedahan dapat menjadi pilihan. Prosedur yang umum dilakukan adalah fundoplikasi, yakni memperkuat katup antara lambung dan kerongkongan untuk mencegah refluks. Pada pasien obesitas, operasi bariatrik juga dapat membantu menurunkan berat badan sekaligus meredakan gejala GERD.
Pelajaran dari Kasus Lula Lahfah
Kasus meninggalnya Lula Lahfah dan penanganan jenazah Lula Lahfah menjadi pengingat bahwa kondisi kesehatan kronis, termasuk GERD, perlu ditangani secara serius dan berkelanjutan. Meski GERD jarang langsung menyebabkan kematian, komplikasinya dapat berdampak signifikan terhadap kualitas hidup dan kondisi kesehatan secara umum.
Pakar kesehatan menekankan pentingnya deteksi dini, disiplin menjalani pengobatan, serta menerapkan pola hidup sehat. Dengan penanganan yang tepat, penderita GERD tetap dapat menjalani aktivitas normal dan mengurangi risiko komplikasi di masa depan.
Publik kini menunggu informasi resmi lanjutan terkait penyebab wafatnya Lula Lahfah. Namun, peristiwa ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan saluran pencernaan dan tidak mengabaikan gejala GERD yang muncul. (nsp)