- tvOnenews.com/Taufik Hidayat
Pesan Mendalam Gubernur Jabar KDM soal Dosa Ekologis Longsor Cisarua Bandung Barat: Tamparan Eksploitasi Alam
Bandung, tvOnenews.com - Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (KDM) membicarakan dosa ekologis yang terjadi pada bencana tanah longsor besar di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
KDM numpahkan suara hatinya bahwa, bencana longsor di Cisarua, Bandung Barat, tidak lepas dari kesalahan manusia. Ia pun menyoroti fenomena eksploitasi alam.
Menurut KDM, eksploitasi alam sangat mempengaruhi berbagai perubahan khususnya alih fungsi alam. Hingga akhirnya, tindakan ini membawa malapetaka dan berujung bencana longsor.
"Longsor yang dialami oleh saudara kita di Bandung Barat menjadi catatan penting bahwa, bencana bisa menimpa siapa saja," kata Dedi Mulyadi dalam pernyataan resmi melalui unggahan Instagram pribadinya dikutip tvOnenews.com, Selasa (27/1/2026).
Gubernur Jabar itu enggan menyalahkan para pelaku mengalihfungsi lahan dan alam saja. Tetapi juga orang-orang yang tidak melakukan perubahan berpotensi menjadi korban tertimpa bencana.
"Tanpa orang tersebut melakukan perbuatan yang mengakibatkan bencana," lanjutnya.
Eksploitasi Alam Membawa Bencana
- Antara
Mantan Bupati Purwakarta ini menggambarkan bencana longsor di area kaki Gunung Burangrang sebagai contoh nyata. Eksploitasi alam membawa adanya bencana di suatu lingkungan.
Ia mencontohkan kejadian bencana akhir ini sering terjadi di Jawa Barat. Banyak lereng gunung berubah fungsinya sebagai kebun. Perubahan ini bahkan menggunakan media dari plastik.
Perubahan fungsi lereng menjadi kebun dari media plastik justru tindakan keliru. Seharusnya kawasan lereng gunung harus dilindungi agar tidak terjadinya bencana alam.
"Lereng-lereng gunung berubah menjadi tanaman sayur dan kebun bunga dengan sistem Green House dan penanamannya menggunakan media plastik adalah fakta bahwa, kita sudah berbuat salah terhadap areal-areal perbukitan kita," jelasnya.
Selain longsor, sejumlah wilayah Jawa Barat juga diterpa berbagai bencana. Salah satunya banjir yang menghantam Karawang, Bekasi, dan sebagainya.
KDM sebelumnya menyentil para pengembang atau developer. Sebab, mayoritas banjir di Jawa Barat berasal dari perumahan.
Kemudian, berbagai alih fungsi lahan lainnya juga menandakan manusia telah mengeksploitasi alam. KDM menilai hal tersebut bagian dari tidak peduli pada alam.
"Areal persawahan yang berubah menjadi perumahan, sungai-sungai mengalami pendangkalan, bantaran sungai berubah menjadi kawasan komersial adalah sebuah fakta kita sudah abai terhadap alam semesta," bebernya.
Pria berusia 54 tahun ini mengajak seluruh pihak peduli dengan alam. Tindakan eksploitasi justru menandakan telah berprilaku buruk pada alam.
"Sudah saatnya kita introspeksi diri untuk merubah seluruh perilaku buruk yang menjadikan alam bahan eksploitasi kita," tegasnya.
Ia mengatakan, manusia hanyalah menumpang hidup. Alam sebagai tempat menawarkan adanya kehidupan yang harmonis.
Selain itu, KDM juga menyinggung peran pemerintah. Ia menegaskan, pemerintah harus segera introspeksi setelah adanya kejadian longsor di Bandung Barat.
Terutama Pemprov Jawa Barat, pemerintah harus membuat gebrakan atau kebijakan tata ruang dan pengelolaan lingkungan yang baik.
"Masyarakat pun harus menyadari bahwa tindakan-tindakan yang bertentangan dengan alam, pada akhirnya akan menjadi bencana dan menimpa siapa pun tanpa melihat latar belakang kehidupannya," pesan dia.
Tanah longsor menghantam Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, terjadi pada Sabtu (24/1/2026). Longsor terjadi akibat intensitas hujan yang begitu tinggi.
Selain hujan, angin kencang juga menjadi faktor pemicu kondisi tanah labil. Terutama sangat mempengaruhi tanah di kawasan perbukitan.
Longsor langsung menghantam pemukiman warga di beberapa wilayah di Desa Pasirlangu, antara lain Kampung Pasirkuda, Kampung Pasirkuning, dan Kampung Babakan Cibudah.
Ironisnya, longsor ini di Cisarua juga menyebabkan 23 personel Korps Marinir menjadi korban insiden tersebut. Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Tunggul menyampaikan, empat anggota prajurit ditemukan meninggal dunia.
Sementara, 19 prajurit lainnya masih hilang. TNI mengerahkan 200 prajurit Marinir untuk saling bahu-membahu bersama Tim SAR Gabungan mencari jenazah para korban.
"TNI Angkatan Laut bersama unsur-unsur terkait, hingga saat ini terus berupaya mengevakuasi korban dengan menerjunkan sebanyak 200 personel Marinir, dengan menggunakan teknologi drone, thermal dan anjing pelacak," kata Tunggul, Selasa, 27 Januari 2026.
(hap)