- Istimewa
Ulama dan Pesantren Didorong Perkuat Peran Sosial dalam Pembangunan Daerah
Serang, tvOnenews.com – Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Banten, Dr. KH. Jazuli Juwaini, MA, menegaskan pentingnya peran strategis ulama dan pesantren dalam menjaga karakter, moral, serta arah peradaban masyarakat. Hal tersebut disampaikan dalam acara Milad ke-23 Forum Silaturahim Pondok Pesantren (FSPP) Provinsi Banten yang dirangkai dengan istighosah dan doa bersama untuk korban bencana, di Aula Pendopo Gubernur Banten, Kompleks KP3B, Rabu (28/1/2026).
Acara tersebut turut dihadiri Wakil Gubernur Banten Dimyati Natakusumah, Ketua Umum FSPP Provinsi Banten Dr. KH. Sholeh Rosyad beserta jajaran pengurus, serta para pimpinan pondok pesantren dari berbagai daerah di Banten.
Dalam ceramahnya, Jazuli menyebut bahwa Banten memiliki identitas kuat sebagai daerah ulama dan pesantren. Karena itu, menurutnya, keberadaan pesantren dan ulama harus terus dijaga dan dihormati dalam berbagai situasi, baik dalam kehidupan sosial, budaya, maupun kebangsaan.
“Banten dikenal sebagai provinsi ulama dan pesantren. Maka, di mana pun dan kapan pun, ulama dan pesantren harus dihormati serta dijaga kehormatannya,” ujar Jazuli.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa peran ulama dan pesantren tidak dapat berjalan maksimal tanpa dukungan pemerintah. Oleh karena itu, sinergi antara ulama, pesantren, dan umara dinilai menjadi kunci dalam membangun masyarakat yang berkarakter dan berdaya saing.
Menurut Jazuli, negara telah menunjukkan keberpihakan terhadap pesantren melalui lahirnya Undang-Undang Pesantren yang menjadi dasar penguatan kelembagaan, kebijakan, serta dukungan anggaran bagi pesantren di seluruh Indonesia.
“Undang-Undang Pesantren adalah bukti keberpihakan negara. Tetapi pelaksanaannya tidak cukup di tingkat pusat saja. Pemerintah daerah juga harus menerjemahkannya dalam kebijakan dan alokasi anggaran yang berpihak kepada pesantren,” katanya.
Ia menilai, pesantren memiliki peran strategis dalam mencetak generasi muda yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh sebab itu, pesantren perlu terus beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan yang menjadi fondasinya.
Jazuli juga mengajak para ulama untuk terus memberikan nasihat kepada pemerintah agar kebijakan publik tetap berpihak pada kepentingan umat dan masyarakat luas. Menurutnya, relasi yang sehat antara ulama dan pemerintah akan memperkuat ketahanan sosial serta mendorong pembangunan yang berkeadilan.
Selain itu, ia menyoroti peran pesantren dalam merespons berbagai persoalan kemanusiaan, termasuk saat terjadi bencana alam. Menurutnya, pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan dakwah, tetapi juga pusat solidaritas sosial.
“Peran pesantren tidak berhenti pada doa dan istighosah. Pesantren juga hadir dalam aksi nyata, mulai dari penggalangan donasi, pengiriman bantuan, hingga pengerahan relawan untuk membantu korban bencana,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum FSPP Provinsi Banten Dr. KH. Sholeh Rosyad menyampaikan bahwa Milad ke-23 FSPP menjadi momentum memperkuat kolaborasi antarpesantren serta mempererat hubungan dengan pemerintah daerah dalam menjaga nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan.
Wakil Gubernur Banten Dimyati Natakusumah yang hadir dalam kegiatan tersebut turut mengapresiasi kontribusi pesantren dalam pembangunan daerah, khususnya dalam pembentukan karakter generasi muda dan penguatan kohesi sosial masyarakat.
Kegiatan istighosah dan doa bersama yang digelar dalam rangka milad ini juga menjadi simbol kepedulian pesantren terhadap korban bencana, sekaligus pengingat bahwa peran ulama tidak hanya terbatas pada ranah spiritual, tetapi juga sosial dan kemanusiaan.
Melalui peringatan Milad ke-23 FSPP Banten ini, para pemangku kepentingan berharap sinergi antara ulama, pesantren, dan pemerintah semakin kuat, sehingga pesantren dapat terus menjadi pilar utama dalam membangun masyarakat yang religius, berkarakter, dan berdaya saing di tengah dinamika zaman. (nsp)