- SPPB UI
World Terrorism Index 2025 Dirilis di SPPB UI, Radikalisme pada Anak Muda dan Teror Digital Jadi Sorotan
"Kami menemukan peningkatan dalam radikalisasi dan rekrutmen anak muda melalui platform digital. Kelompok ekstremis kini memanfaatkan media sosial, pesan terenkripsi, hingga fitur percakapan dalam gim daring (online games) untuk menyebarkan propaganda. Metode ini mempercepat proses radikalisasi karena berlangsung efektif, cepat, dan sulit terdeteksi oleh pengawasan konvensional," ungkap tim peneliti.
Selain itu, laporan mencatat eskalasi serangan di sejumlah negara Afrika. Temuan lain adalah kecenderungan pengelompokan geng, kartel, dan jaringan kejahatan terorganisir sebagai organisasi teror. Di satu sisi, klasifikasi ini memperkuat landasan hukum penanganan ancaman, namun di sisi lain berpotensi disalahgunakan untuk kepentingan politik.
Isu kebangkitan kelompok sayap kiri juga menjadi catatan penting. Adapun profil ideologi pelaku serangan pada 2025 didominasi etnonasionalisme atau separatisme, diikuti ideologi keagamaan, motif ekonomi, kategori belum teridentifikasi, serta ideologi kiri.
Respons Yudikatif dan Penegakan Hukum
Dari perspektif yudisial, Ketua Kamar Pidana Mahkamah Agung RI, Dr. Prim Haryadi, S.H., M.H., memaparkan materi berjudul “Perkembangan Putusan Pengadilan dalam Perkara TP Terorisme dan TP Terorisme Pasca Berlakunya KUHP 2023 dan KUHAP 2025.” Ia menyoroti tantangan harmonisasi hukum setelah berlakunya regulasi pidana baru.
Mahkamah Agung, lanjutnya, berfokus menjaga konsistensi putusan hakim dalam menangani perkara terorisme yang kian kompleks, sekaligus menjamin kepastian hukum bagi terdakwa maupun korban di tengah reformasi sistem hukum.
Sementara itu, Kepala Densus 88 AT Polri yang diwakili Kombes Pol Mayndra Eka Wardhana, S.H., S.I.K., M.KP., menyampaikan bahwa intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme masih menjadi ancaman nyata. Dinamika domestik, menurutnya, sangat berkaitan dengan perkembangan terorisme global dan regional.
Ia menegaskan 2025 menjadi momentum pergeseran besar pola rekrutmen dan aktivitas terorisme dari ruang fisik ke ruang digital. Tren perekrutan anak dan pelajar disebut meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya, sehingga memerlukan kewaspadaan kolektif.
Indonesia dinilai memiliki pendekatan kontra-teror yang adaptif dan dinamis. Efektivitas tersebut tercermin dari capaian zero attack selama tiga tahun berturut-turut. Meski demikian, Densus 88 tetap aktif melakukan penindakan di sejumlah wilayah sebagai langkah preventive strike guna menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.