- Istimewa
Viral Paspor Anak Awardee LPDP Berujung Permintaan Maaf, Akui Salah Ucap dan Picu Kegaduhan Publik
Jakarta, tvOnenews.com - Permintaan maaf terbuka disampaikan seorang penerima beasiswa negara, Dwi Sasetyaningtyas, setelah video yang menampilkan paspor Inggris milik anaknya viral dan menuai polemik luas di media sosial. Pernyataan yang sebelumnya dianggap tidak mencerminkan keberpihakan terhadap identitas kebangsaan akhirnya diakui sebagai kesalahan dalam penyampaian di ruang publik.
Video tersebut awalnya memperlihatkan suasana yang disebut sebagai “perayaan kecil”. Sang pemilik akun menunjukkan sebuah paket yang telah ditunggu selama empat bulan. Isi paket itu bukan barang bernilai materi, melainkan surat resmi dari Home Office yang menyatakan anak keduanya telah berstatus warga negara Inggris.
Dalam video itu, ia juga memperlihatkan paspor Inggris milik sang anak. Namun, pernyataan yang kemudian menjadi sorotan publik adalah ucapannya mengenai keinginan agar anak-anaknya memiliki kewarganegaraan asing dengan “paspor kuat”, disertai kalimat, “Cukup aku saja yang WNI.”
Unggahan tersebut segera menyebar luas dan memicu perdebatan. Meski video telah dihapus, rekamannya terlanjur viral dan mengundang beragam reaksi, terutama setelah diketahui bahwa yang bersangkutan merupakan awardee beasiswa LPDP di bawah pengelolaan Kementerian Keuangan.
Menuai Kritik karena Dinilai Tidak Sensitif
Banyak warganet menilai pernyataan tersebut tidak tepat disampaikan oleh penerima beasiswa negara yang pendidikannya didanai dari anggaran publik. Kritik bermunculan, sebagian mempertanyakan komitmen moral penerima beasiswa terhadap bangsa, sementara lainnya menilai ucapan tersebut melukai rasa kebangsaan di tengah situasi sosial dan ekonomi yang dinilai menantang.
Beberapa komentar di media sosial menyoroti bahwa kritik terhadap kebijakan pemerintah merupakan hal yang wajar dalam demokrasi, namun tidak seharusnya disampaikan dengan narasi yang dianggap merendahkan identitas kewarganegaraan.
Di sisi lain, ada pula yang memberikan pembelaan. Sebagian pihak menilai pernyataan tersebut lahir dari kekecewaan pribadi terhadap kondisi tertentu dan tidak bisa langsung dimaknai sebagai penolakan terhadap Indonesia.
Perdebatan ini kemudian berkembang menjadi diskursus lebih luas tentang etika komunikasi publik, tanggung jawab penerima beasiswa negara, hingga batas antara ekspresi pribadi dan sensitivitas kebangsaan.
Sampaikan Permintaan Maaf Terbuka
Menanggapi polemik yang terjadi, Dwi Sasetyaningtyas akhirnya menyampaikan klarifikasi sekaligus permintaan maaf secara terbuka kepada masyarakat.
Ia menyatakan bahwa kalimat yang diucapkannya lahir sepenuhnya dari rasa kecewa, lelah, dan frustrasi pribadi sebagai warga negara terhadap berbagai kondisi yang dirasakannya. Namun, ia mengakui bahwa emosi tersebut tidak seharusnya disampaikan dengan cara yang berpotensi melukai banyak pihak.
Ia juga menyadari bahwa pernyataan tersebut dapat dimaknai sebagai bentuk perendahan terhadap identitas sebagai Warga Negara Indonesia, sesuatu yang tidak pernah menjadi niatnya.
“Kalimat tersebut kurang tepat dan menjadi tanggung jawab saya sepenuhnya,” demikian inti pernyataan yang disampaikannya dalam klarifikasi.
Permohonan maaf itu ditujukan kepada seluruh masyarakat yang merasa tersinggung maupun tidak nyaman akibat unggahan tersebut, sekaligus atas kegaduhan yang timbul di ruang publik.
Akui Kesalahan dalam Berkomunikasi
Dalam pernyataannya, ia secara tegas mengakui kesalahan dalam memilih kata dan menyampaikannya di media sosial. Ia menekankan bahwa apa pun latar belakang emosional yang melatarinya, dampak dari pernyataan tersebut tetap menjadi tanggung jawab pribadi.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas kritik dan masukan yang diberikan masyarakat, yang dinilai sebagai pembelajaran untuk memperbaiki diri, khususnya dalam berkomunikasi secara lebih bijaksana, jernih, dan berempati di ruang publik.
Pernyataan itu sekaligus menjadi refleksi bahwa figur yang memiliki keterkaitan dengan program negara berada dalam sorotan publik yang lebih besar, sehingga setiap pesan yang disampaikan memiliki konsekuensi sosial yang luas.
Tegaskan Tetap Mencintai Indonesia
Selain menyampaikan permohonan maaf, ia juga menegaskan kecintaannya terhadap Indonesia serta harapan untuk tetap dapat berkontribusi bagi bangsa ke depan.
Ia menyatakan bahwa Indonesia tetap menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya, dengan segala harapan dan tantangan yang ada. Pernyataan tersebut sekaligus menjadi upaya meredakan anggapan bahwa dirinya menjauh dari identitas nasional.
Menutup klarifikasinya, ia mengajak masyarakat menjadikan momentum tersebut sebagai refleksi bersama, terlebih menjelang bulan suci Ramadan, untuk saling menata hati, memperbaiki diri, dan memperkuat empati dalam kehidupan bermasyarakat.
Jadi Pelajaran tentang Etika di Ruang Digital
Kasus ini menjadi pengingat bahwa media sosial bukan sekadar ruang personal, tetapi juga ruang publik yang dapat membentuk persepsi luas dalam waktu singkat. Pernyataan yang lahir dari emosi sesaat dapat menimbulkan dampak besar ketika dikaitkan dengan identitas, kebangsaan, dan kepercayaan publik.
Polemik tersebut juga menegaskan pentingnya kehati-hatian dalam menyampaikan pandangan, terutama bagi individu yang memiliki latar belakang sebagai penerima program strategis negara.
Di tengah era keterbukaan digital, komunikasi yang bijak menjadi bagian tak terpisahkan dari tanggung jawab sosial—bukan hanya soal apa yang disampaikan, tetapi juga bagaimana dan di mana hal itu diungkapkan. (nsp)