news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto.
Sumber :
  • Instagram @bem.ugm

Ketua BEM UGM Ditanya Kenapa Bersurat ke UNICEF Bukan ke DPR soal MBG dan Anak SD Bunuh Diri di NTT, Jawabannya: Ada Kemampatan di Bangsa Kita, Kanal Perubahan Buntu

Ketika Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto ditanya kenapa memilih bersurat ke UNICEF ketimbang ke DPR soal MBG dan anak SD bunuh diri di NTT, dia menjawab karena ada kemampatan. 
Rabu, 25 Februari 2026 - 07:50 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Ketika Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto ditanya kenapa memilih bersurat ke UNICEF ketimbang ke DPR soal Makan Bergizi Gratis (MBG) dan anak SD bunuh diri di NTT, dia menjawab karena ada kemampatan. 

“Ringkasnya, ada kemampatan di bangsa kita. Kanal perubahan atau perbaikan buntu,” jawab Tiyo di di tayangan YouTube Abraham Samad SPEAK UP berjudul “Diteror & Dapat Ancaman Pembunuhan. Ketua BEM UGM: MBG, Maling Berkedok Gizi? | #SPEAKUP” yang tayang pada 19 Februari 2026. 

Tiyo mengaku sampai sekarang tidak bisa percaya dengan DPR pascademo ricuh Agustus 2025 lalu. 

“Pascademo Agustus publik membuat tuntutan 17+8 sampai sekarang kita tidak bisa percaya sama DPR. Penting kasih tahu presiden kita itu bodoh. Saya minta maaf atas ketidaknyamanan kata bodoh itu. Bodoh yang dimaksud itu inkompetensi yang laten. Sayangnya tidak dipahami presiden,” kata dia.

Adapun awal mula Tiyo dan kawan-kawan “terpancing” untuk mengirim surat ke UNICEF didasari refleksi peristiwa-peristiwa yang terjadi di Indonesia belakangan ini. Hal ini bermula dari bencana Sumatera. 

“Ada ribuan rumah tergusur, manusia dievakuasi. Kita mulai dari situ. Saya menyebut tidak ada berperikemanusiannya para penguasa dalam melihat bencana ini. Yang paling membuat kita marah selain ketidakseriusannya dalam menyelamatkan manusia di sana, di lokasi bencana saja narasi yang sifatnya fiktif dan kampanye masih diucapkan,” ujarnya. 

Menurut Tiyo, di sebuah lokasi bencana, presiden seharusnya tampil sebagai pengayom warga, bukan sosok yang seolah-olah sedang kampanye. 

“Kita masih ingat Prabowo bilang, ‘Kejar para koruptor’. Itu pesan penting, tapi tidak menunjukkan empati sama sekali ketika diucapkan di lokasi bencana yang lebih butuh perhatiannya daripada lip of service-nya presiden,” ucapnya. 

Hal lain yang memantik pihaknya untuk bersurat, yakni soal bencana yang terjadi di Indonesia pascabencana Sumatera. Salah satunya banjir di Pulau Jawa. 

Menurut Tiyo, banjir bukan hanya sekedar takdir bencana, tapi ada pengelolaan lingkungan yang tidak baik. 

“Ini respons alam atas kejahatan manusia,” ujar Tiyo. 

Pemantik lainnya, yakni MBG. Menurut Tiyo, Prabowo tidak memiliki tema lain ketika berpidato selain MBG.

Dia mengatakan apapun forumnya, siapapun orang yang ditemui presiden, selalu MBG narasinya. 

“Presiden kita susah dibedakan, sebagai kepala negara atau CEO MBG? Karena narasinya selalu MBG. Presiden tidak sadar atau menolak memahami MBG ini mudharatnya lebih banyak ketimbang manfaatnya,” ungkap mahasiswa UGM tersebut. 

Menurut dia, hal yang paling mendasar terkait MBG adalah soal pengalokasian anggaran. 

“Kita sudah mengkritik anggaran pendidikan tidak boleh dirampas untuk MBG karena MBG sejak awal misinya bukan misi mencerdaskan kehidupan bangsa, tapi mengentaskan stunting. Lebih masuk akal pakai anggaran kesehatan ketimbang anggaran pendidikan,” katanya.

“Ada realitas rasanya pendidikan lebih mendesak untuk diberi solusi ketimbang MBG. Stunting harus dientaskan, iya. Tapi metode pengentasannya tidak pakai logika proyek, tapi program atau gerakan,” terangnya. 

Adapun puncaknya sehingga Tiyo Cs bersurat ke UNICEF adalah saat ada anak SD di NTT bunuh diri karena tidak mampu membeli alat tulis seharga Rp10 ribu. 

“Puncaknya ada anak di NTT yang memutuskan untuk menyelesaikan hidupnya setelah gagal membeli pena dan buku seharga Rp10 ribu. Ironisnya, di saat bersamaan, negara setiap hari menggelontorkan Rp1,2 triliun untuk MBG,” ucap Tiyo.

“Itu puncak kemarahan publik yang kemudian BEM UGM merasa perlu merespons kebuntuan jalan-jalan perbaikan itu. Saya rasa warga dunia harus membantu rakyat Indonesia untuk membantu selamatkan rakyatnya karena kita punya presiden yang tidak bisa dikasih tahu apa-apa,” sambungnya.

Ketika ditanya apa harapannya setelah bersurat ke UNICEF, Tiyo menjawab pihaknya ingin persoalan MBG dan anak SD bunuh diri di NTT itu jadi percakapan publik pemimpin-pemimpin dunia. 

“Karena presiden sudah me-makeup diri di depan pemimpin dunia, bertemu Trump, Netanyahu, Jinping, saya harap mereka ngopi terus kasih tahu ke presiden kita, ‘Eh kok ada yang kirim surat katanya kamu enggak kompeten?’. Saya yakin presiden tidak tahu itu (surat) ada. Kita butuh kanal-kanal untuk sampai ke telinga presiden,” katanya. 

Meskipun setelah mengirimkan surat ini Tiyo diteror pihak tak dikenal, dia mengaku akan menghadapinya secara ksatria. 

Merespons kabar Ketua BEM UGM diteror, pihak Istana mengatakan penyampaian kritik merupakan hal yang sah,

Akan tetapi, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan penyampaiannya perlu dilakukan secara bertanggung jawab dengan mengedepankan etika dan adab. Menurutnya, ini berlaku untuk siapapun.

"Hindarilah menggunakan kata-kata yang tidak sopan atau kurang baik. Ini berlaku untuk siapapun ya, tidak hanya untuk adik saya yang dari BEM UGM," ucapnya, Rabu (18/2/2026).

Terkait teror yang dialami Ketua BEM UGM, Prasetyo menyebutkan bahwa hal tersebut akan dicek lebih lanjut.

"Nanti kita kita cek," pungkasnya. (nsi)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

05:03
03:45
05:51
16:29
02:24
01:58

Viral