- Istimewa
Iran Kunci Selat Hormuz, Dunia Menahan Napas: Jalur Minyak Dibekukan, Perdagangan Laut Tersendat
“Keselamatan pelayaran tidak dapat dijamin,” demikian peringatan dari pihak AS. Asosiasi tanker internasional Intertanko mengonfirmasi adanya imbauan agar kapal-kapal tidak berlayar di kawasan tersebut. Peringatan serupa juga dikeluarkan Kementerian Pelayaran Yunani, yang meminta armada nasionalnya menghindari jalur-jalur itu hingga situasi mereda.
LNG Terancam, Qatar Tertekan
Konsultan energi Kpler menilai penutupan Selat Hormuz dan peringatan pelayaran telah berdampak nyata pada sektor LNG. Setidaknya 14 tanker LNG terdeteksi melambat, berbalik arah, atau berhenti di sekitar selat. Jumlah ini diperkirakan akan bertambah, meningkatkan risiko terhadap ekspor LNG Qatar, salah satu pemasok gas terbesar dunia yang hampir seluruh ekspornya melewati Hormuz.
Perusahaan pelayaran besar juga mulai mengambil langkah defensif. Hapag-Lloyd, perusahaan pelayaran kontainer terbesar kelima di dunia, mengumumkan penangguhan seluruh transit kapalnya melalui Selat Hormuz. Keputusan ini menegaskan bahwa risiko operasional dinilai terlalu tinggi di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda mereda.
Mengapa Hormuz Begitu Vital
Selat Hormuz adalah urat nadi energi dunia. Terletak di antara Iran dan Oman, selat ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Pada titik tersempitnya, lebarnya hanya sekitar 33 kilometer, dengan jalur pelayaran efektif sekitar 3 kilometer di masing-masing arah—membuatnya sangat rentan terhadap gangguan.
Sekitar seperlima konsumsi minyak dunia melewati selat ini setiap hari. Data perusahaan analitik Vortexa menunjukkan lebih dari 20 juta barel minyak mentah, kondensat, dan bahan bakar melintasi Hormuz per hari. Negara-negara anggota OPEC seperti Arab Saudi, Iran, UEA, Kuwait, dan Irak sangat bergantung pada jalur ini untuk menyalurkan ekspor mereka ke Asia. Qatar pun mengirim hampir seluruh LNG-nya melalui selat yang sama.
Alternatif Terbatas, Risiko Membesar
UEA dan Arab Saudi memang memiliki pipa darat untuk menghindari Selat Hormuz, namun kapasitasnya terbatas. Badan Informasi Energi AS mencatat sekitar 2,6 juta barel per hari kapasitas pipa yang dapat digunakan—jauh di bawah volume normal yang melintas melalui Hormuz. Artinya, penutupan berkepanjangan hampir pasti akan mengguncang pasar energi global.