news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Selat Hormuz Lalu Lintas Minyak.
Sumber :
  • Istimewa

Iran Kunci Selat Hormuz, Dunia Menahan Napas: Jalur Minyak Dibekukan, Perdagangan Laut Tersendat

Iran resmi menutup Selat Hormuz usai serangan AS dan Israel. Kapal tertahan, minyak dan LNG terganggu, perdagangan laut global ikut terguncang.
Minggu, 1 Maret 2026 - 11:02 WIB
Reporter:
Editor :

Iran, tvOnenews.com - Keputusan Iran menutup Selat Hormuz untuk pelayaran internasional menjadi babak paling krusial dalam eskalasi konflik Timur Tengah. Langkah drastis ini diambil sebagai tanggapan langsung atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran. Dampaknya seketika terasa: pengiriman barang via laut terganggu, kapal-kapal tertahan, dan pasar energi global kembali bergejolak.

Penutupan Selat Hormuz diumumkan secara resmi oleh Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) melalui siaran radio frekuensi tinggi pada Sabtu (28/2/2026). Mengutip laporan Reuters, IRGC menegaskan tidak ada kapal yang diizinkan melintasi jalur air strategis tersebut hingga waktu yang tidak ditentukan.

Beberapa kapal yang berada di sekitar selat dilaporkan menerima transmisi VHF langsung dari otoritas Iran. “Tidak ada kapal yang diizinkan melewati Selat Hormuz,” ujar seorang pejabat misi Angkatan Laut Uni Eropa, Aspides, yang dikutip Reuters. Pesan serupa juga diterima oleh sejumlah kapal niaga di kawasan Teluk, memperkuat sinyal bahwa penutupan ini bukan sekadar ancaman, melainkan kebijakan operasional.

Kapal Tertahan, Minyak Ditangguhkan

Efek domino segera terjadi. Perusahaan minyak besar dan pelaku perdagangan internasional menangguhkan pengiriman minyak mentah, bahan bakar, dan gas alam cair (LNG). Seorang eksekutif senior perusahaan perdagangan global menyebut kapal-kapal mereka memilih bertahan di posisi aman selama beberapa hari ke depan, menunggu kepastian keamanan.

Citra satelit dari pelacak tanker menunjukkan antrean kapal mengular di dekat pelabuhan-pelabuhan utama kawasan Teluk. Sejumlah kapal dilaporkan berhenti di sekitar Pelabuhan Fujairah di Uni Emirat Arab, tanpa berani melintasi Selat Hormuz. Arus logistik pun tersendat, menekan jadwal pengiriman dan meningkatkan biaya angkut.

Peringatan Berlapis dari Angkatan Laut

Angkatan Laut Inggris menilai perintah penutupan Iran tidak mengikat secara hukum internasional. Meski demikian, London tetap mengimbau kapal-kapal agar melintas dengan kehati-hatian tinggi. Sikap lebih keras datang dari Angkatan Laut Amerika Serikat yang memperingatkan operator kapal untuk menghindari seluruh kawasan berisiko, termasuk Teluk Persia, Teluk Oman, Laut Arab Utara, dan Selat Hormuz.

“Keselamatan pelayaran tidak dapat dijamin,” demikian peringatan dari pihak AS. Asosiasi tanker internasional Intertanko mengonfirmasi adanya imbauan agar kapal-kapal tidak berlayar di kawasan tersebut. Peringatan serupa juga dikeluarkan Kementerian Pelayaran Yunani, yang meminta armada nasionalnya menghindari jalur-jalur itu hingga situasi mereda.

LNG Terancam, Qatar Tertekan

Konsultan energi Kpler menilai penutupan Selat Hormuz dan peringatan pelayaran telah berdampak nyata pada sektor LNG. Setidaknya 14 tanker LNG terdeteksi melambat, berbalik arah, atau berhenti di sekitar selat. Jumlah ini diperkirakan akan bertambah, meningkatkan risiko terhadap ekspor LNG Qatar, salah satu pemasok gas terbesar dunia yang hampir seluruh ekspornya melewati Hormuz.

Perusahaan pelayaran besar juga mulai mengambil langkah defensif. Hapag-Lloyd, perusahaan pelayaran kontainer terbesar kelima di dunia, mengumumkan penangguhan seluruh transit kapalnya melalui Selat Hormuz. Keputusan ini menegaskan bahwa risiko operasional dinilai terlalu tinggi di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda mereda.

Mengapa Hormuz Begitu Vital

Selat Hormuz adalah urat nadi energi dunia. Terletak di antara Iran dan Oman, selat ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Pada titik tersempitnya, lebarnya hanya sekitar 33 kilometer, dengan jalur pelayaran efektif sekitar 3 kilometer di masing-masing arah—membuatnya sangat rentan terhadap gangguan.

Sekitar seperlima konsumsi minyak dunia melewati selat ini setiap hari. Data perusahaan analitik Vortexa menunjukkan lebih dari 20 juta barel minyak mentah, kondensat, dan bahan bakar melintasi Hormuz per hari. Negara-negara anggota OPEC seperti Arab Saudi, Iran, UEA, Kuwait, dan Irak sangat bergantung pada jalur ini untuk menyalurkan ekspor mereka ke Asia. Qatar pun mengirim hampir seluruh LNG-nya melalui selat yang sama.

Alternatif Terbatas, Risiko Membesar

UEA dan Arab Saudi memang memiliki pipa darat untuk menghindari Selat Hormuz, namun kapasitasnya terbatas. Badan Informasi Energi AS mencatat sekitar 2,6 juta barel per hari kapasitas pipa yang dapat digunakan—jauh di bawah volume normal yang melintas melalui Hormuz. Artinya, penutupan berkepanjangan hampir pasti akan mengguncang pasar energi global.

Langkah Iran menutup Selat Hormuz bukan hanya pesan militer, melainkan tekanan strategis ke jantung ekonomi dunia. Saat kapal-kapal tertahan dan perdagangan laut tersendat, dunia kini menunggu satu hal: apakah kunci Hormuz akan segera dibuka, atau justru menjadi senjata geopolitik paling berbahaya dalam konflik Iran-AS-Israel. (nsp)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

03:35
02:39
01:06
04:15
02:02
08:19

Viral