- Reuters
Nama Trump Muncul Ribuan Kali di Epstein Files: DOJ Rilis Dokumen FBI yang Sempat “Hilang”
Jakarta, tvOnenews.com - Departemen Kehakiman Amerika Serikat (US Department of Justice/DOJ) akhirnya merilis sejumlah dokumen tambahan terkait berkas penyelidikan Epstein Files yang selama ini menjadi sorotan publik.
Mengutip dari BBC, dokumen tersebut memuat rangkuman wawancara FBI dengan seorang perempuan yang melontarkan tuduhan terhadap mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan finansier kontroversial Jeffrey Epstein.
Publikasi dokumen ini muncul setelah laporan media Amerika menyebut sejumlah berkas yang seharusnya tersedia dalam database DOJ ternyata tidak muncul. Kondisi tersebut memicu tudingan dari sejumlah politisi Partai Demokrat yang menilai ada potensi penutupan informasi.
Menanggapi hal itu, DOJ menyatakan bahwa dokumen tersebut sebelumnya tidak dirilis karena kesalahan teknis dalam proses peninjauan arsip.
Dokumen Disebut Sempat Salah Kode
Dalam penjelasan resminya, DOJ mengakui bahwa dokumen tersebut sempat tertahan karena kesalahan pengkodean dalam sistem arsip.
Berkas itu dianggap sebagai dokumen duplikat sehingga tidak dimasukkan dalam kumpulan awal Epstein Files yang dirilis sebelumnya.
Setelah kesalahan tersebut ditemukan, pihak DOJ kemudian mempublikasikan tiga memo FBI yang totalnya lebih dari 50 halaman.
Memo tersebut berisi ringkasan wawancara agen FBI dengan seorang perempuan yang tidak disebutkan identitasnya.
Isi Memo FBI: Tuduhan terhadap Trump dan Epstein
Dalam salah satu memo yang dirilis, perempuan tersebut mengaku pernah diperkenalkan kepada Donald Trump oleh Jeffrey Epstein pada era 1980-an ketika dirinya masih remaja.
Ia menuduh kedua pria tersebut melakukan pelecehan seksual ketika dirinya berusia antara 13 hingga 15 tahun.
Namun dokumen tersebut juga mencatat bahwa tuduhan tersebut tidak memiliki bukti pendukung yang terverifikasi.
Selain itu, agen FBI juga tidak melakukan kontak lanjutan dengan perempuan tersebut setelah rangkaian wawancara pada 2019.
Artinya, klaim yang disampaikan dalam memo tersebut masih berstatus tidak terbukti dan tidak dikonfirmasi lebih lanjut oleh penyelidik.
Gedung Putih: Tuduhan Tidak Berdasar
Pihak Gedung Putih menanggapi rilis dokumen tersebut dengan menegaskan bahwa tuduhan yang muncul dalam berkas itu tidak memiliki dasar bukti yang kuat.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menyebut klaim tersebut sepenuhnya tidak berdasar.
Menurutnya, tuduhan yang dimuat dalam dokumen FBI itu tidak pernah menghasilkan dakwaan terhadap Trump.
Ia juga menegaskan bahwa berbagai dokumen yang telah dirilis sebelumnya justru menunjukkan tidak ada bukti kredibel yang mengaitkan Trump dengan kejahatan yang dilakukan Epstein.
Nama Trump Muncul Ribuan Kali
Meski tidak ada tuduhan pidana yang terbukti, nama Donald Trump disebut muncul ribuan kali dalam kumpulan dokumen Epstein Files yang dirilis DOJ.
Nama tersebut muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari:
-
Email korespondensi
-
Catatan komunikasi
-
Referensi dalam dokumen investigasi
Beberapa di antaranya adalah email yang dikirim oleh Jeffrey Epstein kepada berbagai pihak yang menyebut nama Trump.
Namun para penyelidik menegaskan bahwa kemunculan nama seseorang dalam dokumen investigasi tidak serta-merta berarti keterlibatan dalam kejahatan.
Banyak Tuduhan Berasal dari Tip Tanpa Bukti
Selain memo wawancara FBI, Epstein Files juga memuat daftar laporan dari masyarakat yang masuk ke pusat pengaduan nasional FBI.
Laporan tersebut berisi berbagai tuduhan terhadap sejumlah tokoh terkenal, termasuk Trump, Epstein, dan figur publik lainnya.
Namun sebagian besar laporan tersebut berasal dari tip anonim atau informasi yang belum diverifikasi.
Beberapa bahkan tidak disertai bukti pendukung yang dapat digunakan dalam proses hukum.
Dokumen Berkaitan dengan Kasus Ghislaine Maxwell
Wawancara yang dirangkum dalam memo FBI tersebut dilakukan pada 2019 saat penyidik sedang mendalami jaringan Epstein.
Investigasi itu juga berkaitan dengan penyelidikan terhadap Ghislaine Maxwell, rekan dekat Epstein yang kemudian dijatuhi hukuman penjara pada 2022 atas kasus perdagangan seks.
Para penyidik saat itu mengumpulkan berbagai kesaksian dari sejumlah saksi dan korban yang mengaku pernah berhubungan dengan jaringan Epstein.
Namun hingga saat ini, tidak ada korban Epstein yang secara resmi menuduh Donald Trump melakukan tindak kriminal.
Hubungan Lama Trump dan Epstein
Donald Trump diketahui pernah memiliki hubungan pertemanan dengan Jeffrey Epstein pada tahun-tahun sebelumnya.
Keduanya kerap terlihat dalam sejumlah acara sosial di Florida dan New York pada era 1990-an.
Namun Trump mengatakan hubungan tersebut berakhir pada awal 2000-an, sekitar dua tahun sebelum Epstein pertama kali ditangkap oleh aparat penegak hukum.
Sejak saat itu keduanya disebut tidak lagi memiliki hubungan.
Kongres Ikut Menyoroti Penanganan Dokumen
Rilis dokumen tambahan ini juga memicu perhatian dari Kongres Amerika Serikat.
Sebuah komite di DPR AS bahkan telah memberikan suara untuk memanggil Jaksa Agung Pam Bondi guna menjelaskan penanganan dokumen Epstein Files oleh Departemen Kehakiman.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa transparansi dalam penyelidikan Epstein masih menjadi isu sensitif di politik Amerika.
Sebagai informasi, pada November lalu Kongres mengesahkan undang-undang yang mewajibkan pemerintah merilis seluruh materi investigasi terkait Epstein.
Sejak aturan itu diberlakukan, jutaan halaman dokumen penyelidikan telah dipublikasikan oleh pemerintah Amerika Serikat. (nsp)