- Reuters-Yonhap
Presiden Iran Minta Maaf Atas Rudal dan Drone yang Beredar, Bermaksud Serang Pangkalan Militer dan Aset AS
Iran, tvOnenews.com - Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah konflik bersenjata antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel berlangsung lebih dari sepekan. Di tengah situasi tersebut, Presiden Iran minta maaf kepada negara-negara tetangganya di kawasan Teluk setelah serangan rudal dan pesawat nirawak Iran ikut berdampak ke wilayah mereka.
Presiden Iran minta maaf secara langsung disampaikan oleh Masoud Pezeshkian kepada sejumlah negara tetangga yang terdampak serangan militer Iran. Pernyataan tersebut muncul setelah beberapa negara di kawasan Teluk memprotes serangan balasan Iran yang menyasar aset Amerika Serikat di wilayah mereka.
Langkah Presiden Iran minta maaf ini dinilai sebagai upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan dengan negara-negara regional, di tengah perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel yang masih berlangsung.
Alasan Presiden Iran Minta Maaf kepada Negara Tetangga
Presiden Iran minta maaf karena serangan rudal dan drone yang diluncurkan Iran dalam beberapa hari terakhir turut memengaruhi wilayah negara-negara tetangga di kawasan Teluk.
Serangan tersebut sebenarnya ditujukan ke pangkalan militer dan aset Amerika Serikat di kawasan regional. Namun, beberapa proyektil dan pesawat nirawak Iran dilaporkan melintas atau jatuh di wilayah negara-negara Teluk, sehingga memicu kekhawatiran dan protes dari pemerintah setempat.
Dalam pernyataannya, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran tetap ingin menjaga hubungan baik dengan negara-negara tetangganya.
“Saya secara pribadi meminta maaf kepada negara-negara tetangga yang terkena dampak tindakan Iran,” kata Pezeshkian.
Presiden Iran minta maaf juga disampaikan sebagai bentuk penghormatan Iran terhadap prinsip hubungan bertetangga yang baik, serta komitmen terhadap kedaulatan dan integritas wilayah negara lain.
Iran Tegaskan Tidak Ingin Konflik dengan Negara Teluk
Meski Presiden Iran minta maaf atas dampak serangan tersebut, pemerintah Iran menegaskan bahwa target operasi militer mereka bukan negara-negara Teluk.
Serangan Iran diarahkan pada instalasi militer Amerika Serikat yang berada di kawasan tersebut. Hal ini terjadi setelah konflik besar pecah menyusul tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026.