- Tim tvOne - Sri Cahyani Putri
Pertamina Tegaskan Kapal yang Keluar dari Timur Tengah Bukan Bawa Minyak ke Indonesia, Ini Penjelasannya
Jakarta, tvOnenews.com - PT Pertamina International Shipping (PIS) menegaskan bahwa kapal milik perusahaan yang berhasil keluar dari kawasan Timur Tengah bukan membawa minyak untuk Indonesia, melainkan melakukan distribusi energi bagi mitra pihak ketiga atau third party.
Penjelasan ini disampaikan setelah muncul perhatian publik terkait keberadaan kapal tanker Pertamina di kawasan Teluk Arab yang sempat terdampak situasi keamanan di sekitar Selat Hormuz.
Pjs Corporate Secretary Pertamina International Shipping, Vega Pita, mengatakan dua kapal yang telah keluar dari kawasan Timur Tengah adalah PIS Paragon dan PIS Rinjani.
Menurut Vega, kedua kapal tersebut berhasil meninggalkan wilayah Timur Tengah melalui Teluk Oman dan tidak melewati jalur strategis Selat Hormuz.
“Per 10 Maret 2026, kedua kapal tersebut telah keluar dari area Timur Tengah, tepatnya dari Teluk Oman, tanpa melewati jalur Selat Hormuz,” ujar Vega.
Kapal Pertamina Ternyata Bukan untuk Pasokan Indonesia
Vega menjelaskan bahwa PIS Paragon dan PIS Rinjani tidak membawa minyak untuk kebutuhan Indonesia.
Kedua kapal tersebut diketahui sedang menjalankan distribusi energi untuk mitra pihak ketiga atau non-Pertamina.
Hal serupa juga ditegaskan oleh Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri.
Simon mengatakan kapal tersebut memang bukan ditugaskan untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri karena beroperasi di non captive market.
“Nah kebetulan itu adalah untuk non-captive market. Jadi bukan untuk Pertamina. Jadi satu menuju ke Kenya dan satu menuju ke India,” kata Simon dalam konferensi pers Posko Nasional Sektor ESDM Ramadan dan Idulfitri 2026 di Kantor BPH Migas, Kamis (12/3/2026).
Dua Kapal Pertamina Masih di Teluk Arab
Sementara itu, hingga 12 Maret 2026 masih terdapat dua kapal tanker milik Pertamina yang berada di kawasan Teluk Arab, yakni:
-
VLCC Pertamina Pride
-
Gamsunoro
Kedua kapal tersebut diketahui masih berada di kawasan sekitar Selat Hormuz dan belum dapat melanjutkan pelayaran.
Meski demikian, Pertamina memastikan kondisi kapal dan seluruh kru tetap aman.
“Hingga statement ini dibuat, masih terdapat dua kapal tanker PT Pertamina International Shipping yang berada di Teluk Arab, yakni kapal VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro yang diketahui belum dapat melewati Selat Hormuz. Kedua kapal dan kru dalam kondisi aman,” jelas Vega.
Hanya Satu Kapal untuk Kebutuhan Energi Nasional
Dari dua kapal yang masih berada di Teluk Arab tersebut, hanya VLCC Pertamina Pride yang dioperasikan untuk memenuhi kebutuhan energi nasional Indonesia.
Sementara itu kapal Gamsunoro digunakan untuk mendukung distribusi energi bagi pihak ketiga.
Pertamina menyatakan kedua kapal tersebut terus berada dalam pemantauan intensif sambil menunggu situasi pelayaran memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan.
“Keduanya dalam pemantauan intensif dan koordinasi berkelanjutan untuk memastikan kapal dapat segera melanjutkan perjalanannya dengan aman,” ujar Vega.
Pertamina Pastikan Pasokan Energi Nasional Aman
Pertamina juga memastikan situasi kapal di Timur Tengah tidak mempengaruhi pasokan energi di dalam negeri.
Saat ini Pertamina Group memiliki ratusan armada kapal yang beroperasi untuk mendukung distribusi energi nasional.
Secara keseluruhan, perusahaan mengoperasikan 345 kapal untuk mendukung rantai pasok energi Indonesia.
“Pertamina Group saat ini mengoperasikan 345 kapal untuk mendukung kebutuhan energi dalam negeri. Sehingga kondisi ini dipastikan tidak mengganggu pasokan kebutuhan energi di dalam negeri,” kata Vega.
Pertamina Diversifikasi Sumber Minyak
Untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan energi, Pertamina juga melakukan diversifikasi sumber minyak dari berbagai wilayah dunia.
Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menjelaskan bahwa Indonesia tidak hanya bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah.
Beberapa sumber energi juga berasal dari kawasan lain seperti Afrika dan Amerika.
“Ada juga dari Afrika, ada dari Amerika dan berbagai tempat lainnya,” kata Simon.
Menurutnya, langkah tersebut dilakukan untuk memastikan distribusi energi nasional tetap berjalan lancar meskipun terjadi dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Pertamina juga terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian Luar Negeri, guna memastikan keamanan jalur pelayaran internasional.
“Kita terus melakukan yang terbaik agar pelayanan energi untuk masyarakat bisa berlangsung dengan lancar dan aman,” tegas Simon. (nsp)