news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla saat menyampaikan ceramah di kampus UGM Yogyakarta, Kamis (5/3/2026)..
Sumber :
  • Tim tvOne - Tim tvOne

Ditanya Teror Air Keras Aktivis KontraS, Jusuf Kalla Mengendus Pola Tragedi Kelam

Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), saat ditanya awak media terkait teror air keras aktivis KontraS, Andrie Yunus oleh awak media. JK katakan
Minggu, 15 Maret 2026 - 03:00 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), saat ditanya awak media terkait teror air keras aktivis KontraS, Andrie Yunus oleh awak media. JK katakan dirinya mengendus adanya pola serupa antara teror air keras yang menimpa Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, dengan tragedi kelam, yang pernah dialami eks penyidik KPK, Novel Baswedan.

Hal itu dibeberkan JK di kediamannya di Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan, Sabtu (14/3/2026).

Bahkan, JK menyatakan keprihatinan mendalam atas musibah yang menimpa Andrie pada Kamis malam lalu di kawasan Senen, Jakarta Pusat.

"Tentu kita pertama prihatin dan menyayangkan ini terjadi, dengan harapan polisi betul-betul (mengusut)," beber JK.

Analisis JK menyoroti metode serangan yang digunakan. Penggunaan cairan korosif untuk melukai fisik pejuang keadilan dianggap JK sebagai pengulangan pola yang mengkhawatirkan.

"Setelah KPK dulu, siapa namanya si, Novel Baswedan itu, ke ini lagi, kena lagi," jelas JK. 

Untuk diketahui, pada 11 April 2017, Novel Baswedan diserang dengan air keras oleh dua oknum Polri aktif bersepeda motor usai menunaikan salat Subuh di Kelapa Gading, Jakarta Utara. 

Peristiwa yang terjadi di tengah pengusutan korupsi besar e-KTP tersebut mengakibatkan mata kiri Novel rusak permanen. 

Kasus ini menuai perhatian dunia dan berakhir dengan vonis penjara bagi pelakunya, Rahmat Kadir dan Ronny Bugis.

Bagi JK, serangan terhadap Andrie Yunus sulit dilepaskan dari peran strategisnya di KontraS.

Kecurigaan ini diperkuat fakta bahwa Andrie diserang pada pukul 23.37 WIB, sesaat setelah ia menjadi narasumber podcast bertajuk "Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia" di kantor YLBHI.

"Berarti ada kelompok atau siapa itu kita tidak tahu. Supaya polisi tentu melihat, ada hubungannya dengan kegiatan yang bersangkutan," jelas JK.

Walaupun mengendus motif pembungkaman, JK meminta publik melihat kasus ini secara jernih dan komprehensif.

Ia menekankan bahwa otoritas pembuktian sepenuhnya ada di tangan kepolisian untuk memastikan apakah ini serangan sistematis atau sekadar fenomena "kenakalan" yang kebablasan.

"Ada juga, kita tahu ada anak-anak SMA yang hobinya hanya sekadar usil atau iseng melakukan begitu. Kita tidak tahu ini. Jadi perlu kita lihat siapa yang dirugikan (oleh kegiatan korban)," beber JK.

Berita Terkait

1
2 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:55
01:48
03:02
04:57
01:21
02:42

Viral