news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima di SDN Pondok Kelapa 01, Duren Sawit, Jakarta Timur, Kamis (2/4/2026)..
Sumber :
  • ANTARA/Dokumentasi Pribadi

Ratusan Siswa dan Guru di Sejumlah Sekolah di Jaktim Diduga Keracunan MBG

Ratusan siswa dan guru di Kawasan Pondok Kelapa, Jakarta Timur diduga keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sabtu, 4 April 2026 - 12:28 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Ratusan siswa dan guru di Kawasan Pondok Kelapa, Jakarta Timur diduga keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sedikitnya 135 siswa dan guru yang diduga mengalmi keracunan menu MBG tersebut.

Peristiwa keracunan tersebut terjadi pada Kamis (2/4/2026) sekitar pukul 11.00 WIB, bertepatan dengan waktu pembagian makanan kepada siswa.

Seperti diungkap salah satu orang tua siswa SDN Pondok Kelapa 01 berinisial Z saat dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu (4/4/2026).

"Kami dapat informasi dari grup sekolah ada sekitar 135 siswa dan guru dari beberapa sekolah, diduga keracunan setelah makan MBG dari sekolah," katanya.

Orang tua siswa tersebut mengatakan selama ini anak-anak cenderung tidak langsung memakan menu MBG yang umumnya berupa nasi.

Namun, menu spaghetti pada hari kejadian membuat banyak siswa tertarik untuk langsung mengonsumsinya di sekolah.

"Tapi kemarin karena menunya spaghetti, jadi banyak yang langsung makan di tempat," ujar Z.

Menurutnya, tidak hanya siswa, sebagian makanan juga dibawa pulang dan dikonsumsi oleh anggota keluarga.

Hal itu menyebabkan gejala serupa dialami oleh orang tua.

"Gejalanya rata-rata demam, pusing, bahkan ada yang paling parah yakni sesak napas," ucap Z.

Z menyebutkan, anaknya yang duduk di kelas 2B ini menjadi salah satu yang terdampak.

Meski tidak menghabiskan makanan yang diberikan, anaknya tetap mengalami gejala demam yang bertahan hingga saat ini.

"Anak saya makannya tidak habis, cuma sedikit. Tapi tetap kena, sekarang masih demam di rumah. Teman-temannya juga banyak yang muntah-berak (muntaber), diare, muntah," ungkap Z.

Kondisi semakin memprihatinkan ketika para orang tua berusaha mencari pertolongan medis.

Z menceritakan, Puskesmas Duren Sawit yang menjadi rujukan awal tidak mampu menampung lonjakan pasien.

"Tadi mau dibawa ke puskesmas, tapi sudah penuh. Banyak yang sudah duluan datang dengan kondisi yang sama. Akhirnya banyak juga yang ke RSUD Duren Sawit," jelas Z.

Lebih lanjut, Z menjelaskan, informasi yang dia peroleh dari grup komunikasi orang tua murid menunjukkan bahwa kasus serupa tidak hanya terjadi di satu sekolah.

Selain SDN Pondok Kelapa 01, sejumlah sekolah lain juga terdampak.

Berdasarkan laporan sementara dari Kepala Satuan Pelaksana (Kasatpel) Pendidikan Kecamatan Duren Sawit, Jumat (3/4) pukul 11.18 WIB, jumlah korban diduga keracunan MBG mencapai 135 orang.

Rinciannya, di SDN Pondok Kelapa 09 sebanyak 33 siswa terdampak, tujuh di antaranya dirawat di RSUD Duren Sawit.

Lalu, di SDN Pondok Kelapa 01 sebanyak 37 siswa, di SDN Pondok Kelapa 07 ada 31 siswa dengan delapan di antaranya dirawat dan di SMAN 91 ada 34 orang terdiri dari 28 siswa dan 6 guru serta tenaga kependidikan.

"Dari total tersebut, sebanyak 15 orang dilaporkan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit, sementara sisanya menjalani rawat jalan," ucap Z.

Selain itu, Z mengungkapkan, kasus ini diduga melibatkan makanan dari penyedia yang sama, meskipun hingga kini belum ada kepastian mengenai identitas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan ke sekolah-sekolah tersebut.

"Kita juga lagi telusuri ini dari mana SPPG-nya. Kemungkinan sama, karena sekolah lain juga kena. Tapi sampai sekarang belum ada penjelasan," ujar Z.

Z juga menyayangkan minimnya informasi resmi dari penyelenggara maupun sekolah kepada para orang tua.

Z mengaku komunikasi yang diterima sejauh ini hanya berfokus pada penanganan korban, tanpa menyentuh akar persoalan.

"Dari grup kelas, guru hanya menyampaikan supaya anak-anak segera dibawa ke rumah sakit, nanti didata. Terus juga dibilang jangan dikasih susu. Tapi soal penyebab atau menu, belum ada klarifikasi," kata Z.

Z meminta harus adanya keterbukaan dari pihak terkait, mengingat jumlah korban yang cukup besar dan melibatkan lebih dari satu sekolah.

Program MBG ini, kata Z, telah berjalan sekitar enam bulan di sekolah tersebut. Selama periode itu, menurut Z, belum pernah terjadi kejadian serupa.

Namun, insiden ini membuat sebagian orang tua mulai mempertanyakan kelayakan dan pengawasan program tersebut. (ant)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:41
01:15
01:16
01:29
10:52
04:13

Viral