- Istimewa
Sampah Antariksa Hebohkan Langit Lampung, Terungkap Bukan Meteor tapi Sisa Roket China
Jakarta, tvOnenews.com - Fenomena sampah antariksa mendadak menghebohkan warga Lampung dan Banten setelah benda bercahaya melintas di langit pada Sabtu malam, 4 April 2026. Kemunculan sampah antariksa ini sempat memicu spekulasi luas, mulai dari meteor, komet, hingga dugaan benda militer.
Namun, para ahli memastikan bahwa objek tersebut adalah sampah antariksa berupa sisa badan roket milik China yang terbakar saat memasuki atmosfer Bumi.
Sampah Antariksa Terlihat Jelas di Langit Lampung
Fenomena sampah antariksa ini terlihat jelas oleh warga di sejumlah wilayah Lampung seperti Lampung Selatan, Pesawaran, hingga Lampung Timur. Dalam berbagai rekaman video yang beredar, sampah antariksa tampak sebagai benda terang yang meluncur perlahan dan kemudian terpecah menjadi beberapa bagian.
Durasi kemunculan sampah antariksa ini bahkan mencapai lebih dari 30 detik, cukup lama untuk menarik perhatian masyarakat luas.
Banyak warga awalnya mengira objek tersebut adalah meteor atau komet. Namun, karakteristik gerak yang relatif lambat menjadi indikator kuat bahwa benda tersebut adalah sampah antariksa, bukan fenomena alami.
BRIN Pastikan Sampah Antariksa dari Roket China
Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional memastikan bahwa fenomena tersebut merupakan sampah antariksa dari roket China jenis CZ-3B.
Menurut Thomas Djamaluddin, berdasarkan data pelacakan orbit, sampah antariksa ini berasal dari sisa peluncuran roket yang melintas dari arah India menuju Samudra Hindia di sebelah barat Sumatera.
Saat memasuki atmosfer Bumi, sampah antariksa tersebut turun hingga di bawah ketinggian 120 kilometer. Pada titik ini, gesekan dengan atmosfer menyebabkan benda tersebut terbakar dan pecah, sehingga terlihat seperti hujan cahaya di langit.
Bukan Meteor, Ini Ciri Khas Sampah Antariksa
Fenomena sampah antariksa ini juga dikonfirmasi oleh pihak Observatorium Astronomi Itera Lampung. Mereka menyatakan bahwa objek tersebut bukan meteor maupun komet.
Ciri utama yang membedakan sampah antariksa dengan meteor adalah kecepatannya. Sampah antariksa cenderung bergerak lebih lambat karena berasal dari benda buatan manusia yang kembali ke atmosfer.
Selain itu, sampah antariksa sering kali terlihat pecah menjadi beberapa bagian saat terbakar, seperti yang terjadi di langit Lampung.
Fenomena ini juga terekam kamera all sky milik observatorium pada pukul 19.59 WIB, memperkuat bukti bahwa objek tersebut adalah sampah antariksa.
Lintasan dan Asal Usul Sampah Antariksa
Berdasarkan data pelacakan satelit, sampah antariksa ini merupakan bagian dari roket CZ-3B R/B yang diluncurkan dari China pada Januari 2025.
Sebelum memasuki atmosfer, sampah antariksa tersebut sempat mengorbit Bumi pada ketinggian sekitar 781 kilometer dengan kecepatan mencapai 7,46 km per detik.
Lintasan orbitnya melintasi kawasan Asia Tenggara hingga Australia. Ketika orbitnya menurun, sampah antariksa akhirnya masuk ke atmosfer dan terbakar, menciptakan fenomena cahaya yang terlihat dari daratan.
Tidak Ada Dampak, Warga Diminta Tetap Tenang
Meski fenomena sampah antariksa ini sempat membuat khawatir, pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memastikan tidak ada laporan kerusakan maupun benda jatuh di wilayah Lampung.
Hal ini menunjukkan bahwa sampah antariksa tersebut habis terbakar di atmosfer sebelum mencapai permukaan Bumi.
Fenomena seperti ini sebenarnya bukan hal baru, namun jarang terlihat jelas oleh masyarakat. Kemunculan sampah antariksa di langit Indonesia menjadi pengingat bahwa aktivitas luar angkasa memiliki dampak hingga ke Bumi.
Fenomena Langit April Ikut Menarik Perhatian
Selain sampah antariksa, langit April 2026 juga diwarnai berbagai fenomena astronomi lain seperti kemunculan komet dan hujan meteor.
Namun, berbeda dengan fenomena alami tersebut, sampah antariksa berasal dari aktivitas manusia di luar angkasa. Hal ini membuat fenomena ini memiliki karakteristik unik sekaligus menjadi perhatian global.
Dengan semakin banyaknya peluncuran roket dan satelit, potensi kemunculan sampah antariksa di masa depan juga diperkirakan akan meningkat. (nsp)