- istimewa
Publik Soroti Isi Surat Dokter Tifa untuk Rismon: Tidak Ada Manusia Bersih Tanpa Cela
Jakarta, tvOnenews.com - Sebagian publik soroti isi surat Dokter Tifa untuk Rismon Sianipar, yang kini sudah berbeda jalan dengannya dan Roy Suryo terkait kasus ijazah palsu eks Presiden ke-7, Joko Widodo (Jokowi).
Seperti diketahui, Roy Suryo, Rismon, dan Dokter Tifa yang sebelumnya akrab, hingga disebut RRT. Namun saat ini sudah tidak sejalan lagi, karena Rismon kini lebih memilih untuk berhenti berjuang bersama, dengan meminta maaf kepada Jokowi dan mengajukan Restorative Justice (RJ) dalam kasus ini.
Rismon sebelumnya telah menyampaikan permohonan maaf kepada Jokowi atas kekeliruan penelitiannya terhadap ijazah eks presiden tersebut, bahkan Rismon juga sowan ke rumahnya di Solo demi RJ tersebut.
Kini Rismon tinggal menunggu diterbitkannya SP3 atau Surat Perintah Penghentian Penyidikan terhadap dirinya dalam kasus ini dan proses RJ pun masih berjalan.
Atas sikap Rismon yang sekarang berbeda arah ini, Dokter Tifa pun menuliskan surat untuknya melalui akun X pribadinya, @DokterTifa. Sontak, isi surat itu pun banjir dengan komentar netizen.
Dalam isi surat itu, Dokter Tifa mengingatkan awal perjuangan mereka bertiga dalam menuntut kebenaran ijazah Jokowi pada 15 April 2025 di Ruang 109 Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM).
"Hari itu bukan sekadar hari pertemuan pertama. Hari itu adalah titik mula sebuah perjalanan yang tidak ringan, bahkan mungkin terlalu berat untuk manusia biasa. Dan sejak hari itu, kita bukan lagi sekadar rekan seperjuangan. Kita menjadi tiga sahabat," tulis Dokter Tifa, dikutip pada Senin (13/4/2026).
Bahkan ia menuliskan bahwa dirinya dan Roy Suryo sudah menganggap Rismon sebagai seorang adik, bukan hanya sekadar partner biasa.
"Aku dan Mas Roy, menganggapmu bukan hanya partner dalam mencari kebenaran, tapi adik kami sendiri. Ada rasa ingin menjaga. Ada rasa percaya yang tumbuh tanpa dibuat-buat. Ada keyakinan bahwa kita bertiga adalah satu barisan kecil yang tak akan terpisahkan," ungkap Dokter Tifa.
Dalam pesannya itu, Dokter Tifa juga mengatakan dirinya masih ingat betul bagaimana dengan semangatnya Rismon bicara soal ijazah palsu Jokowi pada saat itu, yaitu penuh dengan keyakinan dan berapi-api.
Selain itu, ia menyinggung soal surat kematian yang ditulis Rismon dan ijazah S1-S2 Rismon di Yamaguchi, Jepang, yang kini juga dipersoalkan oleh kubu Jokowi karena dituding palsu.
Dokter Tifa mengaku, menyesalkan hal tersebut sehingga membuat Rismon memutuskan untuk berbalik arah karena merasa terancam dengan itu.
"Mengapa kamu tidak bicara. Mengapa kamu memilih diam, lalu berbalik arah? Padahal sejak awal, kita berjalan bukan sebagai orang asing. Kita berjalan sebagai tiga sahabat. Aku dan Mas Roy sudah menganggapmu sebagai adik, yang seharusnya bisa datang kapan saja, membawa beban seberat apa pun, tanpa takut dihakimi," tulisnya.
"Kalau memang di masa lalu ada yang pernah keliru, kalau pernah ada kebohongan, kalau pernah ada langkah yang salah, itu bukan akhir dari segalanya, Rismon. Tidak ada manusia yang bersih tanpa cela. Dan tidak ada masalah yang benar-benar buntu, jika kita hadapi bersama, dengan jujur."
"Kita bisa cari jalan keluar. Kita bisa berdiri bersama. Kita bisa memperbaiki, apa pun itu. Tapi yang terjadi, justru sebaliknya. Kamu memilih jalan sendiri. Kamu menjauh. Dan pada titik tertentu… kamu berdiri di sisi yang berseberangan. Bahkan kamu sekarang memusuhi kami," ucap Dokter Tifa.
Oleh karena itu, Dokter Tifa pun mempertanyakan sikap Rismon yang memilih berkhianat kepada semua orang, termasuk rakyat Indonesia sendiri yang selama ini menantikan kebenaran.
"Mengapa kamu berkhianat? Bukan hanya kepada kami. Bukan hanya kepada persahabatan yang kita bangun dengan tulus… Tapi juga kepada begitu banyak orang yang menggantungkan harapan pada perjuangan ini. Pada rakyat. Pada kebenaran yang seharusnya kita jaga bersama."
"Apakah semua ini sepadan, Rismon? Apakah rasa takut itu lebih besar daripada nilai kebenaran yang dulu kamu perjuangkan dengan penuh keyakinan? Aku tidak menulis ini dengan amarah. Aku menulis ini dengan luka. Karena kehilangan seorang lawan itu biasa. Tapi kehilangan seorang adik dalam perjuangan, itu jauh lebih dalam rasanya," ujar Dokter Tifa.
Meski demikian, Dokter Tifa menegaskan bahwa kebenaran tidak akan pernah berubah meski manusianya sudah berubah.
Dokter Tifa pun berpesan kepada Rismon, jalan pulang untuk kembali kepada kebenaran itu selalu terbuka untuknya selama masih ada keberanian untuk jujur.
"Jika suatu hari nanti kamu kembali melihat ke belakang, ingatlah satu hal: Kita pernah menjadi tiga sahabat. Kita pernah berdiri di titik yang sama, dengan hati yang bersih, dan niat yang lurus. Tak akan bisa dihapus oleh apa pun. Aku, dr Tifa, menulis ini untukmu, Rismon, dengan pilu yang tak terucap," tutup Dokter Tifa. (aag)