news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Persatuan di Era Digital Jadi Kunci, Mahasiswa Ingatkan Bahaya Disinformasi dan Polarisasi.
Sumber :
  • Istimewa

Persatuan di Era Digital Jadi Kunci, Mahasiswa Ingatkan Bahaya Disinformasi dan Polarisasi

Pentingnya menjaga persatuan di era digital disorot mahasiswa. Hoaks, ujaran kebencian, dan polarisasi dinilai ancam stabilitas nasional.
Rabu, 22 April 2026 - 21:13 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com – Menjaga persatuan di era digital kini menjadi tantangan sekaligus kebutuhan mendesak bagi masyarakat Indonesia. Di tengah derasnya arus informasi, ruang digital kerap dipenuhi konten yang tidak selalu dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Hoaks, ujaran kebencian, hingga narasi provokatif berpotensi memicu perpecahan jika tidak disikapi dengan bijak.

Perkembangan teknologi yang pesat memang membuka akses informasi tanpa batas, namun di sisi lain juga menghadirkan risiko baru bagi keutuhan bangsa. Polarisasi sosial semakin mudah terjadi, terutama ketika informasi disebarkan tanpa verifikasi dan hanya didasarkan pada emosi atau kepentingan tertentu.

Dalam kondisi tersebut, literasi digital menjadi kunci utama. Masyarakat dituntut untuk memiliki kemampuan menyaring informasi sebelum membagikannya. Prinsip “saring sebelum sharing” bukan sekadar imbauan, tetapi menjadi kebutuhan penting untuk menjaga ruang digital tetap sehat dan tidak memecah belah.

Selain itu, nilai-nilai kebangsaan seperti Pancasila harus terus menjadi landasan dalam berinteraksi di dunia maya. Keberagaman yang dimiliki Indonesia harus dirawat, bukan justru dipertentangkan melalui narasi yang memperkeruh suasana.

Ancaman di era digital tidak lagi berbentuk fisik semata, melainkan juga berupa disinformasi, radikalisme, dan konflik sosial berbasis opini. Karena itu, persatuan menjadi benteng utama dalam menjaga stabilitas nasional di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.

Mahasiswa Soroti Ancaman Disinformasi

Kesadaran akan pentingnya persatuan ini juga disuarakan oleh sejumlah pimpinan organisasi mahasiswa dalam forum Konsolidasi dan Diskusi Kebangsaan bertajuk “Merawat Persatuan, Menjaga Indonesia: Suara Pemuda di Tengah Krisis Global”.

Forum tersebut mempertemukan berbagai elemen mahasiswa lintas organisasi untuk membahas peran strategis generasi muda dalam menjaga keutuhan bangsa di tengah dinamika global dan derasnya arus informasi digital.

Bendahara Umum Presidium Nasional Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU), Tirta Gangga Listiawan, menekankan bahwa mahasiswa tidak boleh sekadar mengikuti isu yang sedang viral tanpa memahami substansi yang sebenarnya.

“Mahasiswa harus memahami posisi Undang-Undang Dasar sebagai norma dasar. Jangan sampai ikut menggiring opini tanpa memahami mekanisme konstitusi yang benar,” ujarnya.

Literasi Politik dan Hukum Jadi Kunci

Menurut Tirta, pemahaman terhadap aspek hukum dan politik sangat penting agar mahasiswa tidak mudah terjebak dalam narasi yang menyesatkan. Ia juga mengingatkan bahwa terganggunya persatuan dapat berdampak luas terhadap berbagai sektor.

“Kalau persatuan terganggu, dampaknya ke mana-mana—investasi menurun, ekonomi terganggu, hingga stabilitas negara terancam,” tegasnya.

Hal senada disampaikan Koordinator Pusat BEM SI, Muzammil Ihsan, yang menilai kondisi geopolitik global saat ini turut memengaruhi situasi dalam negeri.

“Geopolitik dunia sangat berdampak pada kita, termasuk potensi kenaikan harga kebutuhan seperti BBM. Mahasiswa harus mampu menjelaskan ini ke masyarakat, namun tetap kritis terhadap kebijakan,” jelasnya.

Ia juga menyoroti maraknya disinformasi di media sosial yang kerap memicu perpecahan di kalangan mahasiswa.

“Jangan sampai kita terpecah hanya karena narasi yang tidak jelas. Kita harus verifikasi setiap informasi,” katanya.

Persatuan Bukan Sekadar Slogan

Sementara itu, Koordinator Nasional BEM PTMAI, Yogi Syahputra Alaydrus, menegaskan bahwa persatuan harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan hanya menjadi jargon.

“Persatuan itu bukan sekadar berkumpul, tapi bagaimana kita menjaga kesatuan berdasarkan konstitusi,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya sikap kritis yang tetap objektif dalam melihat kebijakan pemerintah, termasuk dalam konteks pemerataan pembangunan.

“Kebijakan adalah alat untuk menciptakan kesejahteraan. Maka kita harus kritis, tapi juga objektif melihat konteksnya,” jelasnya.

Para narasumber sepakat bahwa kekuatan utama mahasiswa terletak pada persatuan dan kemampuan berpikir kritis. Tanpa dua hal tersebut, gerakan mahasiswa dinilai akan mudah terpecah dan kehilangan arah.

“Kalau kita bersatu, kita kuat. Tapi kalau terpecah, sulit memperjuangkan kepentingan rakyat,” pungkas Muzammil. (nsp)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

00:27
02:11
05:02
04:48
05:37
05:30

Viral